Sarden Kalengan Viral: UPF atau Bukan?

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 09:50 WIB 2
Sarden Kalengan Viral: UPF atau Bukan?

Media sosial tengah ramai memperdebatkan status sarden kalengan dan produk sejenis, setelah banyak warganet menyadari bahwa makanan ini tidak otomatis masuk kategori Ultra Processed Food atau UPF. Perdebatan tersebut memicu pertanyaan baru, apakah label UPF benar-benar identik dengan tidak sehat, dan apakah produk non-UPF pasti lebih baik.

Di sisi lain, sarden kalengan tetap merupakan produk olahan karena melalui proses pengalengan untuk memperpanjang daya simpan. Proses ini membuat ikan lebih praktis dikonsumsi, tetapi juga memunculkan diskusi tentang kandungan, bahan tambahan, dan tingkat pemrosesan yang digunakan produsen.

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan berasal dari ikan yang melewati proses pemasakan, sterilisasi, dan pengemasan rapat agar tahan lama. Karena melalui tahapan tersebut, produk ini jelas masuk dalam kelompok processed food, bukan ikan segar. Namun, status sebagai makanan olahan tidak otomatis menempatkannya sebagai UPF. Penilaian tersebut bergantung pada jenis bahan tambahan dan tingkat pemrosesan yang digunakan.

Dalam klasifikasi NOVA, UPF umumnya merujuk pada produk yang banyak memakai bahan industri seperti pengawet, pengental, pewarna, atau penguat rasa. Sementara itu, sejumlah sarden kalengan justru hanya mengandung ikan, air, minyak, saus tomat, garam, dan rempah. Komposisi yang sederhana membuat sebagian produk lebih dekat ke makanan olahan biasa. Karena itu, menyamaratakan semua sarden kalengan sebagai UPF dinilai kurang tepat.

Persepsi publik terhadap sarden kalengan juga ikut berubah seiring viralnya diskusi di media sosial. Produk yang semula dianggap kurang sehat justru dinilai lebih baik setelah diketahui tidak semua variannya masuk UPF. Meski demikian, penilaian gizi tetap perlu melihat komposisi lengkap, kadar garam, dan cara konsumsi. Dengan kata lain, label kategori bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kualitas pangan.

Kandungan Dalam Produk Kalengan

Pantauan pada sejumlah produk makanan kalengan menunjukkan bahwa bahan utama umumnya berupa ikan, seperti sarden, makarel, tuna, atau jenis lain. Persentase ikan di dalamnya bervariasi, mulai dari sekitar 20 persen hingga 60 persen. Perbedaan ini sangat memengaruhi kualitas dan karakter produk akhir. Semakin tinggi kandungan ikan, biasanya semakin besar pula nilai proteinnya.

Selain ikan, produsen kerap menambahkan air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan rempah. Pada beberapa produk, komposisinya relatif sederhana dan masih menyerupai bahan masakan rumahan. Kehadiran saus tomat membantu menjaga kestabilan rasa selama penyimpanan. Sementara itu, minyak membuat tekstur ikan tetap lembut setelah melalui proses sterilisasi suhu tinggi.

Garam natrium menjadi salah satu komponen penting karena berfungsi memperpanjang daya simpan sekaligus memperkuat rasa. Dalam produk kalengan, fungsi ini membantu mencegah pertumbuhan mikroba dan mempertahankan mutu. Meski begitu, konsumsi berlebihan tetap perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada asupan natrium harian. Konsumen dianjurkan membaca label gizi sebelum membeli.

Bahan Tambahan Perlu Dicermati

Pada sebagian produk, ditemukan bahan tambahan seperti natrium benzoat yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroba. Ada juga MSG atau mononatrium L-glutamat yang dipakai untuk memperkuat rasa gurih pada ikan dan saus. Bahan ini kerap dikenal masyarakat sebagai micin. Penggunaan kedua bahan tersebut umumnya masih dibolehkan selama mengikuti batas aman regulasi.

Sejumlah produk juga memakai pati termodifikasi atau modified starch untuk membuat saus lebih kental dan tidak mudah terpisah. Selain itu, asam sitrat digunakan sebagai pengatur keasaman agar rasa dan kondisi produk tetap stabil. Beberapa merek menambahkan gum sebagai pengemulsi atau pengental. Tujuannya adalah menjaga tekstur saus agar tetap merata selama penyimpanan.

Bahan seperti pengawet, penguat rasa, pewarna, pengental, dan emulsifier sering dikaitkan dengan UPF dalam klasifikasi NOVA. Hal ini karena bahan tersebut lebih umum dipakai dalam industri pangan dibandingkan dalam masakan rumah tangga. Meski demikian, penggunaannya tetap berada dalam batas keamanan yang diatur. Artinya, keberadaan bahan tambahan tidak selalu berarti produk tersebut berbahaya.

Bijak Memilih Sarden Kalengan

Di tengah ramainya perdebatan, konsumen perlu lebih cermat membaca komposisi pada kemasan sarden kalengan. Informasi seperti kadar ikan, kandungan natrium, dan jenis bahan tambahan menjadi penentu penting dalam memilih produk. Produk dengan komposisi sederhana umumnya lebih mudah dipahami profil gizinya. Karena itu, label kemasan sebaiknya tidak diabaikan.

Pakar gizi umumnya menilai bahwa makanan olahan tidak selalu buruk, selama dikonsumsi secara wajar dan sesuai kebutuhan. Sarden kalengan dapat menjadi pilihan praktis, terutama untuk masyarakat yang membutuhkan makanan cepat saji bergizi. Kandungan proteinnya masih bisa memberi manfaat selama tidak disertai konsumsi garam berlebihan. Keseimbangan pola makan tetap menjadi kunci utama.

Perdebatan tentang sarden kalengan menunjukkan bahwa label UPF tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai makanan. Ada produk yang memang mengandung banyak bahan industri, tetapi ada pula yang komposisinya masih sederhana. Karena itu, penilaian perlu dilakukan secara lebih hati-hati dan berbasis informasi. Dengan pemahaman yang tepat, konsumen dapat memilih produk kalengan secara lebih bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!