Serat Daun Nanas Jadi Cuan, Alfiber Tembus Ekspor

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 09:34 WIB 2
Serat Daun Nanas Jadi Cuan, Alfiber Tembus Ekspor

Bagi sebagian besar petani, daun nanas selama ini hanya dianggap sisa panen yang tidak bernilai. Di tangan Alan Sahroni, limbah tersebut justru berubah menjadi peluang usaha yang menggerakkan ekonomi petani. Lewat Alfiber, ia mengolah daun nanas menjadi serat bernilai tinggi dan menembus pasar ekspor.

Serat daun nanas dari Alfiber digunakan sebagai bahan baku tekstil, fesyen, hingga kerajinan. Produk itu telah dikirim ke Singapura, Malaysia, Jerman, dan Jepang. Perjalanan bisnis ini bermula dari ide sederhana, lalu berkembang menjadi usaha yang bertahan hingga kini.

Serat Daun Nanas Bernilai Ekonomi

Alan melihat potensi besar dari tanaman nanas yang banyak tumbuh di Subang. Ia tidak hanya fokus pada buah, melainkan juga pada serat yang tersimpan di daun. Menurutnya, bagian yang kerap dibakar itu justru memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.

Setelah memahami karakter serat daun nanas, Alan menilai bahan tersebut cocok untuk berbagai kebutuhan industri. Seratnya kuat, serbaguna, dan bisa diolah menjadi bahan kain maupun produk kerajinan. Peluang ini kemudian menjadi dasar lahirnya Alfiber.

Minat Alan terhadap sektor ini berawal dari pendidikan di STT Tekstil Bandung. Saat mengikuti lomba business plan nasional pada 2013, ia mulai menyusun gagasan pengolahan daun nanas sebagai bahan baku. Ajang itu menjadi pintu masuk menuju pengembangan usaha yang lebih serius.

Kompetisi tersebut sekaligus menjadi syarat untuk mengambil ijazahnya, karena Alan merupakan penerima beasiswa dari Kementerian Perindustrian. Dari situ, idenya mendapat perhatian dan dukungan untuk diwujudkan. Proses itu menjadi titik awal lahirnya bisnis berbasis limbah pertanian.

Mesin Buatan Sendiri

Untuk mewujudkan gagasan itu, Alan membutuhkan mesin pengolah daun nanas menjadi serat. Karena belum ada produk serupa di pasaran, ia bersama dosennya merancang mesin dekortikator. Mesin tersebut kemudian menjadi inti proses produksi Alfiber.

Pengembangan mesin dilakukan secara bertahap hingga akhirnya terealisasi pada 2013. Alan menekankan bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Dengan alat tersebut, daun nanas dapat diproses menjadi serat yang siap digunakan.

Selain menjual serat siap olah, Alfiber juga menawarkan paket produksi lengkap. Paket itu mencakup mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin. Langkah tersebut memudahkan pelaku usaha kecil maupun institusi pendidikan yang ingin mempelajari proses pengolahan serat.

Permintaan mesin datang dari berbagai daerah, termasuk universitas yang membutuhkan unit mini untuk laboratorium. Model bisnis ini memperluas pasar Alfiber di luar penjualan bahan baku. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya menjual produk, tetapi juga teknologi pengolahannya.

Pemasaran Dari Nol

Pada awal produksi komersial, tantangan terbesar justru datang dari pasar. Serat daun nanas saat itu belum dikenal luas, sehingga banyak calon pembeli belum memahami manfaatnya. Alan kemudian membangun pemasaran dari nol dengan memanfaatkan blog gratis.

Strategi sederhana itu perlahan membuahkan hasil. Perhatian mulai datang dari akademisi, mahasiswa, hingga media nasional yang tertarik pada inovasi tersebut. Pemberitaan itu membantu memperluas pengenalan serat daun nanas ke publik.

Alan mengaku butuh waktu sekitar satu tahun untuk melihat perkembangan penjualan yang stabil. Produk baru biasanya memerlukan edukasi pasar, apalagi jika bahan bakunya belum umum digunakan. Karena itu, pemasaran menjadi pekerjaan yang menuntut ketekunan.

Meski awalnya berjalan lambat, pendekatan bertahap itu membuat Alfiber dikenal sebagai pelaku usaha berbasis inovasi. Dari limbah yang kerap terbuang, tercipta produk yang memiliki nilai tambah. Cerita ini menunjukkan bahwa peluang bisnis bisa lahir dari riset, keberanian, dan konsistensi.

Ekspor Hingga Negeri Singa

Perkembangan usaha Alfiber mencapai babak baru pada 2021. Di tengah pandemi COVID-19, perusahaan itu berhasil mengekspor serat daun nanas ke Singapura. Pengiriman dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan barang dan kebutuhan pembeli.

Alan menyebut total ekspor ke Negeri Singa tersebut mencapai 1,2 ton. Harga jualnya berada di kisaran Rp187 ribu per kilogram. Nilai itu menunjukkan bahwa serat daun nanas memiliki pasar dengan apresiasi tinggi.

Proses pengiriman saat pandemi tidak selalu mulus. Sebagian barang harus menunggu karantina sebelum bisa dikirim. Meski begitu, permintaan tetap berjalan dan transaksi tetap tercatat.

Kisah Alfiber memperlihatkan bahwa limbah pertanian dapat diubah menjadi komoditas ekspor. Dukungan teknologi, inovasi, dan pemasaran yang tepat menjadi kunci utama. Dari daun nanas yang semula dibakar, Alan berhasil menciptakan sumber cuan baru bagi petani dan pelaku usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!