Stres dan emosi yang memuncak tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat mengganggu pencernaan. Kondisi ini kerap membuat perut terasa kembung, begah, bahkan tidak nyaman meski pola makan seseorang tidak berubah.
Para ahli menjelaskan bahwa usus memiliki hubungan erat dengan sistem saraf, sehingga reaksi emosional dapat tercermin pada kerja saluran cerna. Saat tubuh berada dalam tekanan, sistem pencernaan bisa melambat dan memicu penumpukan gas di perut.
Stres dan pencernaan
Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut usus seperti otak kedua manusia. Menurut dia, sistem pencernaan sangat dipengaruhi oleh sistem saraf dan kondisi emosional seseorang.
Hubungan itu membuat tubuh sering memberi respons fisik ketika seseorang sedang tertekan. Salah satu respons yang paling umum adalah rasa kembung dan begah yang muncul tanpa sebab makanan yang jelas.
Dalam penjelasannya, Ditkoff menekankan bahwa gangguan itu bukan hal aneh. Hampir semua orang pernah mengalaminya, meski bentuk reaksinya bisa berbeda pada tiap individu.
Respons tubuh saat tertekan
Sistem saraf enterik bekerja di saluran pencernaan dan menjadi bagian dari sistem saraf otonom. Sistem ini mengatur proses pencernaan sekaligus menjadi penghubung antara saraf dan fungsi usus.
Melissa Groves Azzaro, RDN, menjelaskan bahwa tubuh manusia pada dasarnya bergerak dalam dua kondisi utama. Kondisi itu adalah fight-or-flight dan rest-and-digest.
Saat ancaman atau tekanan muncul, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol, epinefrin, dan norepinefrin. Hormon tersebut mempersiapkan tubuh untuk menghadapi bahaya, tetapi di saat yang sama menekan kerja pencernaan.
Kembung akibat aliran darah
Ketika tubuh masuk ke mode siaga, aliran darah dialihkan dari sistem pencernaan ke otot-otot. Perubahan ini membuat tubuh lebih siap bergerak, tetapi mengurangi kemampuan usus untuk bekerja normal.
Kontraksi otot pencernaan ikut menurun, begitu juga produksi sekresi pencernaan. Akibatnya, makanan tidak dipecah secara optimal dan bertahan lebih lama di dalam perut.
Menurut Ditkoff, makanan yang terlalu lama berada di saluran cerna akan lebih mudah memerangkap gas. Kondisi itulah yang kemudian memicu perut terasa kembung.
Meredakan stres dan kembung
Untuk membantu meredakan kembung akibat stres, tubuh perlu dikembalikan ke kondisi rest-and-digest. Dalam keadaan ini, hormon stres menurun dan aliran darah kembali bekerja secara lebih seimbang.
Ditkoff menyarankan makan dalam kondisi yang tenang agar pencernaan dapat bekerja lebih baik. Namun, melewatkan makan saat sedang stres juga bukan pilihan yang dianjurkan karena justru dapat memperburuk kondisi tubuh.
Setiap orang bisa merasakan dampak stres secara berbeda, mulai dari mual, diare, kram perut, hingga dorongan makan berlebihan. Jika keluhan pencernaan sering kambuh saat stres meningkat, evaluasi pola hidup dan konsultasi medis dapat menjadi langkah yang tepat.
