Sarden Kalengan, UPF atau Bukan? Ini Penjelasannya

Lifestyle Clara Monica 29 Mei 2026 20:12 WIB 3
Sarden Kalengan, UPF atau Bukan? Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Di tengah perdebatan itu, sarden kalengan ikut menjadi sorotan setelah muncul klaim bahwa produk tersebut belum tentu termasuk UPF.

Pertanyaan ini memicu rasa penasaran banyak orang karena makanan kalengan kerap dianggap otomatis tidak sehat. Padahal, untuk menentukan apakah sarden kalengan termasuk UPF atau bukan, perlu melihat klasifikasi pangan yang digunakan secara ilmiah, yaitu NOVA.

Sarden Kalengan dan UPF

UPF merupakan singkatan dari ultra-processed food, yakni kategori makanan yang masuk dalam klasifikasi NOVA. Sistem ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo, Brasil, untuk mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya.

Dalam klasifikasi tersebut, makanan dibagi menjadi empat kelompok, mulai dari bahan pangan segar hingga produk yang sangat diproses. Pembagian ini membantu publik memahami bahwa tidak semua makanan kemasan berada dalam kategori yang sama.

Kelompok pertama mencakup makanan yang tidak diproses atau hanya diproses minimal, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua berisi bahan kuliner seperti gula, garam, mentega, dan minyak.

Kelompok ketiga mencakup makanan olahan yang dibuat dengan menambahkan garam, gula, atau minyak untuk meningkatkan rasa atau daya simpan. Sementara itu, kelompok keempat adalah UPF, yaitu produk formulasi industri dengan banyak bahan tambahan.

Posisi Sarden Dalam NOVA

Sarden kalengan pada umumnya tidak otomatis masuk kategori UPF. Dalam banyak kasus, produk ini lebih tepat disebut sebagai processed food atau makanan olahan, bukan makanan ultra-proses.

Hal ini karena sarden kalengan biasanya terdiri dari ikan, garam, minyak, dan bahan pengawet tertentu untuk menjaga mutu. Komposisi tersebut berbeda dari UPF yang biasanya mengandung banyak aditif, perisa, pewarna, pemanis, dan emulsifier.

Contoh UPF yang sering ditemui adalah minuman manis kemasan, mi instan tertentu, camilan tinggi gula atau garam, serta makanan siap santap hasil formulasi industri. Produk-produk itu umumnya dibuat bukan sekadar untuk diawetkan, melainkan untuk membentuk rasa, tekstur, dan tampilan secara intensif.

Dengan demikian, status sarden kalengan bergantung pada komposisinya. Jika bahan yang digunakan sederhana dan terbatas, maka produk tersebut tidak selalu bisa disamakan dengan UPF.

Perhatikan Komposisi Produk

Untuk menilai apakah sarden kalengan termasuk UPF, konsumen perlu membaca daftar bahan pada kemasan. Informasi ini menjadi kunci karena komposisi produk bisa berbeda antar merek.

Jika sarden hanya berisi ikan, saus, garam, minyak, dan pengawet terbatas, maka kategorinya cenderung masih berada pada makanan olahan. Namun, jika terdapat banyak bahan tambahan seperti perisa, pemanis, pengental, dan aditif lain, penilaiannya bisa berubah.

Label gizi juga penting diperiksa, terutama kandungan natrium, lemak, dan gula. Tiga komponen ini kerap menjadi perhatian karena konsumsi berlebihan dapat berdampak pada kesehatan.

Konsumen disarankan tidak hanya terpaku pada kata “kalengan”, tetapi juga pada daftar bahan dan nilai gizinya. Cara ini membantu masyarakat membuat pilihan yang lebih cermat saat berbelanja.

Pilih Konsumsi yang Bijak

Sarden kalengan dapat menjadi pilihan praktis karena mudah disimpan dan cepat diolah. Bagi banyak orang, produk ini juga menjadi sumber protein yang relatif terjangkau.

Meski demikian, konsumsi makanan olahan tetap perlu dibatasi agar pola makan tetap seimbang. Kuncinya adalah menyesuaikan porsi, frekuensi, dan kombinasi dengan makanan segar seperti sayur dan buah.

Di tengah ramainya istilah UPF, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua makanan kemasan berada pada tingkat risiko yang sama. Pemahaman ini penting agar penilaian terhadap makanan lebih akurat dan tidak sekadar mengikuti tren.

Pada akhirnya, sarden kalengan tidak bisa langsung disamakan dengan UPF tanpa melihat komposisinya. Dengan membaca label secara teliti, konsumen dapat menentukan pilihan yang lebih sehat dan sesuai kebutuhan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!