Makaila Haifa dan UNHCR Angkat Kisah Pengungsi Perempuan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 13:53 WIB 2
Makaila Haifa dan UNHCR Angkat Kisah Pengungsi Perempuan

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar panggung bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini menjadi ruang apresiasi bagi pengungsi perempuan dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan untuk tampil sebagai model sekaligus seniman. Melalui format trunk show, kegiatan tersebut menonjolkan pesan pemberdayaan, keberanian, dan kreativitas. Inisiatif ini juga memperlihatkan bagaimana fashion dapat menjadi medium sosial yang bermakna.

Dalam gelaran itu, Mishka Project menghadirkan lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana perempuan dari India, Revathi Prabaharan. Para pengungsi yang tampil berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, dan telah mencari suaka di Indonesia. Kehadiran mereka di panggung bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol ketangguhan di tengah perjalanan hidup yang tidak mudah. Acara ini menegaskan bahwa panggung fashion dapat membuka ruang yang lebih setara bagi perempuan.

Fashion dan Resiliensi Perempuan

Makaila Haifa memposisikan fashion bukan hanya sebagai produk gaya, tetapi juga sebagai sarana menyampaikan nilai kemanusiaan. Dalam acara ini, narasi tentang pengungsi diubah dari kisah bertahan hidup menjadi kisah tentang daya tahan dan harapan. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa busana dapat menjadi jembatan untuk membangun empati publik. Di saat yang sama, panggung ini memberi ruang bagi perempuan untuk menunjukkan identitas dan potensi mereka.

Konsep resiliensi menjadi benang merah utama yang menghubungkan seluruh rangkaian acara. Para peserta tampil dengan percaya diri, membawa pengalaman hidup masing-masing ke dalam ekspresi seni dan peragaan busana. Dengan cara ini, fashion tidak lagi berhenti pada estetika, melainkan juga menyampaikan pesan keberanian. Makaila Haifa menempatkan perempuan pengungsi sebagai subjek yang aktif, bukan sekadar penerima bantuan.

Kolaborasi ini juga memperluas makna perayaan Hari Perempuan Internasional. Alih-alih hanya menjadi seremoni, peringatan tersebut diwujudkan sebagai panggung yang mempromosikan inklusi dan penghormatan terhadap perempuan. Kehadiran pengungsi dari berbagai negara memperkaya perspektif tentang keberagaman. Panggung fashion pun berubah menjadi ruang dialog yang lebih terbuka dan humanis.

Melalui karya yang ditampilkan, publik diajak melihat bahwa ketahanan perempuan dapat hadir dalam banyak bentuk. Ada yang mengekspresikannya melalui mode, ada pula yang menyalurkannya lewat seni visual. Seluruh elemen acara dirancang untuk menunjukkan bahwa keberagaman latar belakang bukan penghalang untuk berkarya. Sebaliknya, keberagaman justru menjadi sumber kekuatan yang layak diapresiasi.

Kolaborasi Makaila Haifa UNHCR

Kolaborasi antara Makaila Haifa dan UNHCR memperlihatkan sinergi antara industri fashion dan lembaga kemanusiaan. Kerja sama ini menghadirkan panggung yang aman dan representatif bagi pengungsi perempuan untuk menunjukkan kemampuan mereka. UNHCR memberi dukungan terhadap inisiatif yang membuka kesempatan lebih luas bagi kelompok rentan. Sementara itu, Makaila Haifa menghadirkan identitas busana yang kuat dan relevan dengan isu pemberdayaan.

Langkah tersebut juga menegaskan bahwa brand lokal dapat mengambil peran lebih besar dalam isu sosial. Dengan mengemas pesan kemanusiaan ke dalam format trunk show, acara ini menjadi lebih mudah diterima publik. Fashion dipakai sebagai bahasa universal yang mampu menjangkau audiens yang lebih luas. Pendekatan ini sekaligus memperkuat posisi modest wear sebagai ruang ekspresi yang inklusif.

Ling Hida, pendiri Makaila Haifa, menjadi sosok penting di balik konsep Mishka Project. Melalui arah kreatifnya, narasi pengungsi yang kerap dipandang penuh keterbatasan diubah menjadi cerita tentang talenta dan keberdayaan. Strategi ini menunjukkan bahwa industri fashion dapat berkontribusi pada perubahan persepsi sosial. Ketika desain bertemu dengan empati, hasilnya adalah panggung yang lebih bermakna.

