Nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat, memicu tekanan baru bagi pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah. Kenaikan kurs ini berdampak langsung pada biaya bahan baku, baik yang berasal dari dalam negeri maupun impor, sehingga margin usaha kian tertekan.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah menyampaikan proyeksi ekonomi jangka panjang dalam Rapat Paripurna DPR RI pada Rabu, 20 Mei 2026. Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027, dengan rupiah dipatok di rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Rupiah dan tekanan UMKM
Melemahnya rupiah ke level Rp17.700 per dolar AS menambah beban pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku. Kenaikan kurs membuat biaya produksi ikut terdorong naik, terutama pada sektor yang memiliki komponen impor. Kondisi ini paling cepat dirasakan oleh UMKM yang ruang geraknya terbatas.
Dampak pelemahan rupiah tidak hanya terlihat pada pembelian bahan baku luar negeri. Bahan lokal pun dapat ikut terkerek harganya karena rantai pasok di dalam negeri masih berkaitan dengan komponen impor. Akibatnya, pelaku usaha menghadapi kenaikan biaya dari berbagai sisi.
Bagi UMKM, tekanan tersebut dapat mengganggu arus kas dan strategi harga jual. Jika harga tidak disesuaikan, margin keuntungan berisiko tergerus. Namun, jika harga dinaikkan terlalu cepat, daya beli konsumen bisa melemah.
Situasi ini membuat banyak pelaku usaha harus lebih cermat membaca pasar. Mereka dituntut menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan kemampuan konsumen membeli produk. Dalam kondisi seperti ini, daya tahan bisnis menjadi penentu utama.
Target pemerintah 2027
Pemerintah menempatkan stabilitas ekonomi sebagai agenda penting untuk meredam gejolak yang muncul akibat pelemahan kurs. Dalam forum parlemen, Presiden Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi 2027 berada pada level 5,8 persen hingga 6,5 persen. Target tersebut disampaikan sebagai bagian dari arah kebijakan jangka panjang.
Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menetapkan sasaran nilai tukar rupiah di kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS pada 2027. Sasaran ini menunjukkan upaya menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global. Kebijakan fiskal yang prudent disebut menjadi salah satu pilar utama.
Presiden menegaskan strategi fiskal dan moneter harus mampu menjaga rupiah tetap stabil terhadap mata uang dunia. Pernyataan itu menekankan pentingnya sinergi antarotoritas ekonomi. Tanpa koordinasi yang kuat, target pertumbuhan dan stabilitas kurs akan sulit dicapai.
Proyeksi tersebut memberi sinyal bahwa pemerintah ingin menciptakan kepastian bagi dunia usaha. Kepastian nilai tukar akan membantu pelaku usaha merancang biaya dan harga dengan lebih terukur. Dalam jangka panjang, stabilitas ini diharapkan mendorong investasi dan konsumsi domestik.
Strategi bertahan Vanilla Hijab
Di tengah tekanan kurs, Vanilla Hijab memilih menyesuaikan harga secara bertahap agar bisnis tetap berjalan. Pendiri merek tersebut, Atina, menyebut langkah itu sebagai pilihan yang sulit, tetapi perlu dilakukan. Penyesuaian harga dianggap lebih aman dibandingkan perubahan besar secara mendadak.
Atina menjelaskan, kenaikan harga dilakukan pelan-pelan untuk menyesuaikan biaya produksi yang terus naik. Contoh yang diberikan adalah harga hijab yang semula Rp80.000 naik menjadi Rp95.000. Langkah itu diambil untuk menjaga keberlangsungan usaha tanpa mengejutkan konsumen.
Meski begitu, persaingan dengan produk impor menjadi tantangan tersendiri bagi merek lokal. Vanilla Hijab memproduksi barang secara penuh di dalam negeri, mulai dari bahan baku, penjahitan, hingga pengemasan. Struktur biaya tersebut membuat mereka tidak bisa menandingi harga produk white label yang datang dalam bentuk barang jadi dari luar negeri.
Atina menilai tantangan terbesar bagi UMKM yang benar-benar dibuat di Indonesia adalah biaya produksi yang lebih kompleks. Produk lokal harus melalui banyak tahapan proses, sehingga harga akhirnya lebih tinggi. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus mencari cara lain agar tetap kompetitif.
Inovasi jadi penopang daya saing
Selain menahan laju produksi, Vanilla Hijab juga menambah nilai pada produknya agar tetap menarik di mata konsumen. Strategi ini dijalankan dengan mengembangkan inovasi yang memberi manfaat baru. Dengan begitu, kenaikan harga tidak hanya dipandang sebagai beban tambahan.
Atina menilai konsumen akan lebih menerima harga baru jika mereka merasa memperoleh manfaat lebih. Dalam konteks ini, added value menjadi kunci untuk mempertahankan loyalitas pembeli. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibanding hanya mengandalkan citra merek.
Salah satu pengembangan yang sedang disiapkan adalah hijab tanpa pentul. Inovasi ini diharapkan memberi kemudahan bagi pengguna sekaligus menjadi pembeda di pasar. Nilai tambah seperti ini juga membantu produk lokal tampil lebih relevan.
Di tengah pelemahan rupiah, strategi adaptif menjadi kebutuhan bagi pelaku UMKM. Penyesuaian harga, pengendalian produksi, dan inovasi produk perlu berjalan beriringan. Dengan cara itu, usaha tetap memiliki ruang untuk bertahan di pasar yang semakin kompetitif.
