Sarden Kalengan dan UPF, Ini Penjelasan Klasifikasi Makanannya

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 16:02 WIB 14
Sarden Kalengan dan UPF, Ini Penjelasan Klasifikasi Makanannya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, terutama ketika publik mulai lebih cermat menilai makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Di tengah sorotan itu, sarden kalengan ikut menjadi perbincangan setelah muncul klaim bahwa makanan ini belum tentu masuk kategori UPF. Perdebatan tersebut memicu pertanyaan penting, yakni apakah makanan kalengan otomatis tidak sehat, atau justru perlu dinilai berdasarkan jenis dan tingkat pemrosesannya.

Jawabannya tidak sesederhana label “kalengan”, karena klasifikasi makanan dalam sistem NOVA membedakan produk berdasarkan proses pengolahan dan bahan tambahan yang digunakan. Dalam kerangka ini, sarden kalengan dapat masuk kategori berbeda dari UPF jika komposisinya sederhana dan hanya melewati proses pengawetan dasar. Karena itu, memahami definisi UPF menjadi langkah awal agar masyarakat tidak salah menilai makanan olahan.

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan tidak otomatis termasuk UPF, sebab penentu utamanya bukan bentuk kemasan, melainkan komposisi dan tingkat pemrosesan. Jika ikan hanya diawetkan dengan garam, minyak, atau saus sederhana, produk tersebut cenderung masuk kategori makanan olahan biasa. Penilaian ini penting agar publik tidak menyamakan semua makanan kalengan sebagai produk yang sama.

Dalam klasifikasi NOVA, ikan kalengan dapat digolongkan sebagai processed food apabila prosesnya masih sederhana dan bertujuan memperpanjang daya simpan. Kondisi itu berbeda dari UPF yang biasanya dibuat melalui formulasi industri yang kompleks. Dengan demikian, sarden kalengan perlu dilihat dari label bahan, bukan dari kemasannya semata.

Pandangan yang menyebut seluruh makanan kalengan sebagai UPF dinilai terlalu menyederhanakan persoalan. Banyak produk kalengan justru dibuat untuk menjaga mutu bahan pangan agar lebih tahan lama dan praktis dikonsumsi. Selama bahan tambahannya terbatas, produk tersebut belum tentu memenuhi ciri-ciri UPF.

Karena itu, masyarakat perlu membaca informasi gizi dan daftar komposisi sebelum mengambil kesimpulan. Informasi tersebut membantu membedakan produk yang hanya diolah sederhana dengan produk yang sudah melewati formulasi industri yang rumit. Cara ini juga memberi gambaran yang lebih akurat tentang kualitas makanan yang dikonsumsi.

Memahami Klasifikasi NOVA

Sistem NOVA dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brasil untuk mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya. Klasifikasi ini membagi makanan ke dalam empat kelompok utama. Pembagian tersebut digunakan sebagai acuan untuk memahami karakter pangan secara lebih rinci.

Kelompok pertama berisi unprocessed or minimally processed foods, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua adalah processed culinary ingredients, yang mencakup gula, garam, mentega, dan minyak. Kelompok ketiga adalah processed foods yang dibuat dengan penambahan garam, gula, atau minyak untuk memperpanjang daya simpan atau memperbaiki rasa.

Kelompok keempat adalah ultra-processed foods, yaitu produk formulasi industri yang umumnya mengandung banyak bahan tambahan. Bahan tersebut bisa berupa perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan pengawet tertentu. Produk seperti minuman manis kemasan, camilan tinggi gula atau garam, serta makanan siap santap tertentu kerap masuk kategori ini.

Perbedaan antar kelompok tersebut menunjukkan bahwa istilah makanan olahan memiliki cakupan yang luas. Tidak semua produk yang diproses memiliki risiko yang sama atau masuk kategori yang sama pula. Karena itu, NOVA membantu masyarakat menilai makanan secara lebih objektif berdasarkan proses pembuatannya.

Membedakan Processed Food

Processed food biasanya masih mempertahankan bentuk dasar bahan pangan, namun mengalami penambahan garam, gula, atau minyak. Proses ini dilakukan untuk meningkatkan cita rasa dan daya simpan tanpa mengubah produk menjadi formulasi industri yang kompleks. Sarden kalengan sering masuk kelompok ini jika komponennya sederhana.

Berbeda dengan itu, UPF umumnya dirancang agar sangat praktis, sangat menarik, dan stabil dalam jangka panjang. Produk semacam ini kerap mengandung daftar bahan yang panjang, termasuk zat aditif yang jarang digunakan di dapur rumah tangga. Ciri tersebut membuat UPF berbeda secara mendasar dari makanan olahan biasa.

Penting pula dipahami bahwa rasa lezat atau kemasan modern bukanlah satu-satunya penentu status UPF. Banyak makanan yang terlihat menarik tetap berada di kategori processed food karena tidak mengandung banyak bahan tambahan. Karena itu, penilaian yang akurat harus mengacu pada komposisi dan metode pengolahan.

Jika sebuah produk hanya menggunakan sedikit bahan dan prosesnya masih sederhana, maka produk tersebut tidak serta-merta menjadi UPF. Sebaliknya, semakin panjang daftar bahan dan semakin kompleks formulanya, semakin besar kemungkinan produk itu masuk kategori ultra-processed. Pemahaman ini membantu konsumen mengurangi kekeliruan dalam membaca label makanan.

Bijak Memilih Makanan

Di tengah maraknya informasi di media sosial, masyarakat perlu lebih kritis terhadap klaim seputar makanan sehat dan tidak sehat. Satu kategori produk tidak bisa langsung dianggap buruk tanpa melihat konteks pengolahan dan komposisinya. Sikap hati-hati ini penting agar publik tidak terjebak pada generalisasi.

Untuk produk seperti sarden kalengan, konsumen dapat memeriksa bahan utama, kandungan garam, minyak, dan aditif tambahan yang tercantum pada label. Langkah sederhana ini membantu menilai apakah produk tersebut hanya processed food atau sudah mendekati UPF. Dengan kebiasaan membaca label, pilihan konsumsi menjadi lebih terarah.

Selain itu, makanan kemasan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan yang seimbang jika dikonsumsi secara wajar. Kuncinya terletak pada variasi pangan, porsi yang sesuai, dan frekuensi konsumsi yang tidak berlebihan. Pendekatan ini jauh lebih relevan daripada memberi cap buruk secara menyeluruh pada semua makanan olahan.

Pada akhirnya, sarden kalengan tidak dapat disamaratakan sebagai UPF tanpa melihat formulanya secara spesifik. Penilaian yang tepat harus bertumpu pada klasifikasi NOVA, daftar bahan, dan tujuan pemrosesan produk. Dengan begitu, masyarakat dapat membuat keputusan konsumsi yang lebih bijak dan berbasis informasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!