Stres Bisa Memicu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 04:01 WIB 3
Stres Bisa Memicu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Stres dan emosi yang memuncak tidak hanya mengganggu pikiran, tetapi juga dapat memicu keluhan fisik seperti perut kembung dan begah. Kondisi ini terjadi ketika sistem pencernaan ikut bereaksi, meski pola makan seseorang tidak berubah.

Menurut para ahli, usus memiliki hubungan erat dengan sistem saraf sehingga perubahan emosi dapat berdampak langsung pada fungsi pencernaan. Saat tubuh berada dalam tekanan, proses cerna bisa melambat dan memerangkap gas lebih lama di saluran pencernaan.

Stres dan Kembung

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut usus sebagai otak kedua manusia. Ia menjelaskan bahwa sistem pencernaan sangat dipengaruhi oleh sistem saraf dan kondisi emosional seseorang.

Ketika stres meningkat, tubuh dapat masuk ke mode fight-or-flight sebagai respons terhadap ancaman. Pada fase ini, energi tubuh diprioritaskan untuk bertahan, bukan untuk mencerna makanan secara optimal.

Respons tersebut memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol, adrenalin, dan noradrenalin dari kelenjar adrenal. Hormon-hormon ini membantu tubuh bereaksi cepat, tetapi sekaligus dapat mengganggu kerja saluran cerna.

Akibatnya, aliran darah lebih banyak dialihkan ke otot, sementara kontraksi dan sekresi pencernaan menurun. Proses ini membuat makanan lebih lama berada di perut dan berisiko menimbulkan gas berlebih.

Cara Kerja Sistem Saraf

Sistem saraf enterik berperan penting dalam mengatur kerja saluran pencernaan. Sistem ini menjadi penghubung antara kondisi saraf dan fungsi cerna yang terjadi di dalam tubuh.

Melissa Groves Azzaro, RDN, menyebut manusia umumnya berada dalam dua kondisi sistem saraf, yaitu fight-or-flight dan rest-and-digest. Kondisi pertama berkaitan dengan kesiagaan, sedangkan kondisi kedua mendukung pencernaan yang lebih tenang.

Ketika tubuh berada dalam kondisi waspada, fungsi pencernaan tidak berjalan dengan ritme normal. Otot-otot saluran cerna melambat dan tubuh memusatkan sumber daya pada respons darurat.

Dalam situasi itu, sistem pencernaan seolah berhenti bekerja sementara. Karena itulah, rasa begah dan kembung kerap muncul setelah tubuh berada di bawah tekanan emosional.

Dampak pada Pencernaan

Jika makanan tidak terurai dengan baik, sisa makanan akan bertahan lebih lama di dalam saluran pencernaan. Kondisi ini membuat gas lebih mudah terperangkap dan memunculkan rasa tidak nyaman di perut.

Ditkoff menjelaskan, respons tubuh terhadap stres tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang mengalami kembung, sementara yang lain justru merasakan kram perut atau diare.

Pada sebagian kasus, stres juga dapat memperburuk gangguan pencernaan kronis yang sebelumnya sudah ada. Saat tekanan emosional meningkat, keluhan tersebut bisa kambuh dan terasa lebih berat.

Reaksi tubuh saat stres merupakan hal yang umum dan dialami hampir semua orang. Bedanya, bentuk reaksinya bisa berbeda, mulai dari nafsu makan meningkat hingga muncul rasa mual.

Meredakan Kembung

Untuk mengurangi kembung akibat stres, tubuh perlu dikembalikan ke fase rest-and-digest. Pada kondisi ini, hormon stres tidak melonjak dan aliran darah kembali lebih seimbang ke seluruh tubuh.

Ditkoff menyarankan agar seseorang makan dalam kondisi yang tenang. Menurut dia, pencernaan bekerja lebih baik ketika tubuh tidak sedang berada dalam tekanan.

Meski begitu, melewatkan makan saat stres juga tidak disarankan. Kebiasaan tersebut justru dapat membuat tubuh semakin tidak seimbang dan memicu keluhan lain pada pencernaan.

Menjaga ketenangan, mengatur napas, dan memberi jeda sebelum makan dapat membantu tubuh kembali stabil. Dengan cara itu, risiko kembung dan begah karena stres bisa ditekan secara lebih efektif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!