Sarden Kalengan Tak Selalu Aman, Ini Sorotan BPA dan Natrium

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 02:57 WIB 2
Sarden Kalengan Tak Selalu Aman, Ini Sorotan BPA dan Natrium

Sarden kalengan kembali menjadi perbincangan setelah disebut bukan termasuk produk ultra processed food atau UPF. Label tersebut membuat sebagian orang mengira sarden kalengan otomatis lebih sehat, padahal penilaiannya tidak sesederhana itu.

Risiko kesehatan pada makanan kemasan tidak hanya ditentukan oleh tingkat pemrosesan, tetapi juga kandungan gizi dan potensi kontaminan. Pada sarden kalengan, sorotan utama datang dari kadar natrium yang tinggi serta kemungkinan paparan BPA dari lapisan kaleng.

Sarden Kalengan dan BPA

Sarden kalengan kerap dinilai aman karena praktis, tahan lama, dan mudah dikonsumsi. Namun, proses pengalengan membuat makanan ini tidak lepas dari perhatian para ahli kesehatan.

Salah satu isu yang paling sering muncul adalah paparan Bisphenol A atau BPA. Senyawa ini digunakan sebagai bagian dari resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan.

Lapisan tersebut berfungsi melindungi makanan dari kontak langsung dengan logam. Akan tetapi, pada kondisi tertentu seperti pemanasan atau kerusakan kemasan, partikel BPA dapat berpindah ke makanan di dalamnya.

Dampak Paparan BPA

Risiko BPA menjadi penting karena paparan berlebih dapat menimbulkan dampak kesehatan. Dalam beberapa kajian, BPA dikaitkan dengan gangguan hormonal dan masalah metabolik.

Jika paparan terjadi terus-menerus dalam jangka panjang, kekhawatiran terhadap akumulasi zat ini juga meningkat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tubuh tidak selalu langsung menunjukkan gejala saat terpapar dalam kadar rendah.

Di sisi lain, paparan BPA dari makanan kaleng tidak selalu berada pada tingkat berbahaya. Penilaian tetap harus melihat kadar yang masuk ke tubuh dan seberapa sering makanan tersebut dikonsumsi.

Temuan Penelitian Terkini

Risiko migrasi BPA dari kaleng makanan telah diteliti dalam berbagai studi. Salah satunya adalah riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023.

Dalam penelitian itu, migrasi partikel BPA ditemukan dalam kadar kecil. Angka tersebut masih berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari.

Temuan ini menunjukkan bahwa paparan pada kadar di bawah ambang regulasi belum tentu menimbulkan dampak kesehatan langsung. Meski begitu, para ahli tetap mengingatkan pentingnya kehati-hatian, terutama jika konsumsi berlangsung berulang.

Bijak Konsumsi Makanan Kaleng

Selain BPA, sarden kalengan juga mengandung natrium yang cukup tinggi. Asupan natrium berlebih dapat menjadi masalah bagi orang dengan tekanan darah tinggi atau risiko penyakit jantung.

Karena itu, status non-UPF tidak otomatis menjadikan produk ini lebih sehat. Penilaian gizi tetap perlu melihat keseluruhan komposisi, metode pengolahan, dan frekuensi konsumsi.

Praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, mengatakan konsumsi makanan yang tercemar BPA secara terus-menerus berpotensi mengganggu kesehatan metabolik, hormonal, bahkan memicu risiko kanker. Ia menekankan, masyarakat perlu lebih cermat memilih makanan kemasan dan tidak hanya terpaku pada label pemasaran.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!