Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 11:50 WIB 2
Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memicu perubahan fisik dan emosional yang signifikan. Aktris Happy Salma mengaku kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia.

Dalam usia 46 tahun, Happy menyadari bahwa perimenopause bukanlah fase yang bisa dianggap sepele. Ia menilai pemahaman tentang tahapan ini penting agar perempuan lebih siap menghadapi perubahan yang terjadi pada diri mereka.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Happy Salma mengatakan perimenopause dapat dimulai sejak usia 30-an, sehingga banyak perempuan belum menyadari gejala awalnya. Menurutnya, perubahan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga emosi.

Ia menuturkan bahwa sensitifitas terhadap PMS kini terasa berbeda dibanding masa sebelumnya. “Dulu PMS mungkin cuma bikin lebih sensitif, sekarang rasanya bisa jauh lebih sensitif,” ujarnya.

Perubahan tersebut membuat tubuh membutuhkan perhatian yang lebih besar dari biasanya. Karena itu, ia menilai penting bagi perempuan untuk mengenali sinyal tubuh sejak dini.

Brain fog yang dirasakan

Salah satu perubahan yang juga dirasakan Happy adalah brain fog, yakni kondisi ketika seseorang lebih mudah lupa dan sulit berkonsentrasi. Ia menyebut hal itu mulai memengaruhi aktivitas yang selama ini menjadi bagian dari pekerjaannya.

Brain fog pada fase perimenopause umumnya dipicu fluktuasi hormon, terutama estrogen yang berperan penting bagi fungsi otak. Dampaknya bisa terasa pada kemampuan menghafal, menjaga fokus, hingga mengambil keputusan.

Happy mengaku hal tersebut membuat pekerjaannya sebagai aktris menjadi lebih menantang. “Saya bekerja dengan menghafal naskah, tapi sekarang sering mengalami brain fog, jadi mudah lupa,” katanya.

Fase untuk refleksi diri

Meski menghadapi berbagai perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai momen untuk lebih mengenal diri sendiri dan memperbaiki kualitas hidup.

Baginya, fase ini membuka ruang untuk lebih menghargai tubuh, kehidupan, dan hubungan dengan Sang Pencipta. Ia menyebutnya sebagai kesempatan kedua untuk glowing dari dalam.

Happy menilai banyak perempuan justru bisa merasa lebih bahagia di usia ini karena lebih memahami dirinya. Menurutnya, kedekatan dengan diri sendiri membuat seseorang lebih tenang dalam menjalani hidup.

Pentingnya memahami perimenopause

Happy menekankan bahwa pemahaman menjadi kunci untuk menghadapi perimenopause dengan lebih baik. Karena itu, ia kini lebih aktif mencari informasi terkait kondisi tersebut.

Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan diri. Langkah itu ia lakukan agar tubuh dan pikiran tetap terjaga selama melalui fase transisi ini.

Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika Arini Astasari, bersama Happy Salma dan desainer interior Yuni Jie, turut menjadi bagian dari diskusi seputar fase ini. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa perimenopause semakin menjadi topik penting untuk dipahami perempuan Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!