Sarden Kalengan Viral, Benarkah Bukan Ultra Processed Food?

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 18:01 WIB 5
Sarden Kalengan Viral, Benarkah Bukan Ultra Processed Food?

Media sosial tengah diramaikan oleh perdebatan soal sarden kalengan dan produk sejenis, setelah banyak warganet baru mengetahui bahwa makanan ini tidak selalu masuk kategori Ultra Processed Food atau UPF. Perbincangan tersebut memunculkan pertanyaan baru, apakah label UPF otomatis berarti tidak sehat, dan apakah produk non-UPF pasti lebih baik bagi tubuh.

Di balik diskusi yang viral itu, sarden kalengan tetap termasuk makanan olahan karena melalui proses pengalengan untuk memperpanjang daya simpan. Meski demikian, komposisi dan metode pengolahan pada tiap merek bisa berbeda, sehingga penilaiannya tidak bisa disamaratakan hanya dari satu label.

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan kerap dianggap sama dengan makanan ultra olahan, padahal tidak semua produk masuk klasifikasi tersebut. Dalam beberapa kasus, produk ini hanya melewati proses pengawetan dan sterilisasi yang masih bisa ditemui dalam bahan pangan sehari-hari.

Perdebatan ini mencuat karena banyak orang selama ini mengaitkan UPF dengan makanan yang kurang sehat. Namun, kategori UPF dalam sistem NOVA lebih dipengaruhi oleh jenis bahan tambahan dan tingkat pemrosesan, bukan semata-mata karena makanan itu dikemas kaleng.

Dengan kata lain, tidak semua makanan kalengan otomatis buruk bagi kesehatan. Penilaian tetap perlu melihat komposisi, cara produksi, dan frekuensi konsumsi agar lebih objektif.

Komposisi Produk Dalam Kaleng

Hasil pantauan pada sejumlah produk menunjukkan bahan utama sarden kalengan tetap berupa ikan, baik sarden, makarel, tuna, maupun jenis lain. Persentase bahan utama ini bervariasi, dari sekitar 20 persen hingga mencapai 60 persen tergantung merek.

Selain ikan, produk biasanya mengandung air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan rempah-rempah. Pada beberapa merek, komposisi tersebut masih menyerupai bahan masakan rumahan yang umum digunakan di dapur.

Garam natrium berperan penting untuk menjaga daya simpan sekaligus memperkuat rasa. Saus tomat membantu kestabilan produk selama penyimpanan, sementara minyak menjaga tekstur ikan tetap lembut setelah proses sterilisasi suhu tinggi.

Bahan Tambahan Yang Dipakai

Sejumlah produk memang menambahkan bahan yang sering dikaitkan dengan UPF, seperti natrium benzoat sebagai pengawet. Fungsi utamanya adalah menghambat pertumbuhan mikroba agar produk lebih stabil selama disimpan.

Ada pula MSG atau mononatrium L-glutamat yang digunakan untuk memperkuat rasa gurih pada ikan dan saus. Dalam keseharian, bahan ini lebih dikenal luas sebagai penyedap rasa.

Beberapa produk juga memakai pati termodifikasi, asam sitrat, hingga gum sebagai pengental atau pengemulsi. Bahan-bahan tersebut membantu menjaga kekentalan saus, kestabilan rasa, dan konsistensi produk selama masa simpan.

Bijak Menilai Label Pangan

Para ahli umumnya menilai makanan tidak cukup dilihat dari label UPF atau non-UPF semata. Yang lebih penting adalah memperhatikan daftar bahan, kandungan gizi, dan porsi konsumsi harian.

Sarden kalengan bisa menjadi pilihan praktis karena mengandung protein hewani dan relatif mudah disajikan. Namun, kandungan natrium dan bahan tambahan tetap perlu diperhitungkan, terutama bagi masyarakat yang membatasi asupan garam.

Dengan pemahaman yang lebih utuh, konsumen dapat menilai pangan olahan secara lebih seimbang. Sarden kalengan tidak otomatis buruk, tetapi juga tidak tepat disebut sehat tanpa melihat konteks konsumsi dan komposisinya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!