Rupiah Tertekan, Ini Dampaknya ke Ekonomi dan Kelas Menengah

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 15:24 WIB 3
Rupiah Tertekan, Ini Dampaknya ke Ekonomi dan Kelas Menengah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus merangkak melemah hingga berada di level Rp17.881 per dolar AS. Kondisi ini memicu tekanan pada perekonomian nasional karena berdampak langsung terhadap harga barang impor, suku bunga, dan biaya utang.

Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menjelaskan, pelemahan rupiah memiliki beberapa jalur dampak yang dapat dirasakan masyarakat dan pelaku usaha. Menurut dia, kelompok kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah berpotensi paling merasakan tekanan ketika dolar AS terus menguat.

Dampak Rupiah ke Ekonomi

Pelemahan rupiah membuat harga barang impor dan bahan baku impor ikut naik. Kondisi ini terjadi karena pelaku usaha membutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang yang dibanderol dalam dolar AS.

Menurut Tauhid, kenaikan tersebut dapat memicu import inflation yang kemudian mendorong harga barang konsumsi naik. Produk elektronik dan sejumlah komoditas pangan, seperti kedelai, termasuk yang berisiko mengalami kenaikan harga.

Dampaknya tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga produsen yang bergantung pada komponen impor. Ketika biaya produksi meningkat, tekanan harga di pasar dalam negeri ikut membesar dan inflasi menjadi lebih sulit dikendalikan.

Harga Impor Semakin Mahal

Barang impor menjadi salah satu sektor yang paling cepat merespons pelemahan rupiah. Saat kurs bergerak naik, importir harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga pasokan tetap berjalan.

Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya diteruskan ke harga jual di tingkat konsumen. Akibatnya, masyarakat harus menyesuaikan belanja, terutama untuk barang-barang yang tidak tergolong kebutuhan pokok.

Tauhid menilai masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam mengonsumsi produk impor di tengah tekanan kurs. Langkah penghematan ini dinilai penting agar pengeluaran rumah tangga tidak semakin membengkak.

Beban Kredit Ikut Naik

Pelemahan rupiah juga mendorong Bank Indonesia mempertahankan atau menaikkan suku bunga acuan demi menahan tekanan inflasi. Saat suku bunga acuan naik, bunga kredit perbankan umumnya ikut terkerek.

Menurut Tauhid, konsekuensi tersebut akan terasa pada berbagai jenis pinjaman, mulai dari kredit pemilikan rumah hingga kredit konsumtif. Beban cicilan berpotensi meningkat, terutama bagi debitur yang menggunakan skema bunga mengambang atau floating.

Ia menyarankan masyarakat mencari pinjaman dengan bunga tetap agar beban angsuran lebih terukur. Pilihan ini dinilai lebih aman dibandingkan skema floating yang rentan naik saat suku bunga acuan bergerak naik.

Langkah Aman Kelas Menengah

Selain mengurangi belanja yang tidak penting, kelas menengah juga perlu menata ulang sumber pendapatan. Tauhid menekankan bahwa penghematan saja tidak cukup jika pemasukan tidak ikut diperkuat.

Ia menyebut masyarakat perlu mencari peluang pendapatan tambahan, baik dari usaha kecil maupun pekerjaan berbasis jasa. Opsi seperti berdagang, menjadi pengemudi ojek daring, atau mengambil pekerjaan sampingan bisa membantu menjaga arus kas rumah tangga.

Di sisi lain, keluarga perlu memprioritaskan pengeluaran yang benar-benar penting dan menunda konsumsi barang impor yang tidak mendesak. Dengan langkah tersebut, tekanan akibat pelemahan rupiah dapat dihadapi dengan lebih bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!