Rosan Respons Pelemahan IHSG Usai Pembentukan Danantara

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 27 Mei 2026 13:58 WIB 2
Rosan Respons Pelemahan IHSG Usai Pembentukan Danantara

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang bertugas mengelola ekspor komoditas strategis. Ia menilai tekanan di pasar saham tidak semata-mata dipicu kebijakan baru, melainkan juga dipengaruhi faktor teknikal dan sentimen global.

IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei. Pada Kamis, 21 Mei 2026, indeks kembali tertekan dan ditutup di level 6.094 atau turun 233 poin, setara 3,54 persen.

Rosan Tanggapi Tekanan IHSG

Rosan menyebut pelemahan pasar saham perlu dilihat dengan pendekatan statistik dan data, bukan semata dari satu peristiwa. Ia menegaskan bahwa koreksi IHSG juga berkaitan dengan dinamika eksternal yang sedang memengaruhi investor.

Dalam keterangannya usai rapat di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Rosan menilai ada pengaruh rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Menurut dia, penyesuaian tersebut dapat mendorong tekanan pada saham-saham tertentu, terutama dari investor asing.

Ia mengingatkan bahwa pasar sering bereaksi berlebihan terhadap kabar yang belum sepenuhnya tercermin dalam kinerja fundamental. Karena itu, investor diminta tetap mencermati data jangka panjang sebelum mengambil keputusan.

MSCI Beri Tekanan Pasar

MSCI telah mengumumkan hasil rebalancing yang berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Dalam penyesuaian itu, sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI.

Rosan menilai keputusan tersebut dapat memengaruhi pergerakan harga saham dalam jangka pendek. Ia menjelaskan bahwa pelepasan dari indeks kerap memicu aksi jual dari investor yang mengikuti acuan global tersebut.

Tekanan ini, menurut dia, tidak otomatis mencerminkan melemahnya kinerja emiten secara fundamental. Pasar saham, kata Rosan, kerap dipengaruhi kombinasi persepsi, arus dana, dan faktor teknikal yang bergerak cepat.

Fundamental BUMN Dinilai Kuat

Di tengah tekanan pasar, Rosan tetap optimistis terhadap prospek perusahaan pelat merah, khususnya BUMN perbankan. Ia menilai kinerja bank-bank Himbara masih menunjukkan pertumbuhan yang sehat dan menghasilkan imbal hasil yang tinggi.

Rosan menyebut sejumlah bank BUMN mencatat performa positif dengan yield di atas 10 persen hingga 11 persen. Menurut dia, capaian itu menjadi sinyal bahwa fundamental perusahaan masih berada pada jalur yang kuat.

Ia menegaskan bahwa investor sebaiknya tidak hanya melihat gejolak harian di bursa, tetapi juga potensi bisnis dalam jangka panjang. Dengan fondasi yang dinilai solid, Rosan percaya BUMN tetap memiliki daya tahan di tengah tekanan pasar.

Prospek Pasar Jangka Panjang

Rosan mengakui saat ini pasar sedang berada dalam fase tertekan oleh sentimen dan persepsi. Namun, ia menilai kondisi tersebut bersifat sementara dan tidak mengubah arah fundamental ekonomi nasional.

Menurut dia, pasar akan kembali menyesuaikan diri ketika pelaku investasi menimbang data yang lebih utuh. Ia menyebut prospek menengah dan panjang tetap positif selama kinerja perusahaan dan ekonomi makro terjaga.

Rosan pun menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan pasar melalui transparansi dan kinerja yang konsisten. Dalam pandangannya, selama fundamental ekonomi dan BUMN tetap kuat, pemulihan pasar pada akhirnya akan mengikuti.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!