Ubi Ungu Jadi Sorotan, Ini Manfaat Menurut Dokter Gizi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 11:14 WIB 2
Ubi Ungu Jadi Sorotan, Ini Manfaat Menurut Dokter Gizi

Olahan ubi kembali mencuri perhatian di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi cream cheese dengan beragam topping kekinian. Di tengah tren itu, dokter gizi menyarankan masyarakat memilih ubi ungu sebagai opsi yang lebih bermanfaat karena kandungan antosianinnya yang tinggi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa warna ungu pada ubi berasal dari antosianin, yaitu pigmen alami yang juga ditemukan pada blueberry dan anggur ungu. Kandungan tersebut disebut dapat memberi nilai tambah bagi kesehatan, terutama bila ubi diolah dengan cara yang tepat dan tidak berlebihan dalam penambahan gula.

Manfaat ubi ungu bagi tubuh

Menurut dr Tjandraningrum, ubi ungu menjadi jenis ubi yang direkomendasikan karena kandungan antosianinnya cukup tinggi. Antosianin merupakan zat warna alami yang kaya flavonoid dan polifenol. Senyawa ini dikenal memiliki sifat anti-peradangan. Karena itu, ubi ungu dinilai lebih unggul dibanding beberapa jenis ubi lain.

Rujukan ilmiah juga memperkuat temuan tersebut. Dalam tinjauan yang dipublikasikan di jurnal Molecules tahun 2019, kandungan antosianin pada ubi ungu dilaporkan dapat mencapai sekitar 218-244 mg per 100 gram. Angka itu bergantung pada varietas dan metode pengolahan. Selain itu, antosianin dikaitkan dengan aktivitas antioksidan yang baik bagi tubuh.

Antioksidan berperan membantu melawan radikal bebas yang dapat memicu stres oksidatif. Sifat anti-peradangan pada antosianin juga dianggap mendukung kesehatan secara umum. Dengan profil tersebut, ubi ungu kerap dipandang sebagai pilihan pangan yang lebih bernilai. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada cara penyajian dan pola konsumsi.

Relevansi untuk risiko penyakit

Dr Tjandra menyebut kandungan pada ubi ungu dapat bermanfaat bagi orang yang berisiko mengalami penyakit tidak menular. Dua kondisi yang paling sering disorot adalah diabetes dan hipertensi. Menurut dia, senyawa aktif di dalam ubi ungu berpotensi membantu mendukung kesehatan metabolik. Karena itu, ubi ungu layak dipertimbangkan sebagai bagian dari pola makan harian.

Kelompok yang perlu lebih memperhatikan asupan makanan umumnya adalah mereka dengan riwayat keluarga penyakit tidak menular. Selain itu, orang dengan gaya hidup kurang aktif juga perlu waspada. Pilihan makanan yang lebih seimbang dapat membantu mengurangi risiko. Ubi ungu bisa menjadi alternatif yang lebih baik dibanding camilan tinggi kalori.

Meski demikian, manfaat tersebut tidak otomatis muncul jika pola konsumsi tidak terjaga. Porsi makan tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan energi masing-masing orang. Makanan sehat tetap perlu dikombinasikan dengan aktivitas fisik yang cukup. Dengan pendekatan itu, ubi ungu dapat memberi kontribusi yang lebih optimal.

Waspadai topping tinggi gula

Di tengah popularitasnya, olahan ubi ungu kerap disajikan dengan topping manis dan berlemak. Menurut dr Tjandra, kebiasaan itu dapat menurunkan manfaat yang seharusnya didapat dari ubi. Tambahan gula berlebih dan lemak jenuh justru dapat membuat makanan menjadi kurang sehat. Karena itu, pemilihan topping perlu dilakukan secara bijak.

Topping seperti krim manis, susu kental manis, dan saus tinggi gula sebaiknya dibatasi. Begitu juga dengan tambahan keju atau mentega dalam jumlah besar, karena dapat meningkatkan asupan lemak jenuh. Jika ingin tetap menikmati olahan ubi, masyarakat bisa memilih topping yang lebih ringan. Contohnya, yogurt tanpa gula, kacang, atau buah segar dalam porsi wajar.

Selain topping, cara pengolahan juga penting untuk diperhatikan. Ubi panggang atau kukus umumnya lebih dianjurkan dibanding olahan yang banyak menggunakan gula dan lemak tambahan. Porsi yang tidak berlebihan akan membantu menjaga keseimbangan asupan harian. Dengan begitu, tren ubi ungu tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan.

Tips memilih ubi ungu

Untuk memperoleh manfaat yang lebih baik, masyarakat disarankan memilih ubi ungu yang segar dan berkualitas. Ubi yang baik biasanya memiliki kulit utuh, tidak berlubang, dan tidak menunjukkan tanda busuk. Tekstur yang padat juga menjadi salah satu ciri bahan pangan yang masih layak diolah. Setelah dipilih, ubi sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan tidak lembap.

Saat mengolahnya, metode sederhana lebih dianjurkan agar kandungan gizinya tetap terjaga. Mengukus atau memanggang tanpa tambahan gula berlebihan bisa menjadi pilihan yang praktis. Jika ingin menambah rasa, gunakan bahan pendamping yang tidak terlalu berat bagi tubuh. Langkah ini penting agar ubi ungu tetap menjadi makanan yang mendukung pola makan sehat.

Tren olahan ubi ungu di media sosial menunjukkan bahwa pangan lokal bisa tampil menarik dan relevan. Namun, popularitas seharusnya tetap diiringi pengetahuan gizi yang memadai. Masyarakat perlu cermat agar tidak terjebak pada tampilan yang menggoda tetapi kurang sehat. Dengan konsumsi yang tepat, ubi ungu dapat menjadi camilan yang lezat sekaligus bernilai gizi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!