Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Kalori

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 05:18 WIB 3
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Kalori

Ubi cream cheese belakangan ramai diburu pengunjung di pusat perbelanjaan dan media sosial. Di Kabupaten Tangerang, antrean pembeli terlihat mengular karena camilan ini dianggap praktis, lezat, dan lebih sehat dibanding dessert manis lain.

Namun, penilaian tersebut tidak sepenuhnya tepat. Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa tambahan topping tinggi lemak dan gula dapat membuat kandungan kalorinya meningkat cukup signifikan.

Ubi Cream Cheese Viral

Popularitas ubi cream cheese dipicu tren kuliner yang cepat menyebar di media sosial. Banyak orang tertarik karena makanan ini memadukan bahan tradisional dengan sentuhan modern yang terlihat menarik.

Di sejumlah pusat perbelanjaan, minat konsumen terlihat tinggi dan memunculkan antrean panjang. Kondisi itu menunjukkan bahwa daya tarik visual dan rekomendasi warganet masih menjadi faktor penting dalam pilihan camilan.

Selain rasa, konsumen juga melihat bahan dasar ubi sebagai nilai tambah. Persepsi tersebut membuat banyak orang menganggap dessert ini lebih ringan dan lebih baik untuk dikonsumsi.

Kandungan Gizi Ubi Cream Cheese

Menurut dr Raissa, ubi memang tergolong bahan makanan yang sehat. Ubi mengandung karbohidrat kompleks dan serat, sehingga lebih bernilai dibandingkan camilan berbasis tepung olahan.

Meski demikian, manfaat itu tidak otomatis bertahan setelah diolah menjadi dessert kekinian. Saat ditambahkan cream cheese dan pemanis lain, profil gizinya dapat berubah secara drastis.

Karena itu, masyarakat perlu melihat keseluruhan komposisi, bukan hanya bahan utama. Satu porsi bisa saja tampak sederhana, tetapi kandungan energi totalnya tetap perlu diperhitungkan.

Risiko Topping Berlebihan

Topping seperti cream cheese, saus manis, dan tambahan krim dapat menaikkan kalori dengan cepat. Lemak dan gula yang masuk ke tubuh juga ikut bertambah ketika porsinya tidak dibatasi.

dr Raissa menilai, kondisi itu sering membuat masyarakat merasa aman karena menganggap makanan berbahan ubi pasti sehat. Padahal, bila topping digunakan berlebihan, camilan tersebut bisa setara dengan dessert lain yang tinggi kalori.

Risiko ini menjadi lebih besar ketika konsumen mengonsumsinya tanpa memperhatikan frekuensi. Kebiasaan makan berlebihan dengan alasan makanan tersebut sehat dapat memicu asupan energi berlebih.

Bijak Menyantap Ubi Cream Cheese

Para konsumen disarankan tetap cermat dalam memilih camilan viral. Mengonsumsi ubi cream cheese sesekali masih dapat dilakukan, selama porsinya terkontrol dan tidak menjadi kebiasaan harian.

Memperhatikan kandungan gula, lemak, dan total kalori menjadi langkah penting. Dengan begitu, masyarakat tidak terjebak pada anggapan bahwa semua makanan berbahan alami otomatis lebih sehat.

Tren kuliner boleh diikuti, tetapi keseimbangan gizi tetap harus menjadi prioritas. Pilihan yang bijak akan membantu masyarakat menikmati makanan kekinian tanpa mengabaikan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!