Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun di 2025

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 22 Mei 2026 22:45 WIB 5
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun di 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk membukukan pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga mencatat net income Rp17,8 triliun dengan margin 12,1 persen, di tengah agenda transformasi dan tekanan sektor telekomunikasi.

Kinerja Telkom turut ditopang normalized net income Rp22,7 triliun, normalized EBITDA Rp73,2 triliun, serta Total Shareholder Return atau TSR 35,7 persen sepanjang 2025. Capaian itu mencerminkan respons positif pasar atas strategi TLKM 30, kebijakan dividen, dan program buyback yang masih berjalan.

Transformasi Bisnis Telkom

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui TLKM 30, Telkom menata arah bisnis secara lebih terstruktur untuk memperkuat visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional.

Strategi tersebut disusun untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan. Telkom juga berupaya menjaga daya saing di tengah perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung cepat.

TLKM 30 bertumpu pada empat pilar utama yang mencakup efisiensi operasional, penataan portofolio, penguatan aset digital, dan perubahan model holding. Seluruh pilar itu diarahkan untuk memperkuat fokus bisnis serta mempercepat eksekusi transformasi.

Sejalan dengan agenda tersebut, Telkom menargetkan struktur perusahaan yang lebih lincah dan adaptif. Pendekatan ini diharapkan mendukung pertumbuhan yang lebih sehat, terukur, dan berkelanjutan.

Kinerja Keuangan Telkom

Sepanjang 2025, Telkom mencatat EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun dengan margin 49,2 persen. Pada saat yang sama, normalized EBITDA perseroan mencapai Rp73,2 triliun dengan margin 49,9 persen.

Perseroan juga membukukan normalized net income Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen. Namun, laba bersih turun 9,5 persen secara tahunan karena peningkatan beban percepatan depresiasi setelah penyesuaian kebijakan akuntansi.

Dalam kerangka pengembalian nilai kepada pemegang saham, Telkom mencatat TSR 35,7 persen. Angka tersebut terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.

Telkom juga menjalankan kebijakan payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024. Selain itu, program share buyback bernilai maksimal Rp3 triliun masih berlangsung hingga Mei 2026.

Langkah Efisiensi Telkom

Dalam pilar Operational and Service Excellence, Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi untuk meningkatkan akurasi laporan keuangan. Langkah ini juga ditujukan agar penentuan masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi lebih tepat.

Penyesuaian tersebut merupakan tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia. Telkom menyebut langkah ini memperkuat prinsip kehati-hatian, transparansi, dan disiplin pengelolaan aset.

Di sisi lain, perseroan menempuh streamlining dengan menata portofolio non-core business. Salah satu langkah nyata adalah proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah mencapai tahap Conditional Sale and Purchase Agreement atau CSPA.

Divestasi itu ditargetkan menuju penyelesaian penuh pada akhir paruh pertama 2026. Telkom menilai langkah tersebut dapat memperkuat efisiensi sekaligus mendukung arus dividen di masa mendatang.

Prospek Bisnis Digital Telkom

Segmen B2C tetap menjadi kontributor utama pendapatan, dengan Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun. Trafik data naik 15 persen secara tahunan seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital masyarakat.

Average Revenue Per User atau ARPU juga mulai pulih, terutama sejak paruh kedua 2025. Pada 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan peningkatan kualitas jaringan.

Di segmen B2B Infrastructure, pendapatan Telkom mencapai Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang data center dan ekspansi bisnis fiber, termasuk dukungan atas backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer.

Telkom juga mencatat pendapatan Rp10,7 triliun dari Wholesale & International Service serta Rp15,3 triliun dari B2B ICT. Pada 2025, belanja modal perseroan mencapai Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan, dengan 93 persen dialokasikan untuk perluasan infrastruktur utama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!