Satelit Nusantara Lima Resmi Beroperasi, Kapasitas 160 Gbps

BRH 13 Mei 2026 13:07 WIB 6
Satelit Nusantara Lima Resmi Beroperasi, Kapasitas 160 Gbps

Satelit Nusantara Lima resmi beroperasi pada Senin malam di Jakarta, menandai dimulainya layanan internet berbasis satelit di seluruh Indonesia. Peresmian dilakukan oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, bersama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, serta Komisaris Utama PSN Sofyan Djalil. Langkah ini diharapkan meningkatkan konektivitas, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

PSN menyatakan bahwa Satelit Nusantara Lima memiliki kapasitas 160 Gbps dan cakupan luas mencakup Indonesia, Malaysia, serta Filipina. Adi Rahman Adiwoso, Direktur Utama PSN, menjelaskan bahwa mayoritas kapasitas akan dialokasikan untuk pemerataan akses internet di Indonesia. Ia menambahkan komposisi penggunaan 140 Gbps untuk Indonesia dan 20 Gbps masing‑masing untuk Filipina serta Malaysia, sebagai bagian dari upaya regionalisasi konektivitas.

Operasional Nusantara Lima

Satellit Nusantara Lima diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat, pada September 2025 dan menjalani fase Electric Orbit Raising sebelum menempati slot orbit 113 derajat bujur timur pada Januari 2026. Proses penempatan orbit ini dilakukan untuk memastikan kestabilan sinyal dan kemudahan integrasi dengan jaringan darat. Setalah penempatan, Satelit N5 dinyatakan siap beroperasi penuh dan melayani kebutuhan nasional.

Setelah rangkaian Uji Laik Operasi, Satelit Nusantara Lima mendapat izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit Jartupsat dan VSAT dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Izin tersebut diperoleh setelah ULO di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23–24 April 2026. Kedua izin ini menjadi landasan operasional yang sesuai standar pemerintah.

Dengan kapasitas 160 Gbps, satelit ini diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Asia. PSN menjelaskan sebagian besar kapasitas akan didedikasikan untuk Indonesia, yaitu 140 Gbps, sementara 20 Gbps dialokasikan untuk Filipina dan Malaysia. Tujuan utamanya adalah pemerataan akses internet secara nasional serta peningkatan layanan bagi pemerintah dan sektor swasta.

PSN menyatakan infrastruktur daratnya kini terintegrasi dengan segmen luar angkasa melalui tujuh stasiun bumi yang tersebar dari Aceh hingga Tarakan. Integrasi ini meningkatkan keandalan jaringan serta kemampuan pemantauan dan pemulihan layanan saat terjadi gangguan. Kerja sama dengan operator nasional dan lembaga pemerintah juga diperkuat untuk menjamin layanan tetap stabil.

Total investasi untuk Nusantara Lima mencapai sekitar Rp 8 triliun sejak pra-pengembangan hingga operasional. PSN memperkirakan masa operasi satelit melebihi 15 tahun sehingga menjadi aset jangka panjang bagi konektivitas nasional. Investasi tersebut diharapkan mendorong pertumbuhan sektor digital dan layanan publik di seluruh wilayah Indonesia.

Peluncuran satelit ini diproyeksikan meningkatkan layanan internet cepat bagi masyarakat, pelaku bisnis, serta keamanan nasional. Langkah ini juga diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai hub digital regional di Asia Tenggara. Kapasitas besar juga membuka peluang kemitraan regional untuk pemanfaatan jaringan di negara tetangga di waktu mendatang.

Dampak kebijakan dan dinamika geopolitik turut menjadi perhatian karena negara tetangga menilai pentingnya kemandirian konektivitas nasional. Minat regional terhadap kapasitas N5 berpotensi mendorong kerja sama penggunaan kapasitas di Filipina dan Malaysia di waktu mendatang. Secara keseluruhan, Nusantara Lima dipandang sebagai pilar pemerataan digital dan penguatan kedaulatan konektivitas Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!