Produk UMKM Tenun Indonesia Dilirik Pasar Malaysia

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 02 Juni 2026 19:08 WIB 2
Produk UMKM Tenun Indonesia Dilirik Pasar Malaysia

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saingnya di pasar luar negeri, setelah Kainnesia atau Kain Tenun Indonesia menerima pesanan sarung tenun dari Malaysia senilai US$ 50 ribu, setara sekitar Rp 800 juta. Pencapaian ini menegaskan bahwa produk berbasis warisan budaya tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga potensi ekonomi yang kuat.

Kainnesia, yang menjadi pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, berhasil menggandeng ratusan penenun dari berbagai daerah untuk memperluas jangkauan usaha. Melalui dukungan program tersebut, produk tenun nusantara kini semakin dikenal di pasar internasional dan membuka peluang baru bagi UMKM binaan.

UMKM Tembus Pasar Ekspor

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, menyebut pertumbuhan usaha yang dicapai tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga UMKM yang dibina. Ia menegaskan bahwa program Pertapreneur Aggregator memberi dampak berlapis bagi pelaku usaha kecil.

Saat ini, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra Kainnesia mencapai lebih dari 400 orang. Menurut Nur, angka tersebut menjadi bukti bahwa penguatan rantai usaha mampu menciptakan efek ekonomi yang lebih luas.

Pesanan dari Malaysia menjadi salah satu indikator bahwa produk lokal memiliki peluang besar di pasar regional. Dengan kualitas yang terjaga, tenun Indonesia mampu bersaing sebagai produk bernilai tinggi.

Dampak Bagi Penenun

Kainnesia bekerja dengan ratusan penenun dari berbagai daerah untuk menjaga pasokan sekaligus kualitas produk. Pola kemitraan ini memberi ruang bagi para perajin untuk mendapatkan kepastian pasar.

Keberadaan jaringan produksi tersebut membantu meningkatkan pendapatan para penenun. Di sisi lain, mereka tetap mempertahankan teknik tradisional yang menjadi identitas tenun nusantara.

Nur Salam menilai tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang perlu terus dikembangkan agar relevan dengan zaman. Ia berharap generasi muda memandang tenun sebagai bagian dari masa depan, bukan hanya simbol masa lalu.

Peluang Dari Pameran

Produk Kainnesia telah tampil di sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025 dan Korea Import Fair di Seoul. Kehadiran di panggung global itu memperluas peluang pertemuan dengan calon pembeli dari luar negeri.

Selain dua ajang tersebut, Kainnesia juga hadir di Jogja Fashion Week 2025 dan Inacraft 2025. Rangkaian pameran ini memperkuat posisi tenun Indonesia sebagai produk kreatif yang kompetitif.

Dari berbagai ajang itu, terbuka peluang kerja sama dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa pasar luar negeri memberi perhatian serius pada produk UMKM berbasis budaya.

Pertapreneur Dorong Skala Usaha

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut kehadiran Kainnesia sebagai contoh nyata tujuan Pertapreneur Aggregator. Program tersebut dirancang untuk mendorong UMKM naik kelas melalui penguatan kapasitas dan akses pasar.

Menurut Rudi, semakin banyak UMKM aggregator, semakin banyak pula usaha kecil yang bisa berkembang, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi lokal. Ia menilai model seperti Kainnesia mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi ekosistem usaha.

Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui pendampingan teknis, manajerial, dan akses pasar, program ini diarahkan agar pertumbuhan UMKM berlangsung berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!