UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 11:40 WIB 3
UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi dorongan besar bagi pelaku usaha kecil, termasuk UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta, Sweet Sundae. Dari pemasokan susu untuk program tersebut, usaha ini mengaku mampu meraup omzet hingga Rp 1 miliar. Permintaan yang terus meningkat membuat kapasitas produksi dan pasokan mereka ikut berkembang pesat.

Owner sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, mengatakan pihaknya mulai mendapat amanah memasok susu untuk MBG sejak Februari 2025. Saat ini, setidaknya ada lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengambil stok susu dari usahanya di wilayah Jawa Tengah. Kebutuhan yang tinggi bahkan mendorong Sweet Sundae membuka peternakan sendiri agar pasokan tetap terjaga.

MBG Dorong Omzet Susu

Program MBG menjadi pasar baru yang signifikan bagi Sweet Sundae. Yuki menyebut, satu SPPG sekali mengambil sekitar 12 ribu kemasan susu per hari dengan ukuran 100 mililiter. Setiap SPPG juga menerima suplai dua kali dalam sepekan.

Permintaan itu membuat volume distribusi meningkat tajam dalam waktu singkat. Lima SPPG yang aktif mengambil stok berasal dari wilayah Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang. Pekan depan, perusahaan itu dijadwalkan memasok susu ke delapan SPPG tambahan.

Lonjakan pesanan membuat omzet usaha ikut terdorong naik. Yuki menyebut, kontribusi program MBG sangat terasa terhadap pertumbuhan bisnis yang dikelolanya. Kondisi ini menjadi bukti bahwa pengadaan pangan pemerintah dapat membuka peluang pasar yang besar bagi UMKM.

Menurut Yuki, program tersebut bukan hanya mendatangkan penjualan, tetapi juga memperluas jaringan usaha. Ia menilai keberadaan SPPG memberi kepastian serapan produk secara rutin. Bagi pelaku UMKM, kepastian semacam ini menjadi faktor penting untuk menjaga arus produksi.

Peternakan Sendiri Dibangun

Meningkatnya kebutuhan susu membuat Sweet Sundae tidak lagi bergantung penuh pada pasokan luar. Perusahaan kemudian mulai membangun peternakan sendiri untuk memenuhi permintaan yang terus membesar. Langkah itu diambil agar suplai tetap stabil dan kualitas produk terjaga.

Saat ini, peternakan tersebut memelihara sedikitnya 97 ekor sapi. Dari jumlah itu, produksi susu harian mencapai sekitar 4,5 ton. Kapasitas ini menjadi penopang utama untuk memenuhi kebutuhan MBG dan pelanggan lainnya.

Yuki mengatakan, keputusan membuka peternakan sendiri merupakan respons terhadap pertumbuhan pesanan yang sangat cepat. Ia menilai, tanpa penguatan hulu, usaha akan kesulitan menjaga kontinuitas pasokan. Karena itu, investasi di sektor peternakan menjadi langkah strategis bagi keberlanjutan bisnis.

Dengan pasokan yang lebih terkendali, Sweet Sundae dapat mengatur distribusi susu plain secara lebih efisien. Hal ini juga membantu perusahaan menyesuaikan volume produksi dengan jadwal pengiriman SPPG. Di sisi lain, skala usaha yang lebih besar memberi ruang untuk ekspansi ke wilayah lain.

Seleksi Mitra SPPG

Meski mendapat banyak tawaran, Yuki tidak langsung menerima semua permintaan kerja sama. Ia memilih untuk selektif dalam menentukan SPPG yang akan menjadi mitra pasokan. Sikap itu diambil agar layanan distribusi tetap berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Menurutnya, pihak SPPG datang langsung ke tempat usahanya dan menawarkan kerja sama untuk memasok susu murni program MBG. Setelah itu, Sweet Sundae melakukan pertimbangan sebelum menyetujui pasokan. Proses seleksi dilakukan untuk memastikan kesesuaian kebutuhan dan kapasitas produksi.

Pendekatan hati-hati tersebut membantu usaha menjaga kualitas pelayanan. Yuki ingin memastikan susu yang dikirim tetap segar, aman, dan sesuai jadwal. Dengan begitu, rantai pasok untuk program MBG dapat berjalan lebih tertib.

Ia menilai, kemitraan yang tepat akan menguntungkan semua pihak, baik produsen maupun penerima manfaat. Karena itu, pemilihan mitra menjadi bagian penting dari strategi bisnisnya. Dalam skema pangan bergizi, ketepatan distribusi sama pentingnya dengan ketersediaan produk.

Peluang UMKM Pangan

Kisah Sweet Sundae menunjukkan bahwa program pemerintah dapat menjadi pengungkit bagi UMKM pangan. Keterlibatan dalam rantai pasok MBG membuka kesempatan bagi usaha kecil untuk naik kelas. Pada saat yang sama, permintaan yang stabil memberi kepastian usaha yang lebih baik.

Di sektor pangan, kepastian serapan menjadi modal penting untuk meningkatkan produksi. UMKM dapat memperluas kapasitas, menambah tenaga kerja, dan memperkuat sumber bahan baku jika pasar tersedia. Hal ini terlihat dari langkah Sweet Sundae yang membangun peternakan sendiri.

Program MBG juga menunjukkan bahwa kebutuhan sosial dapat bertemu dengan peluang ekonomi. Ketika pasokan dikelola dengan baik, pelaku usaha kecil memperoleh manfaat langsung dari belanja pemerintah. Kondisi ini berpotensi menciptakan ekosistem usaha yang lebih berkelanjutan.

Bagi pelaku UMKM lain, pengalaman Sweet Sundae dapat menjadi contoh penting dalam membaca peluang pasar. Selektivitas mitra, konsistensi mutu, dan penguatan hulu menjadi kunci untuk bertahan. Dengan strategi tersebut, program sosial dapat sekaligus menjadi motor pertumbuhan usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!