Pemerintah baru menyerap Rp600 miliar dari target pembelian obligasi negara senilai Rp2 triliun per hari untuk intervensi pasar. Langkah ini dilakukan guna menahan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang masih bertahan di kisaran Rp17.700 per dolar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai serapan yang belum maksimal itu menunjukkan tekanan jual di pasar obligasi masih relatif kecil. Ia menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas harga bond melalui pengelolaan kas negara dan memantau perkembangan pasar dari hari ke hari.
Pasar Obligasi dan Rupiah
Pemerintah mulai masuk ke pasar obligasi sejak Kamis pekan lalu untuk menopang nilai tukar rupiah. Menurut Purbaya, intervensi tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah penguatan dolar AS.
Ia menyebut target pembelian obligasi negara sebesar Rp2 triliun per hari belum sepenuhnya terserap. Pada satu kesempatan, serapan yang masuk baru sekitar Rp600 miliar, sehingga pemerintah menilai tekanan jual belum terlalu besar.
Purbaya menilai kondisi itu masih bisa dikendalikan tanpa langkah yang lebih agresif. Karena itu, pemerintah belum melihat kebutuhan untuk memperluas intervensi secara besar-besaran.
Meski demikian, rupiah masih tertekan oleh penguatan dolar AS. Pada perdagangan Selasa sore, mata uang Negeri Paman Sam itu sempat bergerak di atas Rp17.705 per dolar.
Strategi Intervensi Pemerintah
Intervensi yang dilakukan saat ini masih berada dalam skema pengelolaan kas pemerintah atau cash management. Purbaya menyebut langkah tersebut menjadi tahap awal sebelum mempertimbangkan mekanisme yang lebih luas.
Ia menjelaskan, pemerintah belum mengaktifkan bond stabilization framework yang melibatkan pihak lain. Dalam skema itu, lembaga seperti PT Sarana Multi Infrastruktur atau SMI dapat ikut masuk ke pasar obligasi.
Menurut Purbaya, situasi pasar belum cukup parah untuk memerlukan dukungan tambahan dari framework tersebut. Karena itu, pemerintah masih memilih bertahan dengan langkah yang ada sembari memantau pergerakan pasar.
Purbaya juga menekankan bahwa pemerintah ingin memastikan harga bond tetap terkendali. Dengan kondisi yang masih relatif stabil, kebijakan lanjutan akan ditentukan berdasarkan perkembangan pasar berikutnya.
Tekanan Dolar Amerika
Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan rupiah dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan mata uang tersebut mendorong nilai tukar bergerak ke level Rp17.700-an per dolar.
Kondisi ini membuat pemerintah meningkatkan perhatian pada pasar obligasi sebagai salah satu penyangga stabilitas. Intervensi dilakukan agar gejolak di pasar keuangan tidak semakin dalam dan berdampak ke rupiah.
Purbaya menilai serapan yang belum penuh pada target Rp2 triliun menunjukkan minat jual di pasar tidak terlalu besar. Dari sisi pemerintah, hal itu memberi ruang untuk menjaga pasar tetap berada dalam kendali.
Meski begitu, tekanan dari penguatan dolar AS belum sepenuhnya mereda. Pemerintah pun masih menunggu arah pasar dalam beberapa waktu ke depan sebelum mengambil langkah tambahan.
Prospek Stabilitas Rupiah
Purbaya optimistis rupiah dapat kembali menguat dalam beberapa waktu mendatang. Ia menyampaikan keyakinan itu setelah melihat langkah intervensi yang sudah masuk ke pasar obligasi secara bertahap.
Menurutnya, kehadiran investor asing yang kembali masuk juga menjadi sinyal positif. Jika aliran dana berlanjut, pasar dinilai berpeluang lebih stabil dalam pekan-pekan mendatang.
Purbaya mengatakan pemerintah akan terus masuk ke pasar obligasi setiap hari. Targetnya, pembelian senilai Rp2 triliun per hari tetap dijalankan agar stabilitas terjaga.
Dengan strategi itu, pemerintah berharap rupiah tidak terus tertekan oleh penguatan dolar AS. Pasar keuangan pun diharapkan memperoleh kepastian yang lebih baik dalam waktu dekat.
