Target Rupiah Rp 17.500 pada 2027 Dinilai Realistis

Forex & Saham Gilang Nabaris 28 Mei 2026 18:16 WIB 2
Target Rupiah Rp 17.500 pada 2027 Dinilai Realistis

Target nilai tukar rupiah di level Rp 17.500 per dolar AS pada 2027 menjadi sorotan setelah disampaikan dalam pidato pemerintah pada Rapat Paripurna DPR mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027. Sejumlah ekonom menilai proyeksi tersebut masih realistis di tengah ketidakpastian global, meski ada pula yang menyebutnya belum mencerminkan penguatan rupiah yang berkelanjutan.

Perbedaan pandangan itu muncul karena pasar menilai arah rupiah sangat dipengaruhi suku bunga Amerika Serikat, geopolitik, arus modal asing, serta disiplin fiskal dalam negeri. Di sisi lain, pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis dinilai sebagian analis sebagai sinyal positif bahwa pemerintah mulai menjaga ruang fiskal dengan lebih hati-hati.

Prospek Rupiah 2027

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai target Rp 17.500 pada 2027 cukup realistis. Menurut dia, kondisi global yang masih penuh ketidakpastian membuat pemerintah cenderung memilih asumsi konservatif.

Ia menyebut ketidakpastian itu terutama berasal dari arah suku bunga The Fed, dinamika geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia. Karena itu, menurutnya, asumsi yang berhati-hati dapat memberi ruang antisipasi bagi APBN terhadap volatilitas eksternal.

Lukman menambahkan, target tersebut juga menunjukkan pemerintah belum melihat peluang penguatan rupiah secara agresif dalam waktu dekat. Meski demikian, ia menilai peluang penguatan tetap terbuka bila sentimen global membaik dan arus modal asing kembali masuk.

Menurutnya, harga komoditas yang solid juga dapat membantu menopang stabilitas rupiah. Dalam kondisi seperti itu, pasar cenderung merespons lebih positif terhadap aset Indonesia.

Disiplin Fiskal Jadi Sinyal

Lukman menilai keputusan memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis dapat dibaca sebagai sinyal positif bagi pasar. Investor, kata dia, cenderung menyukai pemerintah yang menunjukkan perhatian pada disiplin fiskal.

Ia menjelaskan, kepercayaan investor terhadap aset Indonesia bisa membaik jika pemerintah terlihat lebih berhati-hati terhadap defisit dan pembiayaan utang. Persepsi tersebut pada akhirnya dapat membantu menjaga stabilitas rupiah.

Pasar umumnya menilai kebijakan fiskal yang konsisten sebagai faktor penting dalam menjaga keyakinan terhadap ekonomi nasional. Karena itu, setiap langkah efisiensi anggaran berpotensi memberi dampak psikologis yang positif.

Namun, sinyal fiskal saja belum cukup untuk mengubah arah rupiah secara signifikan. Pasar tetap menunggu konsistensi kebijakan serta kejelasan strategi pertumbuhan ekonomi ke depan.

Keraguan Atas Target Rupiah

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, justru menilai target rupiah itu kurang realistis. Ia berpendapat pemerintah belum menunjukkan keseriusan untuk mengembalikan nilai rupiah ke level yang lebih kuat.

Menurut dia, belum ada kebijakan konkret yang dapat mendongkrak nilai tukar secara meyakinkan. Karena itu, ia memandang target tersebut masih jauh dari kondisi ideal.

Wijayanto juga menilai intervensi Kementerian Keuangan di pasar modal belum cukup untuk memulihkan stabilitas rupiah. Hal yang sama berlaku pada optimalisasi skema Bond Stabilization Fund.

Ia menegaskan bahwa kedua langkah tersebut lebih tepat dipandang sebagai upaya meredam volatilitas pasar keuangan. Faktor utama, menurutnya, tetap berada pada isu fiskal dan neraca pembayaran.

Restrukturisasi Ekonomi

Presiden Direktur Center For Banking Crisis, Achmad Deni Daruri, memiliki pandangan yang berbeda mengenai pelemahan rupiah. Ia menilai kondisi tersebut perlu dibaca sebagai proses restrukturisasi ekonomi nasional.

Menurut Deni, pelemahan dolar AS masih mungkin terjadi bila The Fed menurunkan suku bunga sesuai tekanan politik di Amerika Serikat. Dalam skenario itu, rupiah berpeluang kembali lebih stabil terhadap mata uang global.

Ia menyebut kondisi rupiah saat ini dapat menjadi momentum penyesuaian struktural. Penyesuaian itu dinilai dapat membuka ruang bagi ekspor, memperkuat industri domestik, dan menekan ketergantungan impor.

Deni menegaskan bahwa depresiasi rupiah tidak selalu mencerminkan pelemahan ekonomi. Menurut dia, restrukturisasi justru bisa membawa Indonesia menuju daya saing yang lebih tinggi jika diarahkan dengan tepat.

Fondasi Pertumbuhan Nasional

Deni juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen. Angka tersebut, menurutnya, dapat memberi kesan bahwa stabilitas ekonomi nasional masih terjaga.

Meski demikian, ia menilai fondasi pertumbuhan masih rapuh karena lebih banyak ditopang konsumsi pemerintah dan sektor hospitality. Kondisi itu membuat kualitas pertumbuhan belum sepenuhnya kuat dari sisi struktur ekonomi.

Ia menambahkan, transformasi struktural sejauh ini belum terlihat nyata dalam skala yang meyakinkan. Jika tidak segera diarahkan, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap.

Karena itu, Deni menilai pembenahan fundamental menjadi kunci agar rupiah tidak hanya stabil sesaat. Langkah tersebut juga penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!