BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi Moh. Royhan Nahado 26 Mei 2026 08:18 WIB 4
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit menjajaki kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan berdaya saing. Peluang kerja sama tersebut disampaikan Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, beberapa waktu lalu.

Chusnul menegaskan, ruang kolaborasi dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kerja sama dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri. Menurutnya, sinergi tersebut penting untuk mempercepat penguatan kapasitas nasional di bidang satelit. Ia juga menilai Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi dan integrasi data satelit nasional.

Kolaborasi Satelit LEO

BRIN saat ini tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset juga akan diarahkan pada pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi. Arah riset ini menunjukkan fokus BRIN pada penguatan teknologi pengamatan bumi dan layanan komunikasi satelit.

Dalam kesempatan itu, BRIN melihat Telkomsat sebagai mitra potensial untuk mendukung hilirisasi teknologi yang sedang dikembangkan. Kolaborasi juga dinilai dapat memperkuat infrastruktur pendukung serta memperluas pemanfaatan hasil riset. Selain itu, integrasi data satelit nasional diharapkan menjadi lebih efektif melalui sinergi kedua pihak.

Chusnul menambahkan, perubahan teknologi dari Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES turut membuka peluang kerja sama baru. Peralihan ini dinilai relevan dengan kebutuhan layanan satelit yang semakin dinamis. Dengan kerja sama yang tepat, ekosistem satelit nasional berpeluang tumbuh lebih terhubung dan adaptif.

Tantangan Operasi Satelit

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, memaparkan bahwa satelit LEO bergerak sangat cepat mengelilingi Bumi. Periode orbitnya hanya sekitar 90 hingga 120 menit, sehingga sistem operasional harus berjalan dinamis dan responsif. Kondisi ini membuat pengelolaan satelit membutuhkan presisi tinggi pada setiap tahap operasi.

Menurut Satriya, manajemen misi mencakup perencanaan dan pengaturan aktivitas satelit secara menyeluruh. Proses tersebut meliputi penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaatnya optimal. Tanpa manajemen yang baik, potensi satelit LEO tidak akan termanfaatkan secara maksimal.

Aspek pengendalian orbit juga menjadi hal penting untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalurnya. Koreksi orbit dilakukan secara berkala, sekaligus mengantisipasi kemungkinan tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Dalam konteks ini, ketepatan pemantauan menjadi faktor penentu keselamatan satelit.

Komunikasi dan Pemantauan

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu terbatas. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang sangat presisi, termasuk penjadwalan uplink dan downlink. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga menjadi syarat utama agar komunikasi tetap efisien.

Operator satelit juga harus memantau kesehatan satelit secara real time untuk memastikan seluruh sistem berjalan normal. Pemantauan dilakukan terhadap daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Jika ada gangguan, tindakan korektif dapat dilakukan lebih cepat sebelum berdampak lebih luas.

Satriya menilai kemampuan memantau kondisi satelit secara waktu nyata sangat penting dalam operasi modern. Sistem yang baik akan membantu operator merespons anomali dengan cepat dan terukur. Dengan begitu, keberlangsungan misi satelit dapat dijaga secara lebih efektif.

Perangkat Lunak Satelit

Satriya menambahkan, pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak berperan dalam perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Tanpa perangkat lunak yang andal, operasi satelit akan sulit berjalan secara efisien.

Di tengah berkembangnya kebutuhan teknologi antariksa, kemandirian perangkat lunak menjadi semakin penting. Hal ini dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada solusi dari luar negeri. Selain itu, penguasaan perangkat lunak akan memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi satelit.

BRIN menilai kolaborasi dengan Telkomsat dapat menjadi jalan untuk mempercepat penguasaan teknologi tersebut. Sinergi riset, industri, dan infrastruktur diharapkan melahirkan ekosistem satelit nasional yang lebih kuat. Dengan fondasi itu, Indonesia berpeluang memperluas pemanfaatan satelit untuk kebutuhan strategis di masa depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!