Sarden Kalengan Bukan UPF, Ini Risiko BPAnya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 23:40 WIB 3
Sarden Kalengan Bukan UPF, Ini Risiko BPAnya

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah disebut bukan termasuk ultra processed food atau UPF. Namun, anggapan bahwa status tersebut otomatis membuatnya lebih sehat dinilai keliru. Risiko kesehatan pada makanan tidak hanya ditentukan oleh tingkat pemrosesan, melainkan juga kandungan gizi dan kemasan yang digunakan.

Selain natrium yang relatif tinggi, sarden kalengan juga dikaitkan dengan potensi paparan BPA atau Bisphenol A. Senyawa ini dapat berasal dari lapisan resin epoksi pada bagian dalam kaleng makanan. Jika paparan terjadi terus-menerus, dampaknya perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.

Sarden Kalengan dan BPA

BPA adalah senyawa yang kerap digunakan dalam lapisan pelindung kaleng makanan. Fungsinya membantu menjaga makanan dari kontak langsung dengan logam. Meski demikian, bahan ini dapat berpindah ke makanan pada kondisi tertentu.

Perpindahan BPA biasanya meningkat saat kaleng mengalami pemanasan atau kerusakan. Kondisi tersebut membuat partikel BPA lebih mudah bermigrasi ke dalam isi makanan. Karena itu, aspek kemasan menjadi bagian penting dalam menilai keamanan produk.

Riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023 turut meneliti migrasi BPA pada kemasan makanan. Hasilnya menunjukkan kadar BPA yang ditemukan masih di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari. Meski demikian, hasil rendah bukan berarti risiko dapat diabaikan sepenuhnya.

Risiko Sarden Kalengan

Salah satu perhatian utama pada sarden kalengan adalah tingginya kadar natrium. Jika dikonsumsi berlebihan, natrium dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Karena itu, porsi konsumsi tetap perlu diperhatikan.

Selain natrium, paparan BPA juga menjadi isu yang sering dibahas dalam produk kaleng. BPA disebut dapat masuk ke makanan ketika lapisan pelindung mengalami perubahan. Dalam jumlah tertentu, paparan ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan.

Risiko kesehatan dari sarden kalengan tidak dapat dinilai hanya dari label non-UPF. Penilaian harus melihat komposisi, cara pengolahan, dan keamanan kemasannya. Dengan begitu, masyarakat dapat menimbang manfaat dan risikonya secara lebih utuh.

Paparan BPA Jangka Panjang

Menurut praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, paparan BPA yang terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan. Ia menyebut gangguan metabolik sebagai salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Selain itu, gangguan hormonal juga menjadi perhatian utama.

Dalam jangka panjang, akumulasi paparan dari berbagai sumber bisa menjadi persoalan. Meski tiap paparan berada di bawah ambang batas, akumulasi tetap perlu diwaspadai. Hal ini terutama berlaku jika konsumsi makanan kaleng dilakukan terlalu sering.

Sejumlah kajian juga mengaitkan paparan BPA dengan risiko penyakit serius lainnya. Salah satunya adalah potensi peningkatan risiko kanker bila paparan berlangsung lama. Karena itu, kehati-hatian tetap diperlukan meski produk tampak aman di permukaan.

Cara Memilih Sarden Aman

Masyarakat disarankan membaca label gizi sebelum membeli sarden kalengan. Perhatikan kandungan natrium, gula, dan bahan tambahan lain yang tercantum. Informasi tersebut membantu menentukan apakah produk cocok dikonsumsi secara rutin atau hanya sesekali.

Pemilihan kemasan juga tidak kalah penting, terutama jika kaleng tampak penyok atau rusak. Kemasan yang bermasalah dapat meningkatkan kemungkinan migrasi bahan dari lapisan kaleng. Karena itu, produk dengan kondisi fisik baik lebih layak dipilih.

Konsumsi sarden kalengan sebaiknya diimbangi dengan makanan segar dan sumber protein lain. Pola makan yang beragam dapat membantu menekan paparan natrium maupun BPA dari satu jenis produk. Dengan kebiasaan yang lebih bijak, risiko tetap bisa dikendalikan tanpa harus menghindari seluruh makanan kaleng.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!