Rupiah Melemah, Dolar AS Menguat ke Rp 17.850

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 02 Juni 2026 16:43 WIB 2
Rupiah Melemah, Dolar AS Menguat ke Rp 17.850

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, seiring menguatnya dolar AS di pasar. Berdasarkan data pasar, mata uang Amerika Serikat sempat menyentuh level Rp 17.949, sebelum bergerak di kisaran Rp 17.850.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang mendorong pelaku pasar memilih aset aman. Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan ini masih sulit diredam karena datang dari beberapa arah sekaligus.

Tekanan Rupiah Meningkat

Rupiah bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 17.772 hingga Rp 17.995 sepanjang perdagangan harian. Data pasar menunjukkan dolar AS sempat berada di level Rp 17.904 pada pukul 04.00 UTC. Setelah itu, dolar AS berbalik menguat ke Rp 17.850.

Pergerakan tersebut mencerminkan tingginya volatilitas pasar valuta asing. Investor cenderung menahan risiko ketika ketidakpastian global meningkat. Akibatnya, mata uang negara berkembang ikut tertekan.

Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal. Kondisi itu membuat aliran dana cenderung berpindah ke dolar AS sebagai aset safe haven. Situasi ini menambah tekanan pada pasar domestik.

Menurut dia, tekanan yang datang bersamaan membuat ruang stabilisasi rupiah semakin sempit. Bank Indonesia tetap melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga keseimbangan. Namun, kekuatan pasar saat ini masih cukup besar.

Geopolitik Jadi Sorotan

Dari sisi eksternal, pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, sehingga memicu kekhawatiran global. Sentimen itu langsung tercermin pada pergerakan aset berisiko.

Ketegangan tersebut menimbulkan kekhawatiran atas distribusi energi dunia. Jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena berpotensi terganggu. Jika pasokan terganggu, harga energi bisa naik lebih tinggi.

Kenaikan harga energi berisiko mendorong inflasi global. Dalam kondisi itu, bank sentral utama, termasuk The Fed, bisa menahan suku bunga tinggi lebih lama. Kebijakan tersebut biasanya menekan mata uang emerging market.

Pasar juga mengantisipasi bahwa arah kebijakan moneter AS akan tetap ketat. Hal ini membuat dolar AS semakin diminati oleh investor global. Aliran modal pun berpotensi keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tekanan Dari Dalam Negeri

Dari sisi domestik, kebutuhan dolar AS masih tinggi untuk impor minyak. Permintaan juga datang dari pembayaran dividen dan kewajiban utang yang jatuh tempo. Kondisi ini membuat kebutuhan valas di dalam negeri meningkat.

Ibrahim menilai faktor-faktor tersebut menambah beban rupiah pada saat yang sama. Ketika permintaan dolar naik, tekanan pada kurs biasanya ikut membesar. Pasar pun menjadi lebih sensitif terhadap kabar baru.

Selain itu, pelaku pasar masih mencermati kondisi fiskal domestik. Efektivitas sejumlah program pemerintah juga menjadi perhatian investor. Persepsi terhadap stabilitas ekonomi nasional dapat berubah jika sentimen ini memburuk.

Menurut dia, sentimen internal yang belum sepenuhnya reda ikut menahan upaya penguatan rupiah. Investor cenderung menunggu kepastian sebelum menambah eksposur ke aset berisiko. Sikap hati-hati ini membuat rupiah sulit pulih cepat.

Ruang Intervensi BI

Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar. Langkah itu dilakukan untuk meredam gejolak yang terlalu tajam. Namun, hasilnya sangat bergantung pada kuatnya tekanan pasar.

Ibrahim menyebut BI sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin. Meski demikian, kekuatan sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan rupiah. Karena itu, penguatan mata uang domestik belum terlihat konsisten.

Pasar kini menunggu sinyal lanjutan dari otoritas moneter dan perkembangan geopolitik global. Arah rupiah dalam waktu dekat akan sangat dipengaruhi oleh respons pasar terhadap dua faktor tersebut. Jika tekanan mereda, ruang pemulihan rupiah bisa terbuka kembali.

Dalam kondisi saat ini, pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan dolar AS secara lebih hati-hati. Volatilitas yang tinggi dapat berpengaruh pada perdagangan, impor, dan arus modal. Stabilitas rupiah akan sangat ditentukan oleh membaiknya sentimen global dan domestik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!