BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi Moh. Royhan Nahado 27 Mei 2026 12:30 WIB 2
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan itu mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga integrasi data satelit nasional.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyampaikan peluang kerja sama tersebut saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor. Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan berdaya saing.

Kolaborasi Satelit LEO

Chusnul mengatakan, kerja sama dengan Telkomsat berpotensi memperkuat ekosistem satelit nasional dari sisi riset hingga penerapan industri. Menurut dia, kolaborasi dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia dan alih teknologi.

Ia menambahkan, BRIN juga membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak di dalam maupun luar negeri. Pendekatan ini dinilai penting agar pengembangan teknologi satelit tidak berjalan secara terpisah.

Dalam kesempatan itu, BRIN memaparkan arah riset satelit yang sedang dikembangkan, termasuk satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1. Satelit tersebut ditargetkan mampu menghasilkan data citra beresolusi tinggi.

Ke depan, riset BRIN juga diarahkan pada pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR dan satelit komunikasi. Arah riset ini diharapkan memperluas manfaat satelit bagi kebutuhan pengamatan dan komunikasi nasional.

Peran Telkomsat Nasional

Telkomsat dinilai memiliki posisi strategis dalam hilirisasi teknologi satelit yang tengah dikembangkan BRIN. Kemitraan ini juga dipandang relevan untuk memperkuat infrastruktur dan integrasi layanan data satelit.

Chusnul menilai, kerja sama yang terbangun dapat menjadi jembatan antara hasil riset dan kebutuhan industri. Dengan begitu, teknologi yang dihasilkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dimanfaatkan lebih luas.

Selain itu, peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES turut membuka peluang kolaborasi baru. Pergeseran ini dinilai sejalan dengan kebutuhan sistem komunikasi maritim yang lebih modern.

BRIN melihat Telkomsat dapat menjadi mitra penting dalam memperkuat rantai nilai ekosistem satelit nasional. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan teknologi secara konkret di lapangan.

Tantangan Operasional Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO memiliki karakter operasi yang sangat dinamis. Satelit jenis ini bergerak cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit.

Kondisi tersebut menuntut sistem operasional yang responsif dan terintegrasi. Tanpa pengelolaan yang presisi, manfaat data satelit sulit dioptimalkan secara maksimal.

Satriya menyebut manajemen misi sebagai bagian penting dalam operasional satelit modern. Proses itu meliputi penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi kepada pengguna.

Selain itu, pengendalian orbit juga menjadi aspek vital untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalurnya. Proses ini dilakukan melalui koreksi orbit berkala dan antisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Kemandirian Teknologi Satelit

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu yang terbatas. Karena itu, diperlukan perencanaan presisi, termasuk penjadwalan uplink dan downlink yang matang.

Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran operasi. Tanpa infrastruktur itu, pertukaran data satelit akan berjalan kurang efektif.

Satriya menambahkan, pemantauan kesehatan satelit secara real time wajib dilakukan oleh operator. Pemantauan tersebut mencakup daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama.

Ia menegaskan, pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak itu meliputi perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah untuk mendukung kemandirian teknologi serta mengurangi ketergantungan pada solusi luar negeri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!