Rupiah Tertekan, Dolar AS Dianggap Berpotensi Tembus Rp18.000

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 02 Juni 2026 16:00 WIB 2
Rupiah Tertekan, Dolar AS Dianggap Berpotensi Tembus Rp18.000

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan, dengan potensi melemah lebih dalam terhadap dolar Amerika Serikat. Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai, level Rp18.000 per dolar AS kini semakin dekat dan berpotensi memicu efek berantai pada ekonomi domestik.

Menurut Ibrahim, bila rupiah menembus level tersebut, pelemahan dapat berlanjut hingga Rp18.200. Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira juga menilai tekanan terhadap rupiah masih kuat, dan berisiko mendorong kenaikan harga barang impor, inflasi, serta pelemahan daya beli masyarakat.

Rupiah dan Tekanan Pasar

Ibrahim menilai rupiah masih berada dalam tekanan, meski dolar AS sempat melemah pada perdagangan tertentu. Ia mengatakan pelemahan mata uang Garuda belum menunjukkan tanda pembalikan yang kuat. Kondisi ini membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan pelemahan lanjutan.

Ia menyebut level Rp18.000 per dolar AS sudah berada di depan mata. Menurutnya, jika level itu ditembus, rupiah berisiko bergerak menuju Rp18.200. Proyeksi tersebut, kata dia, muncul dari kombinasi tekanan eksternal dan sentimen pasar yang belum stabil.

Bhima juga menilai tren pelemahan rupiah masih berlanjut. Ia menyebut tekanan terhadap nilai tukar dapat membuat dolar AS semakin dominan di pasar. Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha maupun investor cenderung menyesuaikan strategi lindung nilai.

Pergerakan rupiah yang melemah, lanjutnya, juga memicu respons psikologis di pasar. Sebagian pelaku ekonomi dinilai mulai mengalihkan aset ke mata uang asing untuk mengamankan nilai simpanan. Langkah ini pada akhirnya dapat menambah tekanan terhadap rupiah.

Harga Impor Ikut Naik

Pelemahan rupiah berpotensi membuat harga barang impor naik lebih mahal. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada produk jadi, tetapi juga pada bahan baku produksi yang banyak didatangkan dari luar negeri. Situasi ini berpotensi menekan biaya produksi di dalam negeri.

Ibrahim mencontohkan kedelai yang sebagian besar masih diimpor Indonesia. Jika rupiah terus melemah, harga kedelai di pasar domestik berpeluang meningkat. Kenaikan itu kemudian dapat diteruskan ke produk olahan berbahan kedelai.

Bhima menambahkan, kenaikan harga impor juga akan memengaruhi biaya logistik dan transportasi pengiriman barang. Beban tambahan tersebut memperbesar ongkos produksi yang ditanggung pelaku usaha. Pada akhirnya, harga jual di tingkat konsumen ikut terdorong naik.

Ia menilai transmisi dari biaya bahan baku ke harga ritel akan semakin cepat bila rupiah terus melemah. Selama ini, pelaku usaha masih berupaya menahan kenaikan harga agar daya beli tidak langsung turun. Namun, tekanan yang terlalu besar membuat penyesuaian harga sulit dihindari.

Inflasi Tekan Daya Beli

Bhima menyebut kondisi tersebut dapat memunculkan imported inflation atau inflasi yang dipicu oleh biaya impor yang lebih mahal. Tekanan itu biasanya lebih cepat dirasakan pada barang konsumsi yang bergantung pada komponen luar negeri. Dalam jangka pendek, masyarakat akan menghadapi harga yang semakin sulit dijangkau.

Ia menjelaskan, penyesuaian harga barang akhir umumnya tidak terjadi seketika. Ada jeda waktu yang dikenal sebagai lag antara perubahan kurs dan kenaikan harga di pasar. Namun, saat rupiah tertekan cukup dalam, jeda itu cenderung semakin pendek.

Menurut Bhima, pelaku usaha kini lebih cepat mengubah price list ketika nilai tukar bergerak tajam. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang lebih tinggi di pasar. Akibatnya, konsumen lebih cepat merasakan dampak pelemahan rupiah melalui harga barang yang naik.

Tekanan harga tersebut dinilai akan paling berat bagi kelompok menengah ke bawah. Mereka umumnya memiliki ruang fiskal yang lebih terbatas untuk menyerap kenaikan biaya hidup. Dalam kondisi seperti ini, daya beli masyarakat bisa tergerus lebih cepat.

Risiko PHK Mengintai

Bhima menilai pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat memukul sektor industri padat karya. Perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi yang signifikan. Jika tekanan berlangsung lama, efisiensi menjadi pilihan yang sulit dihindari.

Efisiensi itu, kata dia, berpotensi berujung pada pemangkasan tenaga kerja. Risiko PHK massal bisa muncul di sektor-sektor tertentu yang paling rentan terhadap kenaikan biaya bahan baku. Kondisi ini kemudian akan menambah tekanan terhadap konsumsi rumah tangga.

Ia juga menyoroti perilaku kelas menengah ke atas yang cenderung membeli dolar AS saat kondisi memburuk. Aksi tersebut dapat mempercepat pelemahan rupiah karena mendorong permintaan terhadap mata uang asing. Dalam situasi ini, efek spiral penurunan nilai tukar sulit dihindari.

Bhima menegaskan, pihak yang paling rentan adalah masyarakat pekerja dan kelas menengah. Mereka harus menanggung harga barang yang lebih mahal, sementara risiko kehilangan pendapatan juga meningkat. Bila tekanan berlanjut, angka kemiskinan dan pengangguran berpotensi kembali naik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!