Vanilla Hijab menyoroti beban biaya marketplace yang kian memberatkan pelaku usaha lokal, terutama penjual UMKM yang bergantung pada kanal digital untuk menjangkau konsumen. Kebijakan potongan layanan, promosi otomatis, dan biaya tambahan lain dinilai terus menggerus margin keuntungan di tengah kenaikan harga bahan baku.
Keluhan itu disampaikan Founder Vanilla Hijab, Atina Maulina, saat ditemui di Jakarta Selatan, baru-baru ini. Ia menilai kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus lebih waspada, sekaligus memaksa mereka menyesuaikan strategi harga, produksi, dan nilai tambah produk agar tetap bertahan.
Marketplace dan beban seller
Atina menjelaskan bahwa biaya layanan di marketplace terus naik secara sepihak, sementara penjual tetap harus memikul beban promo yang sulit dihindari. Kondisi itu membuat ruang gerak pelaku usaha lokal semakin sempit, terutama bagi brand yang masih mengandalkan volume penjualan harian. Ia menyebut situasi tersebut sebagai tekanan serius bagi keberlanjutan bisnis UMKM.
Menurut dia, beban operasional tidak hanya datang dari potongan komisi, tetapi juga dari skema gratis ongkir yang ikut dibebankan kepada penjual. Di saat yang sama, harga bahan baku juga mengalami kenaikan. Pasar pun disebut sulit menerima penyesuaian harga yang terlalu tinggi.
Vanilla Hijab kemudian memilih menaikkan harga produk secara bertahap agar tidak mengejutkan konsumen. Sebagai contoh, harga produk dinaikkan dari sekitar Rp80.000 menjadi Rp95.000. Langkah itu diambil bersamaan dengan pengendalian volume produksi massal agar respons pasar tetap terukur.
Atina menilai penyesuaian tersebut lebih aman dibandingkan memangkas harga secara agresif. Menurutnya, strategi banting harga justru berisiko merusak kesehatan bisnis dalam jangka panjang. Karena itu, perusahaan lebih memilih menjaga keseimbangan antara daya beli konsumen dan kelangsungan usaha.
Strategi nilai tambah produk
Untuk tetap kompetitif, Vanilla Hijab tidak hanya mengandalkan harga, tetapi juga inovasi produk. Atina menyebut perusahaan berupaya menambah nilai pada produk agar konsumen merasa mendapatkan manfaat lebih. Pendekatan itu dinilai lebih relevan saat persaingan dengan produk impor siap pakai semakin ketat.
Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan adalah hijab instan dengan sistem magnet, sehingga tidak lagi memerlukan pentul. Selain itu, perusahaan juga mulai beralih ke kemasan reusable yang dinilai lebih ramah dan bernilai tambah. Perubahan ini diharapkan memperkuat persepsi kualitas di mata konsumen.
Atina menegaskan bahwa kenaikan harga masih dapat diterima jika disertai manfaat tambahan yang jelas. Dengan begitu, konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga pengalaman dan kepraktisan. Strategi ini menjadi pembeda penting di tengah kompetisi pasar yang semakin padat.
Ia menilai pelaku usaha lokal perlu terus berinovasi agar tidak terjebak perang harga. Menurut dia, harga murah belum tentu memberi keuntungan jika margin semakin tipis dan biaya operasional terus naik. Karena itu, penguatan value menjadi salah satu kunci untuk menjaga daya saing.
Risiko promosi otomatis
Di sisi lain, Atina mengungkap pengalaman kurang menyenangkan terkait kebijakan promosi otomatis di marketplace. Ia menyebut fitur seperti gratis ongkir dan kampanye lain kerap aktif sendiri tanpa pemberitahuan. Biaya dari fitur tersebut kemudian dibebankan kepada penjual.
Ia menambahkan, setelah pihaknya mengonfirmasi ke platform, alasan yang kerap diterima adalah bahwa fitur tersebut menyala otomatis. Menurut Atina, kondisi itu membuat seller harus rutin memeriksa laporan keuangan dan status promosi toko. Jika tidak teliti, penjual bisa menanggung beban biaya yang tidak direncanakan.
Masalah serupa, kata dia, juga terjadi pada fitur promosi lain seperti Live Extra. Atina meyakini persoalan ini tidak hanya dialami Vanilla Hijab, melainkan juga banyak penjual lain di Indonesia. Karena itu, ia menilai kewaspadaan administratif menjadi sangat penting di era perdagangan digital.
Ia bahkan menyoroti biaya tambahan yang muncul saat pembeli menggunakan paylater. Menurutnya, beban tersebut justru jatuh kepada seller, meski fasilitas itu dipakai oleh pembeli. Hal ini dinilai menambah tekanan baru bagi penjual yang sudah terbebani komisi dan biaya layanan.
Perlindungan UMKM digital
Selain persoalan biaya, Atina juga menyoroti lemahnya perlindungan terhadap penjual dalam kasus penipuan bermodus retur barang. Meski Vanilla Hijab belum pernah menjadi korban, ia mengaku prihatin dengan maraknya seller UMKM yang dirugikan. Kondisi itu dinilai menunjukkan masih longgarnya sistem pengawasan di ekosistem marketplace.
Atina berharap negara hadir lebih konkret untuk melindungi ekosistem digital. Ia mengingatkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 60 persen penopang ekonomi Indonesia. Sementara itu, sekitar 90 persen pasar mereka kini bergantung pada marketplace.
Menurut dia, pemerintah tidak cukup hanya fokus pada kebijakan makro ekonomi. Regulasi mikro yang adil juga dibutuhkan agar hubungan antara platform dan penjual lebih seimbang. Tanpa perlindungan yang memadai, pelaku usaha lokal berisiko semakin tertekan.
Atina menilai sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang kuat seperti sektor pariwisata atau energi. Akibatnya, penjual daring kerap bergerak sendiri dengan posisi tawar yang lemah. Ia berharap pemerintah segera menertibkan kebijakan internal marketplace demi keberlangsungan industri kreatif nasional.
