Purbaya Bidik Rupiah Menguat ke Rp15.000 per Dolar AS

Forex & Saham Gilang Nabaris 01 Juni 2026 04:04 WIB 3
Purbaya Bidik Rupiah Menguat ke Rp15.000 per Dolar AS

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan nilai tukar rupiah dapat kembali menguat ke level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat dari posisi yang masih berada di atas Rp 17.600. Ia menyebut pemerintah akan mengambil langkah baru mulai pekan depan untuk mendorong penguatan mata uang Garuda dan menjaga aliran devisa hasil ekspor tetap berada di dalam negeri.

Di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (22/5/2026), Purbaya menegaskan kebijakan tersebut akan berkaitan erat dengan pengelolaan devisa hasil ekspor atau DHE. Pemerintah juga menyiapkan aturan penempatan DHE baru yang berlaku mulai Juni 2026, termasuk kewajiban penyimpanan dana di bank-bank milik negara.

Strategi penguatan rupiah

Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan bergerak lebih agresif untuk memperbaiki posisi rupiah. Ia tidak merinci instrumen yang akan dipakai, namun menyebut kebijakan itu akan segera berjalan.

Menurutnya, langkah yang disiapkan harus memberi dampak langsung pada pasar valuta asing. Fokus utama pemerintah adalah menahan tekanan terhadap rupiah agar tidak terus melemah.

Ia mengatakan, arah kebijakan tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga harus menjaga kepercayaan pelaku pasar. Dengan begitu, stabilitas nilai tukar dapat diperkuat secara bertahap.

DHE jadi penopang utama

Purbaya menilai penguatan rupiah akan sangat terbantu jika devisa hasil ekspor tidak keluar dari sistem keuangan domestik. Karena itu, pemerintah mempercepat penerapan aturan baru terkait penempatan DHE.

Aturan tersebut akan mulai berlaku pada Juni 2026 dan mendorong eksportir menempatkan dananya di Himbara. Pemerintah berharap kebijakan ini membuat dana hasil ekspor tetap berputar di dalam negeri.

Ia mencontohkan sektor batu bara dan minyak sawit mentah atau CPO sebagai sumber devisa yang besar. Jika hasil ekspor itu tinggal di Indonesia, maka pasokan valas akan semakin kuat.

Imbal hasil obligasi dijaga

Selain DHE, Kementerian Keuangan juga menempuh langkah stabilisasi melalui pasar obligasi. Kebijakan itu diarahkan agar imbal hasil atau yield obligasi tidak melonjak terlalu tinggi.

Menurut Purbaya, kenaikan yield yang tajam berpotensi memicu keluarnya modal asing dari pasar domestik. Karena itu, stabilitas harga obligasi menjadi salah satu perhatian utama pemerintah.

Ia menambahkan, jika harga obligasi stabil, investor asing cenderung tetap masuk. Kondisi tersebut akan mendukung pasar keuangan sekaligus membantu menjaga tekanan terhadap rupiah.

Target pasar ke depan

Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara pasar valas, DHE, dan obligasi. Ia meyakini kombinasi kebijakan itu bisa memperbaiki sentimen pasar secara bertahap.

Dalam pandangannya, stabilitas yang lebih baik akan membuat pelaku pasar lebih percaya diri. Kepercayaan itu penting agar aliran dana asing tidak ragu bertahan di Indonesia.

Pemerintah pun menargetkan hasil kebijakan tersebut dapat terlihat dalam waktu dekat. Jika berjalan sesuai rencana, rupiah diharapkan bergerak menuju level yang lebih kuat dan lebih stabil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!