PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun, dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah proses transformasi bisnis yang terus berjalan.
Di saat yang sama, normalized net income Telkom mencapai Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen, sedangkan EBITDA konsolidasi tercatat Rp72,2 triliun. Kinerja itu ikut mendorong total shareholder return sebesar 35,7 persen, yang terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.
Transformasi Telkom Menguat
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, Telkom menata arah bisnis secara lebih terstruktur untuk memperkuat perannya sebagai penggerak ekosistem digital nasional.
Strategi tersebut dijalankan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan dan memperbaiki fondasi bisnis. Di tengah tekanan makroekonomi dan tantangan industri telekomunikasi, Telkom memilih memperkuat model usaha, produk, dan layanan.
Capaian kinerja juga ditopang kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham. Perseroan menerapkan payout ratio 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024 dan masih menjalankan program share buyback bernilai maksimal Rp3 triliun hingga Mei 2026.
Empat Pilar TLKM 30
Melalui TLKM 30, Telkom menempatkan empat pilar sebagai kerangka utama transformasi. Pilar pertama adalah Operational and Service Excellence yang menekankan tata kelola, efisiensi proses, budaya kerja unggul, dan peningkatan kualitas layanan.
Pilar kedua adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar kontribusinya lebih optimal. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat daya saing pada bisnis inti telekomunikasi dan digital.
Pilar ketiga adalah Unlock Value, yang difokuskan pada penguatan bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Pilar keempat adalah Modus-operandi shift, yaitu perubahan dari operating holding menjadi strategic holding melalui delayering di empat segmen OpCo.
Kinerja Segmen Bisnis
Segmen B2C masih menjadi penopang utama pendapatan perseroan melalui layanan mobile dan fixed broadband. Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun, dengan trafik data naik 15 persen secara tahunan.
Di segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup mencatat pendapatan Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang bisnis data center dan ekspansi jaringan fiber yang terus diperluas di berbagai wilayah.
Untuk segmen Wholesale dan International Service, perseroan membukukan pendapatan Rp10,7 triliun. Sementara pada segmen B2B ICT, pendapatan mencapai Rp15,3 triliun yang berasal dari konektivitas, managed solution, dan layanan digital.
Belanja Modal dan Prospek
Sepanjang 2025, TelkomGroup merealisasikan belanja modal sebesar Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebesar 93 persen dana investasi itu dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International.
Perseroan juga melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset dari Danantara Indonesia. Penyesuaian itu membuat laba bersih terkontraksi 9,5 persen secara tahunan akibat percepatan depresiasi dan diikuti restatement laporan keuangan 2023 serta 2024.
Dian menegaskan Telkom memasuki fase penting untuk melanjutkan akselerasi transformasi pada 2026. Dengan disiplin operasional dan arah bisnis yang lebih terstruktur, perseroan menargetkan kinerja yang semakin solid dan berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.