Kolaborasi tersebut juga memberi contoh bahwa kerja sama lintas sektor memiliki dampak yang luas. Dunia fashion mendapatkan nilai tambah dari sisi cerita dan relevansi sosial, sementara isu kemanusiaan memperoleh panggung yang lebih besar. Keduanya saling menguatkan dalam menciptakan pesan yang positif. Di tengah tren industri yang kompetitif, pendekatan seperti ini menghadirkan diferensiasi yang kuat.

Mishka Project di Panggung

Mishka Project menjadi sorotan utama dalam peragaan busana ini. Program tersebut menampilkan lima perempuan pengungsi yang datang dari Irak, Palestina, dan Somalia. Selain itu, hadir pula Revathi Prabaharan dari India sebagai peraga busana perempuan. Susunan penampil ini menampilkan keberagaman yang terkurasi dengan cermat.

Para pengungsi yang terlibat bukan hanya berjalan di atas panggung, tetapi juga membawa kisah hidup mereka ke hadapan publik. Keikutsertaan mereka mencerminkan proses pemberdayaan yang nyata, bukan sekadar simbolik. Panggung fashion memberi kesempatan bagi mereka untuk tampil dengan percaya diri dan bermartabat. Dalam konteks ini, busana menjadi alat untuk menyuarakan eksistensi.

Selain peragaan busana, acara ini juga menghadirkan pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya tersebut memperluas cakupan acara, dari runway menuju ruang seni yang lebih beragam. Kehadiran karya visual memperkaya pengalaman penonton dan memperlihatkan potensi kreatif para peserta. Kombinasi ini menjadikan acara terasa lebih utuh dan multidimensi.

Mishka Project menegaskan bahwa talenta dapat tumbuh di mana saja, termasuk di tengah situasi yang penuh tantangan. Dengan dukungan yang tepat, perempuan pengungsi dapat mengambil peran sebagai kreator, bukan hanya penonton. Panggung ini menjadi bukti bahwa kesempatan kecil dapat menghasilkan dampak yang besar. Di atas semua itu, keberanian mereka tampil di depan publik menjadi pesan yang kuat bagi banyak orang.

Pesan Inklusif dari Runway

Acara ini membawa pesan bahwa inklusi adalah bagian penting dari perkembangan fashion modern. Ketika panggung dibuka untuk perempuan dari latar belakang yang berbeda, industri mode menjadi lebih relevan dengan realitas sosial. Keterlibatan pengungsi menegaskan bahwa representasi memiliki nilai yang besar dalam membangun kesadaran publik. Dari runway, lahir pesan bahwa semua perempuan berhak mendapat ruang yang layak.

Makaila Haifa menunjukkan bahwa modest wear dapat bergerak lebih jauh dari sekadar tren busana. Brand ini memanfaatkan identitas produknya untuk menyuarakan kepedulian, empati, dan solidaritas. Pendekatan tersebut membuat fashion memiliki lapisan makna yang lebih dalam. Bagi industri lokal, langkah ini dapat menjadi contoh bagaimana kreativitas dan tanggung jawab sosial berjalan beriringan.

Perayaan Hari Perempuan Internasional 2026 melalui acara ini juga menambah dimensi baru pada peringatan tersebut. Peringatan tidak hanya tentang selebrasi, tetapi juga tentang membuka ruang partisipasi bagi perempuan yang selama ini jarang terlihat. Kehadiran mereka di panggung memberi gambaran nyata tentang arti pemberdayaan. Dengan demikian, fashion menjadi medium untuk merayakan keberanian dan ketangguhan perempuan.

Gelaran ini akhirnya menempatkan pengungsi perempuan sebagai bagian penting dari percakapan publik. Mereka hadir bukan sebagai latar belakang cerita, melainkan sebagai tokoh utama yang layak didengar dan diapresiasi. Dalam atmosfer yang penuh warna dan makna, fashion bertransformasi menjadi panggung kemanusiaan. Pesan yang tersisa jelas, bahwa dari bertahan hidup, perempuan dapat tumbuh dan berkembang dengan penuh martabat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!