Aisah Sukses Jual Jajanan Betawi hingga Omzet Jutaan

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 16:46 WIB 2
Aisah Sukses Jual Jajanan Betawi hingga Omzet Jutaan

Aisah, mantan karyawan pabrik, membuktikan bahwa usaha sampingan bisa tumbuh menjadi sumber penghasilan utama. Berawal dari keinginan menambah pemasukan, ia kini dikenal lewat merek jajanan jadul khas Betawi bernama Betawi Punya Gaye. Usaha itu lahir pada 2020 dan berkembang hingga menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulan. Perjalanan Aisah menjadi sorotan karena penuh keberanian, adaptasi, dan konsistensi.

Sebelum sukses menjual kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang, Aisah lebih dulu merintis usaha keripik pedas sejak masih bekerja di pabrik. Namun, perubahan pasar dan menurunnya penjualan membuatnya harus memikirkan langkah baru. Dari situ, ia beralih ke jajanan khas Betawi yang justru membuka peluang lebih besar. Keputusan itu menjadi titik balik penting dalam hidupnya.

Awal usaha jajanan Betawi

Aisah memulai usaha kecil-kecilan pada 2018 saat masih menjadi karyawan pabrik spidol. Saat itu, ia menjual keripik pedas kepada rekan kerja dan menitipkannya di warung sekitar tempat tinggal. Langkah sederhana tersebut menjadi cara pertama untuk menambah penghasilan keluarga. Dari usaha itu, ia sempat meraih omzet sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan.

Seiring waktu, usaha keripik yang dirintisnya mulai menghadapi hambatan. Banyak warung tutup, sementara penjualan juga melemah saat pandemi COVID-19. Kondisi tersebut membuat bisnisnya tidak lagi berjalan stabil. Aisah kemudian menyadari perlunya perubahan agar usaha tetap bertahan.

Alih-alih berhenti, ia memilih beralih ke produk yang lebih dekat dengan akar budayanya. Ia mulai memproduksi aneka jajanan khas Betawi seperti kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Pilihan itu bukan tanpa alasan, sebab ia melihat peluang pasar yang masih terbuka. Dari sinilah perjalanan Betawi Punya Gaye mulai dibangun dengan arah yang lebih jelas.

Berani tinggalkan pabrik

Setelah hampir dua dekade bekerja di pabrik, Aisah akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Keputusan itu diambil setelah ia merasa sudah waktunya fokus penuh pada usaha yang sedang dirintis. Ia menilai pekerjaan tetap dan bisnis rumahan tidak bisa dijalankan setengah-setengah. Karena itu, ia memilih menaruh seluruh tenaganya pada usaha camilan.

Aisah mengaku dorongan untuk berbisnis sebenarnya sudah lama tumbuh dari dirinya. Ia terbiasa membantu orang tua membuat kue sejak kecil, sehingga dunia olahan makanan bukan hal asing baginya. Pengalaman tersebut menjadi modal penting saat ia mulai mengembangkan usaha sendiri. Dengan bekal itu, ia lebih percaya diri mencoba berbagai resep tradisional.

Dalam sejumlah kesempatan, Aisah menyampaikan bahwa keputusan meninggalkan pabrik bukanlah hal yang mudah. Namun, ia ingin memiliki ruang lebih luas untuk berkembang dan mengatur masa depan usahanya sendiri. Ia percaya kerja keras akan memberikan hasil yang sepadan. Keyakinan itu pula yang membuatnya terus melangkah meski sempat menghadapi masa sulit.

Nama merek yang dipatenkan

Pada 2020, Aisah mulai menekuni usahanya secara lebih serius dengan bergabung dalam program Jakpreneur. Ia juga memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Langkah ini penting untuk memperkuat identitas bisnisnya. Dari proses tersebut, ia belajar bahwa merek memiliki nilai strategis dalam usaha.

Awalnya, usaha itu memakai nama Camilan 19. Namun, nama tersebut dinilai terlalu umum dan kurang kuat sebagai identitas dagang. Aisah kemudian diarahkan untuk mencari nama yang lebih khas dan mudah diingat. Dari situ lahirlah nama Betawi Punya Gaye yang kini menjadi merek usahanya.

Nama baru itu tidak hanya terdengar unik, tetapi juga merefleksikan produk yang dijual. Aisah ingin mereknya lekat dengan kebudayaan Betawi dan mudah dikenali pasar. Karena itu, ia terus menjaga konsistensi produk agar sesuai dengan identitas merek. Upaya tersebut membuat usahanya tampil lebih profesional di tengah persaingan UMKM.

Omzet naik lewat pelatihan

Perkembangan usaha Aisah tidak lepas dari proses belajar yang ia jalani secara mandiri. Ia mengulik resep jajanan tradisional sampai menemukan rasa yang pas dan cocok untuk pasar. Kualitas rasa menjadi perhatian utama karena ia ingin produknya diterima banyak kalangan. Dari sini, Betawi Punya Gaye mulai memiliki ciri khas yang kuat.

Selain mengandalkan pengalaman pribadi, Aisah juga aktif mengikuti pelatihan dan pembinaan usaha. Salah satunya adalah pelatihan di Rumah BUMN BRI yang membantunya memahami pengelolaan bisnis lebih baik. Dukungan semacam ini membuatnya lebih percaya diri memperluas jangkauan pasar. Ia pun semakin paham pentingnya kemasan, pemasaran, dan pencatatan usaha.

Berbekal kerja keras dan pembinaan yang berkelanjutan, usahanya kini berkembang pesat. Omzet yang dihasilkan telah mencapai jutaan rupiah setiap bulan. Capaian itu menunjukkan bahwa produk tradisional masih memiliki pasar yang kuat bila dikelola dengan tepat. Kisah Aisah menjadi contoh bahwa kegigihan dapat mengubah usaha sampingan menjadi bisnis yang menjanjikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!