Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Hari Perempuan

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 00:15 WIB 3
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Hari Perempuan

Brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR dalam peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 melalui gelaran bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini menghadirkan pengungsi wanita dari berbagai negara sebagai model sekaligus seniman, dengan tujuan menampilkan kekuatan, bakat, dan ketangguhan mereka di panggung publik.

Kegiatan yang digelar oleh Mishka Project ini menampilkan peserta dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, Afghanistan, serta India. Melalui peragaan busana dan pameran karya, acara tersebut mengangkat narasi baru tentang pengungsi wanita yang kerap dihadapkan pada stereotip dan keterbatasan kesempatan.

Makaila Haifa Angkat Fashion

Makaila Haifa memilih fashion sebagai medium untuk menyuarakan penghargaan terhadap perempuan yang mampu bertahan di tengah situasi sulit. Kolaborasi dengan UNHCR memberi ruang bagi para pengungsi wanita untuk tampil bukan sebagai korban, melainkan sebagai pribadi yang berkarya.

Konsep ini sejalan dengan tema Hari Perempuan Internasional 2026 yang menekankan pentingnya ketahanan dan pemberdayaan perempuan. Dalam konteks itu, panggung mode menjadi sarana untuk membangun empati sekaligus membuka ruang apresiasi yang lebih luas.

Trunk show bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving menjadi bentuk ekspresi yang menggabungkan busana, seni, dan pesan sosial. Pendekatan ini membuat acara tersebut tidak hanya menampilkan koleksi, tetapi juga menghadirkan cerita personal para pesertanya.

Keberadaan brand lokal dalam agenda ini menunjukkan bahwa industri fashion dapat berperan lebih jauh dari sekadar komersial. Fashion juga dapat menjadi jembatan yang menghubungkan nilai kemanusiaan dengan kreativitas yang relevan bagi publik.

Mishka Project Tampilkan Pengungsi

Melalui Mishka Project, lima wanita pengungsi tampil dalam peragaan busana bersama Revathi Prabaharan, peraga busana asal India. Mereka berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, serta telah mencari suaka di Indonesia.

Partisipasi mereka memberi warna berbeda pada pertunjukan yang mengusung semangat keberagaman. Setiap penampilan menegaskan bahwa pengalaman hidup yang berat tidak menghalangi seseorang untuk tetap berkarya dan tampil percaya diri.

Para model pengungsi tersebut hadir dengan identitas yang mereka bawa masing-masing, sehingga panggung terasa lebih personal dan autentik. Hal ini memperkuat pesan bahwa busana dapat menjadi bahasa universal yang menyatukan pengalaman lintas negara.

Kolaborasi ini juga memperlihatkan bagaimana ruang kreatif dapat dimanfaatkan untuk mendorong inklusi. Di hadapan publik, para peserta mendapatkan kesempatan yang setara untuk menunjukkan potensi terbaik mereka.

Lukisan Busana Jadi Sorotan

Selain peragaan busana, acara ini menampilkan karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Pameran tersebut menambah dimensi artistik yang membuat keseluruhan acara terasa lebih kaya dan berlapis.

Karya-karya itu menjadi bukti bahwa pengungsi perempuan memiliki ruang ekspresi yang luas di luar panggung mode. Seni lukis busana menghadirkan cara lain untuk menyampaikan pengalaman, harapan, dan identitas personal.

Dengan memadukan seni dan fashion, acara ini menegaskan bahwa kreativitas dapat lahir dari situasi yang paling menantang sekalipun. Pendekatan tersebut sekaligus membuka mata publik terhadap potensi yang kerap terabaikan.

Gelaran ini memperlihatkan bahwa karya seni bukan hanya soal estetika, tetapi juga medium untuk menyampaikan pesan sosial. Dalam konteks Hari Perempuan Internasional, pesan itu menjadi semakin kuat karena berkaitan langsung dengan pemberdayaan perempuan.

Pesan Kuat Bagi Publik

Inisiatif Makaila Haifa bersama UNHCR memberi contoh bahwa industri fashion dapat ikut mendorong perubahan sosial yang positif. Melalui panggung yang inklusif, para perempuan pengungsi memperoleh ruang untuk didengar dan diapresiasi.

Acara ini juga mengingatkan publik bahwa setiap perempuan memiliki cerita perjuangan yang layak dihargai. Ketika cerita itu dibawa ke ruang terbuka, publik dapat melihat keberanian dan ketangguhan dari sudut pandang yang lebih manusiawi.

Bagi industri modest fashion, kolaborasi seperti ini memperluas makna produk menjadi bagian dari gerakan sosial. Nilai tersebut membuat fashion tidak hanya relevan secara tren, tetapi juga kuat secara pesan.

Dengan mengusung tema ketahanan perempuan, Mishka Project menempatkan fashion sebagai panggung yang memuliakan martabat manusia. Pesan itu menjadi inti dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 yang diangkat dalam acara tersebut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!