Target Rupiah 2027 Dinilai Realistis di Tengah Ketidakpastian

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 20:33 WIB 7
Target Rupiah 2027 Dinilai Realistis di Tengah Ketidakpastian

Pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.500 per dolar AS pada 2027 dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN Tahun Anggaran 2027 di DPR. Sejumlah ekonom menilai target tersebut masih berada dalam batas realistis, meski arah rupiah tetap dipengaruhi ketidakpastian global, disiplin fiskal, dan arus modal asing.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan target itu cenderung konservatif dan disusun untuk menjaga ruang aman bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Di sisi lain, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, justru menilai target itu belum didukung kebijakan yang cukup kuat untuk memperbaiki nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.

Rupiah dan target pemerintah

Lukman menilai target Rp 17.500 per dolar AS pada 2027 masih realistis jika melihat kondisi global yang belum stabil. Menurutnya, suku bunga Amerika Serikat, geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia masih menjadi faktor utama yang menekan pasar keuangan.

Ia menyebut pemerintah tampak memilih asumsi yang lebih konservatif agar APBN tetap memiliki ruang antisipasi. Dengan cara itu, pemerintah bisa mengurangi risiko ketika volatilitas eksternal meningkat dan tekanan terhadap rupiah kembali membesar.

Menurut Lukman, sikap hati-hati tersebut juga menunjukkan pemerintah belum melihat peluang penguatan rupiah yang agresif dalam waktu dekat. Meski begitu, ruang penguatan tetap terbuka apabila sentimen global membaik dan arus modal asing kembali masuk.

Ia menambahkan, stabilnya harga komoditas juga dapat membantu memperkuat posisi rupiah di pasar. Dalam pandangannya, target yang dipasang pemerintah lebih tepat dibaca sebagai upaya menjaga keseimbangan, bukan sekadar memasang angka yang ambisius.

Disiplin fiskal jadi sinyal

Lukman menilai pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis memberi sinyal positif bagi pasar. Investor, kata dia, cenderung menilai pemerintah mulai menempatkan disiplin fiskal sebagai prioritas.

Perhatian terhadap defisit dan pembiayaan utang dinilai dapat memperbaiki persepsi terhadap aset Indonesia. Jika kepercayaan investor meningkat, stabilitas rupiah juga berpotensi ikut menguat dalam jangka menengah.

Ia menjelaskan bahwa pasar biasanya merespons positif ketika pemerintah terlihat lebih berhati-hati dalam mengelola belanja negara. Sikap itu dianggap penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan fiskal di tengah tekanan global yang belum mereda.

Menurutnya, kestabilan rupiah tidak hanya ditentukan oleh intervensi sesaat, tetapi juga oleh kejelasan arah kebijakan ekonomi. Karena itu, konsistensi fiskal akan menjadi faktor yang terus diperhatikan pelaku pasar.

Keraguan atas target

Berbeda dengan Lukman, Wijayanto Samirin menilai target rupiah tersebut belum realistis. Ia berpendapat pemerintah belum menunjukkan keseriusan untuk mengembalikan rupiah ke level yang lebih kuat secara berkelanjutan.

Menurutnya, target itu tidak cukup didukung oleh kebijakan konkret yang mampu mendorong penguatan nilai tukar. Tanpa langkah yang lebih tegas, rupiah dinilai masih rentan bergerak dalam tekanan pasar.

Wijayanto juga menyebut intervensi Kementerian Keuangan di pasar dan optimalisasi skema Bond Stabilization Fund belum cukup untuk memulihkan stabilitas rupiah. Kedua langkah itu, menurut dia, lebih banyak berfungsi untuk meredam gejolak jangka pendek.

Ia menegaskan bahwa masalah utama rupiah terletak pada isu fiskal dan neraca pembayaran. Selama dua fondasi itu belum membaik, target penguatan rupiah akan sulit tercapai secara meyakinkan.

Rupiah dan restrukturisasi

Presiden Direktur Center For Banking Crisis, Achmad Deni Daruri, memandang pelemahan rupiah sebagai bagian dari restrukturisasi ekonomi nasional. Menurut dia, kondisi tersebut tidak selalu identik dengan kemunduran ekonomi.

Deni meyakini rupiah masih memiliki peluang untuk kembali stabil terhadap mata uang global. Ia menilai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga akan sangat memengaruhi ruang gerak mata uang negara berkembang.

Ia mengatakan pelemahan dolar AS dapat terjadi jika kebijakan moneter Amerika Serikat melunak. Dalam situasi itu, rupiah berpeluang memperoleh napas tambahan untuk memperbaiki posisinya di pasar valuta asing.

Deni menambahkan, penyesuaian struktural justru bisa membuka ruang bagi ekspor, memperkuat industri domestik, dan menekan ketergantungan impor. Dengan demikian, depresiasi rupiah menurutnya harus dibaca sebagai momentum pembenahan, bukan sekadar sinyal pelemahan.

Risiko ekonomi jangka menengah

Deni menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen memang memberi kesan stabil. Namun ia mengingatkan bahwa fondasi pertumbuhan tersebut masih rapuh karena lebih banyak ditopang konsumsi pemerintah dan sektor hospitality.

Ia menyebut transformasi struktural belum terlihat secara nyata dalam mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Jika kondisi ini berlanjut, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah.

Menurut dia, penguatan rupiah harus dilihat sebagai bagian dari pembenahan ekonomi yang lebih luas. Tanpa perubahan struktur produksi dan ekspor, stabilitas kurs hanya akan bertahan dalam waktu terbatas.

Karena itu, pasar akan terus mencermati konsistensi pemerintah dalam menjaga fiskal, memperbaiki neraca pembayaran, dan memperluas basis ekspor. Kombinasi faktor tersebut dinilai akan menentukan apakah target rupiah 2027 menjadi realistis atau justru terlalu ambisius.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!