Jeroan Saat Idul Adha, Ini Risiko dan Cara Aman Mengonsumsinya

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 05:18 WIB 3
Jeroan Saat Idul Adha, Ini Risiko dan Cara Aman Mengonsumsinya

Saat Idul Adha, olahan jeroan seperti sate hati, gulai babat, hingga paru goreng kerap menjadi hidangan favorit di banyak rumah. Di tengah tradisi berbagi daging kurban, sebagian masyarakat masih menganggap jeroan lebih berisiko dibanding daging biasa karena dikaitkan dengan kolesterol dan asam urat.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa jeroan memang memiliki potensi paling besar meningkatkan kadar kolesterol dan asam urat. Namun, ia menekankan risiko tersebut terutama muncul ketika konsumsi dilakukan berlebihan, bukan semata karena menyantap daging kurban.

Jeroan dan risiko kesehatan

Menurut dr Aru, bagian hewan yang paling berisiko terhadap kenaikan kolesterol dan asam urat adalah jeroan. Ia menjelaskan bahwa organ dalam hewan mengandung zat yang lebih mudah memicu gangguan metabolik jika dikonsumsi terlalu sering.

Kalau dari hewan itu, yang paling banyak meningkatkan kolesterol dan asam urat adalah bagian jeroan, ujarnya. Karena itu, masyarakat yang memiliki riwayat kolesterol tinggi atau asam urat perlu lebih berhati-hati saat memilih menu kurban.

Meski demikian, dokter menegaskan bahwa jeroan bukan berarti harus dihindari total sepanjang waktu. Kuncinya ada pada porsi, frekuensi, dan keseimbangan dengan asupan makanan lain yang lebih aman bagi tubuh.

Daging biasa tidak otomatis berbahaya

Dr Aru menjelaskan bahwa daging biasa tidak otomatis memicu masalah kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah wajar. Meski tetap dapat meningkatkan kolesterol dan asam urat, efeknya tidak setinggi jeroan jika porsi dan cara pengolahannya terkontrol.

Tapi kalau dagingnya sendiri sih tidak terlalu banyak meningkatkan kolesterol maupun asam urat, meskipun bisa meningkatkan keduanya, katanya. Penjelasan ini menjadi pengingat bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan saat menerima daging kurban.

Yang perlu diwaspadai adalah pola makan yang berubah drastis selama Idul Adha. Jika daging dikonsumsi terus-menerus tanpa memperhatikan komposisi menu, risiko gangguan kesehatan dapat meningkat secara bertahap.

Risiko meningkat saat berlebihan

Dokter menilai persoalan utama bukan hanya jenis makanan, melainkan jumlah yang dikonsumsi. Saat jeroan dan daging dimakan berulang tanpa jeda, tubuh akan lebih sulit mengendalikan kadar kolesterol dan asam urat.

Konsepnya tadi saya bilang makannya, pada waktu Lebaran Haji atau Lebaran Idul Adha ini, kita makan seperti biasa, jangan berlebih, jelasnya. Anjuran itu menjadi penting agar momen perayaan tidak berubah menjadi kebiasaan makan yang merugikan kesehatan.

Pola makan seimbang tetap dibutuhkan, meski suasana perayaan sering membuat orang ingin menyantap berbagai olahan daging sekaligus. Dengan mengatur porsi, masyarakat tetap bisa menikmati hidangan kurban tanpa memaksakan tubuh bekerja lebih berat.

Bukti riset tentang purin

Temuan dr Aru sejalan dengan riset yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases. Studi tersebut menunjukkan bahwa makanan tinggi purin dari sumber hewani dapat meningkatkan risiko serangan gout berulang secara signifikan.

Peneliti bahkan menemukan risiko kekambuhan gout bisa meningkat hingga hampir lima kali lipat. Dalam analisis itu, organ meats atau jeroan secara khusus dimasukkan ke dalam kelompok makanan tinggi purin yang diperiksa.

Hasil riset tersebut memperkuat pentingnya kehati-hatian saat mengonsumsi jeroan, terutama bagi orang yang sudah pernah mengalami asam urat. Dengan memahami risikonya, masyarakat dapat tetap merayakan Idul Adha secara lebih sehat dan terukur.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!