Sampah Disulap Jadi Produk Bernilai, Tembus Pasar Global

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 22 Mei 2026 18:11 WIB 5
Sampah Disulap Jadi Produk Bernilai, Tembus Pasar Global

Sampah kerap dianggap tidak bernilai, bahkan menjadi sumber masalah di lingkungan. Namun, di tangan pelaku usaha kreatif, limbah justru dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi dan diminati pasar luar negeri.

Inovasi itu dilakukan oleh Robries yang dipimpin CEO dan Founder Syukriyatun Niamah bersama Co Founder Lumosh Raymond Tjiadi. Keduanya memanfaatkan sampah botol plastik dan limbah keramik menjadi produk fungsional dengan desain menarik, sekaligus mendorong praktik usaha yang lebih ramah lingkungan.

Inovasi sampah jadi produk

Robries berdiri pada 2018 dengan fokus mengolah sampah botol plastik menjadi furnitur. Syukriyatun Niamah mengatakan, tujuan utama usaha ini adalah mengurangi persoalan lingkungan melalui produk yang punya nilai guna. Dari bahan yang kerap dianggap tidak berguna, perusahaan itu menghadirkan karya yang tampil modern dan menarik. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun bisnis berkelanjutan.

Produk yang dihasilkan Robries tidak sekadar menonjolkan fungsi, tetapi juga aspek desain. Hal itu penting karena pasar cenderung melihat produk daur ulang sebagai barang yang belum umum. Menurut Syukriyatun, edukasi kepada masyarakat masih menjadi kebutuhan utama agar produk serupa lebih mudah diterima. Dengan pendekatan itu, perusahaan berharap persepsi terhadap sampah dapat berubah.

Hingga kini, Robries terus mengembangkan produk berbahan dasar sampah botol plastik. Dalam proses produksi, perusahaan tetap menjaga kualitas agar hasil akhirnya konsisten. Syukriyatun menyebut ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan setiap saat. Karena itu, pencarian pasokan sampah dilakukan secara berkelanjutan.

Selama berjalan sejak 2018, Robries telah memproduksi sekitar 25 ribu produk. Volume sampah yang berhasil diolah mencapai 145 ton. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat menjadi model bisnis yang menjanjikan. Selain berdampak bagi lingkungan, usaha ini juga menghasilkan nilai ekonomi yang nyata.

Tantangan pasokan dan edukasi

Meski memiliki potensi besar, produk daur ulang tetap menghadapi hambatan dalam pemasaran. Syukriyatun menilai, tantangan pertama datang dari edukasi pasar karena produk berbasis sampah belum tergolong umum. Kondisi ini membuat calon konsumen perlu memahami nilai tambah yang ditawarkan. Tanpa edukasi yang cukup, penetrasi pasar menjadi lebih lambat.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan bahan baku yang tidak selalu tersedia secara stabil. Robries menggunakan tutup botol plastik sebagai material utama untuk menjaga karakter produk. Namun, ketersediaan sampah tersebut sering kali tidak konsisten. Situasi ini menuntut perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara suplai dan kualitas produksi.

Menurut Syukriyatun, kualitas produk tidak boleh dikorbankan meski bahan baku terbatas. Perusahaan harus terus mencari pasokan yang sesuai agar standar desain tetap terjaga. Langkah ini penting karena konsumen, termasuk dari luar negeri, menilai produk dari tampilan dan ketahanannya. Dengan demikian, proses kurasi bahan menjadi bagian penting dalam bisnis.

Upaya mengedukasi pasar juga dilakukan melalui komunikasi yang lebih intensif. Robries menekankan bahwa produk daur ulang memiliki cerita dan nilai sosial yang berbeda dari barang konvensional. Cerita tersebut menjadi kekuatan dalam membangun kedekatan dengan pembeli. Jika dipahami dengan baik, produk daur ulang dapat bersaing di pasar yang lebih luas.

Peran IDDC dorong ekspor

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan melalui Indonesia Design Development Center atau IDDC terus membantu UMKM menembus pasar global. Fasilitas itu diberikan kepada pelaku usaha yang telah lulus kurasi untuk mengikuti Trade Expo Indonesia 2025. Program ini dirancang agar produk lokal memiliki peluang bertemu pembeli internasional. Dukungan tersebut menjadi pintu masuk penting bagi pelaku usaha kreatif.

Trade Expo Indonesia 2025 menjadi ajang berskala internasional yang diikuti 8.045 pembeli dari 130 negara. Kehadiran para buyer membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperluas jaringan dagang. Dalam konteks ekspor, pertemuan langsung dengan calon pembeli sangat menentukan. Karena itu, pameran tersebut memiliki nilai strategis bagi produk Indonesia.

Syukriyatun mengakui IDDC memberi kemudahan besar bagi perkembangan Robries. Ia menyebut, bimbingan dan pengarahan dari IDDC membantu perusahaan mengemas produk agar lebih menarik di mata pembeli. Pendampingan itu juga membuat proses persiapan menuju pasar ekspor menjadi lebih terarah. Dengan dukungan tersebut, peluang produk untuk dikenal lebih luas semakin terbuka.

Syukriyatun juga menuturkan bahwa perjalanan panjang pengajuan penghargaan desain akhirnya membuahkan hasil. Setelah empat tahun mendapat bimbingan IDDC, Robries meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan pada tahun ini. Pencapaian itu dinilai berdampak besar terhadap penetrasi pasar ekspor. Pengakuan desain menjadi modal penting untuk meningkatkan kepercayaan pembeli internasional.

Produk limbah keramik meluas

Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, juga merasakan manfaat dari pendampingan IDDC. Perusahaannya mengolah limbah keramik menjadi produk rumah tangga dengan desain artistik. Produk yang dihasilkan antara lain piring, gelas, dan berbagai perlengkapan rumah lainnya. Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa limbah dapat memiliki nilai estetika dan ekonomi sekaligus.

Raymond menjelaskan bahwa pengolahan sampah keramik masih tergolong jarang di Indonesia. Karena itu, pencarian referensi dan riset menjadi tantangan tersendiri bagi timnya. Mereka harus menggali pengetahuan dari berbagai sumber untuk memahami karakter bahan. Proses tersebut membutuhkan ketekunan agar produk yang dihasilkan tetap relevan dan representatif.

Dalam proses pengembangan, Lumosh mendapat bantuan riset dari tim IDDC. Dukungan itu membantu perusahaan menemukan pendekatan desain yang tepat untuk menunjukkan identitas produk daur ulang. Raymond menilai visual produk harus langsung memperlihatkan bahwa bahan dasarnya berasal dari limbah keramik. Dengan cara itu, pesan keberlanjutan lebih mudah diterima pasar.

Selain aspek desain, IDDC juga menjadi tempat konsultasi bagi Lumosh terkait pasar global. Raymond mengatakan masukan dari IDDC sangat membantu dalam menentukan negara tujuan yang potensial. Pendampingan tersebut membuat pelaku UMKM lebih percaya diri dalam memetakan ekspansi. Bagi usaha kecil, arahan yang tepat dapat mempercepat langkah menuju pasar internasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!