Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 04:28 WIB 2
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun, dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah tekanan makroekonomi dan perubahan industri telekomunikasi.

Kinerja tersebut ditopang EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun dengan margin 49,2 persen, serta total shareholder return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025. Manajemen menilai capaian itu mencerminkan respons positif pasar terhadap strategi transformasi, penguatan tata kelola, dan pengembalian nilai kepada pemegang saham.

Transformasi Telkom

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, Telkom memperkuat arah bisnis agar lebih terstruktur dan berdaya saing. Perseroan juga menargetkan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Pilar pertama strategi ini adalah Operational & Service Excellence yang menekankan tata kelola, disiplin organisasi, budaya kerja unggul, dan efisiensi proses. Pilar kedua adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar kontribusi bisnis lebih optimal. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat daya saing pada bisnis inti telekomunikasi dan digital.

Implementasi streamlining tercermin dari proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement. Divestasi penuh ditargetkan rampung pada akhir paruh pertama 2026. Perseroan menilai langkah tersebut juga berpotensi memperkuat arus dividen di masa depan.

Pilar ketiga adalah Unlock Value melalui penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Inisiatif ini diarahkan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan Return on Assets. Pilar keempat adalah perubahan menuju strategic holding melalui delayering agar fokus bisnis semakin tajam pada empat segmen Operating Company.

Kinerja Keuangan Telkom

Telkom membukukan normalized net income sebesar Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen. Sementara itu, normalized EBITDA tercatat Rp73,2 triliun dengan margin 49,9 persen. Perseroan menyatakan angka normalisasi mencerminkan kinerja operasional yang lebih representatif.

Di sisi lain, laba bersih mengalami kontraksi 9,5 persen secara tahunan akibat peningkatan beban percepatan depresiasi. Kondisi itu terjadi setelah Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset. Perseroan juga melakukan restatement laporan keuangan 2023 dan 2024.

Manajemen menegaskan penyesuaian tersebut dilakukan untuk meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan. Langkah ini juga dimaksudkan agar prinsip penentuan masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi lebih tepat. Telkom menilai kebijakan itu sejalan dengan praktik tata kelola yang transparan dan kehati-hatian dalam pengelolaan aset.

Selain itu, Telkom mencatat Total Shareholder Return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025. Angka tersebut terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Kinerja itu ditopang payout ratio 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024 dan program share buyback senilai maksimal Rp3 triliun.

Bisnis B2C Telkom

Segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband masih menjadi kontributor utama pendapatan perseroan. Telkomsel sebagai OpCo pada segmen ini membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun. Peningkatan trafik data menjadi penopang utama pertumbuhan layanan digital.

Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas mendorong kenaikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan. Average Revenue Per User juga menunjukkan pemulihan positif, terutama sejak paruh kedua 2025. Perseroan memperkirakan tren itu berlanjut secara bertahap seiring kompetisi industri yang lebih sehat.

Pada 2026, Telkomsel akan fokus menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran. Perusahaan juga memperkuat kualitas jaringan untuk menekan perpindahan pelanggan. Di saat yang sama, pengembangan ekosistem digital akan terus didorong agar layanan tetap relevan.

Ekspansi layanan internet rumah dijalankan secara lebih selektif dengan memperhatikan daya beli masyarakat. Telkom menempatkan efisiensi modal sebagai pertimbangan penting dalam ekspansi tersebut. Strategi ini diharapkan menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Bisnis Infrastruktur Telkom

Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional. Aset yang dimiliki mencakup backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi, data center, cloud, dan konektivitas satelit. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menjangkau wilayah blank spot dan area geografis yang menantang.

Pendapatan segmen B2B Infrastructure mencapai Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang bisnis data center dan ekspansi fiber. Di sisi data center, Telkom mengoperasikan fasilitas hyperscale di Cikarang dan Singapura, serta enterprise data center di beberapa kota besar.

Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower, Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun. Perusahaan ini mencatat net income margin 22,2 persen dan EBITDA margin 82,2 persen. Dengan 40.230 menara dan rasio penyewa 1,57 kali, Mitratel tetap menjadi pemain besar di Asia Tenggara.

Untuk segmen Wholesale & International Service, pendapatan tercatat Rp10,7 triliun. Melalui Telin, TelkomGroup telah terhubung dalam 27 sistem kabel laut internasional. Sementara itu, segmen B2B ICT membukukan pendapatan Rp15,3 triliun dari konektivitas, managed solution, dan digital.

Belanja modal TelkomGroup pada 2025 mencapai Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen belanja modal dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Perseroan menilai disiplin investasi menjadi kunci menjaga stabilitas kinerja dan menopang transformasi lanjutan pada 2026.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!