Satelit Nusantara Lima Resmi Beroperasi, Perkuat Internet Nasional

Teknologi Moh. Royhan Nahado 23 Mei 2026 05:55 WIB 7
Satelit Nusantara Lima Resmi Beroperasi, Perkuat Internet Nasional

Satelit Nusantara Lima resmi beroperasi dan diproyeksikan menjadi penopang utama layanan internet berbasis satelit di seluruh Indonesia. Peresmian ini berlangsung di Jakarta, Senin malam, dengan kehadiran Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, serta jajaran PSN.

Dengan kapasitas 160 Gbps, satelit ini diarahkan untuk memperluas pemerataan akses internet, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal atau 3T. PSN menegaskan, kehadiran Satelit Nusantara Lima menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian konektivitas nasional sekaligus membuka peluang layanan bagi kawasan ASEAN.

Satelit Nusantara Lima dan Konektivitas

Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso menyebut pengoperasian Satelit Nusantara Lima sebagai simbol penting bagi kemandirian nasional. Ia menegaskan bahwa satelit tersebut akan menjadi infrastruktur strategis untuk mendukung konektivitas digital Indonesia.

Adi menjelaskan, cakupan Satelit Nusantara Lima meliputi Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Menurut dia, kapasitas besar yang dimiliki satelit ini menunjukkan peningkatan kemampuan Indonesia dalam menghadirkan layanan komunikasi berbasis ruang angkasa.

PSN menilai, kebutuhan konektivitas yang andal di kawasan Asia Tenggara terus meningkat seiring dinamika global. Karena itu, keberadaan Satelit Nusantara Lima diposisikan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan digital di tingkat nasional dan regional.

Distribusi Kapasitas Satelit

Dari total kapasitas 160 Gbps, sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri. PSN menyebut 140 Gbps digunakan di Indonesia, sedangkan masing-masing 20 Gbps disiapkan untuk Filipina dan Malaysia.

Adi menegaskan bahwa porsi terbesar tetap diberikan untuk Indonesia karena kebutuhan pemakaiannya paling tinggi. Kapasitas tersebut diarahkan untuk mendukung beragam pengguna, mulai dari pemerintah, swasta, hingga lembaga lainnya.

Menurut PSN, penyediaan kapasitas besar ini penting agar Indonesia memiliki opsi konektivitas yang lebih andal. Dengan begitu, kebutuhan internet untuk layanan publik, bisnis, dan sektor strategis dapat dilayani secara lebih stabil.

Izin Operasi dan Uji Laik

Operasional Satelit Nusantara Lima dapat dimulai setelah perusahaan mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit atau Jartupsat dan Very Small Aperture Terminal atau VSAT dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Izin tersebut diberikan setelah satelit lolos Uji Laik Operasi di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23-24 April 2026.

PSN mengalokasikan investasi sekitar Rp8 triliun sejak tahap awal hingga satelit resmi beroperasi. Nilai investasi itu mencerminkan besarnya skala proyek yang ditujukan untuk memperkuat tulang punggung konektivitas nasional.

Satelit ini sebelumnya diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat, pada September 2025. Setelah itu, satelit menjalani fase Electric Orbit Raising sebelum menempati slot orbit 113° Bujur Timur pada Januari 2026.

Dampak untuk Indonesia

PSN menyebut seluruh infrastruktur ruas bumi, termasuk tujuh stasiun bumi dari Aceh hingga Tarakan, kini telah terintegrasi dengan segmen luar angkasa. Integrasi ini diharapkan membuat layanan internet dapat menjangkau wilayah yang selama ini sulit dilayani jaringan terestrial.

Dengan usia operasional lebih dari 15 tahun, Satelit Nusantara Lima diproyeksikan menjadi aset penting bagi Indonesia. Kehadirannya dipandang mampu mendukung pemerataan akses internet secara berkelanjutan di berbagai daerah.

Selain untuk masyarakat, satelit ini juga diperkirakan memberi manfaat bagi sektor bisnis dan penguatan keamanan nasional. Dalam jangka panjang, Satelit Nusantara Lima diharapkan menjadi salah satu fondasi utama transformasi digital Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!