Konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah kembali menjadi sorotan publik setelah pihak Ruben mengungkapkan adanya kesulitan untuk bertemu dengan kedua putrinya. Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menyebut kliennya telah berupaya mendekati anak-anaknya, namun tidak selalu mendapat kesempatan yang diharapkan. Situasi itu memunculkan kembali perbincangan mengenai komunikasi kedua orang tua pascapisah. Isu ini mencuat setelah Minola memberikan keterangan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Minola menceritakan bahwa Ruben sempat datang saat ada acara balet anak-anaknya, dengan maksud memberikan dukungan sekaligus bertemu langsung. Namun, menurut dia, proses pertemuan itu tidak berlangsung mulus karena Ruben harus menunggu cukup lama. Pihak Ruben juga merasa kecewa karena momen yang diharapkan menjadi kesempatan untuk bertemu justru berakhir tanpa pertemuan yang semestinya. Dari sisi lain, pihak Sarwendah melalui kuasa hukum membantah tudingan tersebut dan menyampaikan bantahan keras.
Kesulitan Bertemu Anak
Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, menyatakan bahwa kliennya sudah beberapa kali mencoba menemui kedua anaknya. Menurut dia, upaya tersebut tidak selalu mendapat respons yang memudahkan pertemuan. Ia menuturkan bahwa Ruben pernah datang langsung, namun justru merasa diabaikan. Kondisi itu, kata Minola, membuat kliennya kecewa.
Minola menyinggung sebuah acara balet yang diikuti kedua putri Ruben dan Sarwendah. Pada kesempatan itu, Ruben disebut hadir untuk memberikan dukungan dan sekalian bertemu anak-anaknya. Namun, ia mengaku Ruben harus menunggu di luar dan mengantre hanya untuk bisa berfoto. Situasi tersebut, menurut pihak Ruben, tidak mencerminkan komunikasi yang baik.
Ia juga menyebut ada peristiwa lain yang membuat Ruben semakin kecewa. Saat menunggu di lokasi yang diperkirakan menjadi jalur keluar anak-anaknya, kedua putrinya justru keluar melalui pintu berbeda. Perubahan jalur keluar itu membuat pertemuan yang dinanti kembali tidak terjadi. Minola menilai hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi.
Menurutnya, peristiwa itu menjadi gambaran bahwa akses Ruben untuk menemui anak-anak masih terasa sulit. Ia menegaskan, kliennya bukan tidak berupaya, melainkan sudah mencoba hadir dalam berbagai kesempatan. Namun, hasilnya kerap tidak sesuai harapan. Pihak Ruben berharap ada ruang komunikasi yang lebih baik demi kepentingan anak.
Bantahan Dari Sarwendah
Pihak Sarwendah melalui kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu dan Abraham Simon, membantah tuduhan bahwa klien mereka mempersulit pertemuan Ruben dengan anak-anak. Chris menegaskan bahwa Sarwendah tidak pernah menutup kesempatan bagi ayah dari anak-anaknya untuk bertemu. Ia menyebut tudingan itu tidak sesuai dengan fakta yang mereka ketahui. Menurut dia, komunikasi untuk kepentingan anak tetap terbuka.
Chris juga mempertanyakan dasar tuduhan yang disampaikan pihak Ruben. Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak melihat adanya bukti yang menunjukkan Sarwendah menghalangi pertemuan. Dalam penjelasannya, Sarwendah disebut tidak pernah melarang satu hari pun anak-anak dibawa oleh ayah mereka. Karena itu, pihaknya menolak anggapan bahwa ada upaya mempersulit.
Sementara itu, Abraham Simon menyampaikan pandangan berbeda terkait intensitas pertemuan Ruben dengan anak-anak. Ia mengatakan Ruben justru tidak pernah datang untuk bertemu anak-anaknya. Simon juga menambahkan bahwa hingga kini Ruben belum mengajak Sarwendah berkomunikasi kembali. Pernyataan itu memperlihatkan adanya perbedaan versi yang cukup tajam di antara kedua pihak.
