Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

Teknologi Moh. Royhan Nahado 23 Mei 2026 02:59 WIB 7
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan net income Rp17,8 triliun dengan net income margin 12,1 persen, di tengah tekanan makroekonomi dan perubahan industri telekomunikasi. Dari sisi profitabilitas, normalized net income tercatat Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen. EBITDA konsolidasi perseroan mencapai Rp72,2 triliun, sedangkan normalized EBITDA berada di level Rp73,2 triliun.

Capaian itu diikuti Total Shareholder Return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025. Angka tersebut berasal dari capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Kinerja ini mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi Telkom. Perseroan juga didukung kebijakan payout ratio 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024 dan program share buyback maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026.

Transformasi Telkom TLKM 30

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, Telkom menata arah bisnis secara lebih terstruktur untuk memperkuat posisinya sebagai penggerak ekosistem digital nasional. Strategi ini juga ditujukan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Menurut dia, langkah tersebut penting agar Telkom tetap kompetitif di tengah perubahan industri.

TLKM 30 dijalankan melalui empat pilar utama yang saling melengkapi. Pilar Operational & Service Excellence menekankan tata kelola, efisiensi proses, budaya kerja unggul, dan peningkatan kualitas layanan. Pilar Streamlining berfokus pada penataan portofolio non-core business agar kontribusi bisnis lebih optimal. Dengan pendekatan itu, perseroan ingin memperkuat daya saing pada bisnis inti telekomunikasi dan digital.

Implementasi strategi tersebut mulai terlihat dari divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah masuk tahap Conditional Sale and Purchase Agreement. Transaksi itu ditargetkan menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026. Pada saat yang sama, Telkom menyiapkan perubahan dari operating holding menjadi strategic holding. Perubahan ini diarahkan untuk memperjelas fokus bisnis pada empat segmen Operating Company, yaitu B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Kinerja Telkom di Segmen B2C

Segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband masih menjadi penyumbang utama pendapatan perseroan. Telkomsel sebagai Operating Company di segmen ini membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun pada tahun buku 2025. Kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas mendorong trafik data naik 15 persen secara tahunan. Pemulihan Average Revenue Per User juga mulai terlihat sejak paruh kedua 2025.

Telkom menilai pemulihan ARPU akan berlanjut secara bertahap seiring kompetisi industri yang lebih sehat. Pada 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan penguatan kualitas jaringan. Langkah itu ditujukan untuk menekan perpindahan pelanggan ke operator lain. Di sisi lain, ekspansi layanan internet rumah akan dilakukan secara lebih selektif agar pertumbuhan tetap sehat.

Perseroan juga menempatkan penguatan ekosistem digital sebagai bagian dari strategi mempertahankan relevansi layanan. Fokusnya tidak hanya pada pertumbuhan pelanggan, tetapi juga pada kualitas pengalaman pengguna. Telkom menilai pendekatan tersebut penting untuk menjaga daya saing di tengah perubahan perilaku konsumen. Dengan demikian, segmen B2C diharapkan tetap menjadi fondasi kuat bagi pendapatan grup.

B2B Telkom dan Investasi

Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional. Aset yang dimiliki meliputi backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi, data center, cloud, dan konektivitas satelit. Infrastruktur itu disiapkan untuk menjangkau wilayah blank spot dan daerah dengan tantangan geografis tinggi. Pendapatan segmen ini tercatat Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut ditopang bisnis data center dan ekspansi bisnis fiber. TelkomGroup mengoperasikan dua fasilitas hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, tiga fasilitas enterprise data center di Serpong, Surabaya, dan Sentul, serta dua fasilitas co-location di Singapura yang dikelola NeutraDC. Selain itu, terdapat 28 fasilitas edge data center NeuCentrIX dengan kapasitas lebih kecil. Infrastruktur ini disiapkan untuk mendekatkan layanan data center dan cloud kepada pengguna.

Di bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower, Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun. Perusahaan itu mencatat margin laba bersih 22,2 persen dan margin EBITDA 82,2 persen. Sementara pada bisnis Wholesale & International Service, Telkom membukukan pendapatan Rp10,7 triliun melalui Telin yang telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional. Pada segmen B2B ICT, perseroan mencatat pendapatan Rp15,3 triliun dari layanan konektivitas, managed solution, dan digital.

Akuntansi dan Belanja Modal Telkom

Telkom juga melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset dari Danantara Indonesia. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan, termasuk dalam penentuan masa manfaat dan klasifikasi aset. Penyesuaian tersebut berdampak pada kontraksi laba bersih sebesar 9,5 persen secara tahunan akibat peningkatan beban percepatan depresiasi. Perseroan juga melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024.

Manajemen menilai kebijakan itu memperkuat praktik tata kelola yang transparan dan prinsip kehati-hatian. Penyelarasan akuntansi tersebut juga sejalan dengan pilar pertama TLKM 30, yakni Operational and Service Excellence. Di sisi lain, kebijakan ini membantu perseroan menampilkan kondisi keuangan yang lebih akurat. Dengan begitu, kualitas pengambilan keputusan diharapkan semakin baik.

Sepanjang 2025, Telkom merealisasikan belanja modal sebesar Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen dana investasi dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya digunakan untuk mendukung pengembangan platform digital dengan tetap mengoptimalkan sinergi. Perseroan menegaskan akan melanjutkan transformasi secara disiplin agar kinerja tetap solid dan memberi manfaat bagi pemegang saham.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!