Di tengah saling bantah tersebut, publik kembali menyoroti pentingnya komunikasi yang sehat antara orang tua setelah berpisah. Perbedaan keterangan dari kedua kubu menunjukkan persoalan ini belum menemukan titik temu. Fokus utama kini tetap pada kenyamanan dan kepentingan anak-anak. Karena itu, banyak pihak berharap konflik tidak berlarut dan hubungan keluarga dapat membaik.
Riwayat Pertemuan Sebelumnya
Minola Sebayang menyebut Ruben sebelumnya pernah hadir dalam acara anak-anaknya untuk menunjukkan dukungan. Kehadiran itu, menurut dia, juga menjadi kesempatan untuk melihat langsung kedua putrinya. Namun, kesempatan tersebut tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan. Ia menilai ada hambatan dalam proses pertemuan yang seharusnya sederhana.
Dalam penuturannya, Ruben bahkan disebut harus menunggu lama untuk sekadar bisa berinteraksi. Ia menilai situasi tersebut tidak ideal bagi seorang ayah yang ingin hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Menurut Minola, pengalaman semacam itu membuat Ruben merasa tidak dihargai. Pandangan itu kemudian menjadi dasar keberatan dari pihaknya.
Pihak Ruben juga menilai kejadian di acara balet menunjukkan adanya jarak yang masih cukup besar. Mereka merasa sudah berada di lokasi yang tepat, tetapi anak-anak keluar dari pintu lain. Kondisi itu membuat pertemuan yang diharapkan tidak terlaksana. Dari sudut pandang mereka, hal tersebut memperkuat kesan bahwa akses bertemu masih sulit.
Meski begitu, pihak Sarwendah tetap menolak kesimpulan bahwa ada unsur penghalangan. Mereka menegaskan bahwa tidak ada larangan untuk pertemuan antara Ruben dan anak-anak. Perbedaan pandangan ini menunjukkan persoalan masih berada dalam tahap saling klaim. Hingga kini, belum ada penjelasan bersama yang menyatukan dua versi tersebut.
Fokus Pada Kepentingan Anak
Persoalan yang melibatkan Ruben Onsu dan Sarwendah kembali menegaskan pentingnya komunikasi dalam pengasuhan bersama. Di tengah perbedaan pandangan, anak-anak tetap menjadi pihak yang paling perlu dilindungi. Setiap keputusan seharusnya mempertimbangkan rasa aman dan kenyamanan mereka. Karena itu, penyelesaian yang tenang dinilai jauh lebih penting daripada saling serang di ruang publik.
Pakar hubungan keluarga umumnya menilai konflik orang tua dapat berdampak pada kestabilan emosional anak. Situasi seperti ini berpotensi menimbulkan kebingungan jika dibiarkan berlarut. Oleh sebab itu, dialog yang lebih terbuka menjadi kebutuhan utama. Komunikasi yang baik dapat membantu meminimalkan gesekan di kemudian hari.
Dalam kasus ini, publik menyaksikan adanya dua versi yang sama-sama disampaikan secara terbuka. Satu pihak merasa dipersulit, sementara pihak lain membantah keras tuduhan tersebut. Kondisi seperti ini kerap membuat isu makin ramai dibicarakan. Namun, penyelesaian terbaik tetap berada pada kesepakatan yang mengutamakan anak.
Hingga saat ini, belum ada tanda bahwa perselisihan tersebut mencapai titik akhir. Meski saling bantah terus bergulir, harapan masyarakat tetap tertuju pada meredanya ketegangan. Jika komunikasi dapat dibangun kembali, peluang untuk memperbaiki situasi masih terbuka. Pada akhirnya, kepentingan anak harus menjadi pusat dari setiap langkah yang diambil.
