Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 02 Juni 2026 18:38 WIB 2
Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Hikma Nurul Audhliya, perempuan 38 tahun asal Tebet, Jakarta, bangkit dari keterpurukan setelah usahanya sebagai makeup artist hancur dihantam pandemi. Ia kemudian memulai ulang dari nol dengan membangun usaha kuliner sehat bernama Salad Umma, yang tumbuh berkat pelatihan usaha dan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Perjalanan ini menunjukkan bagaimana dukungan pembiayaan dan pendampingan dapat mengubah usaha rumahan menjadi bisnis yang lebih stabil.

Keputusan Hikma untuk beralih usaha lahir dari tekanan ekonomi yang berat, termasuk keharusan menjual aset untuk menutup kerugian dari pembatalan pesanan pernikahan. Dari dapur rumah, ia merintis penjualan salad sayur, lalu berkembang menjadi salad buah yang kini menerima pesanan rutin dari berbagai pelanggan. Kisahnya menjadi contoh bahwa pemulihan usaha dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Bangkit Lewat Salad Umma

Hikma semula bekerja sebagai perias wajah dan memiliki jadwal acara yang padat sebelum pandemi datang. Ketika seluruh pesanan pernikahan dibatalkan, ia harus menanggung ganti rugi dan menjual mobil untuk menutup kewajiban. Kondisi itu membuatnya sempat pasrah karena hampir seluruh modal dan perlengkapan usahanya habis terjual.

Setelah usaha lamanya runtuh, Hikma mencoba mencari jalan keluar dengan mengikuti program Kartu Prakerja. Ia sempat gagal pada gelombang pertama, lalu berhasil memperoleh voucher pelatihan usaha senilai Rp1 juta pada kesempatan berikutnya. Dari sana, ia mulai memikirkan model usaha yang sederhana, hemat biaya, dan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Pilihannya jatuh pada salad sayur karena produk itu tidak memerlukan kompor, minyak, atau gas. Ia juga melihat tren gaya hidup sehat yang mulai berkembang di tengah masyarakat perkotaan. Dari pertimbangan itulah lahir ide bisnis yang kemudian diberi nama Salad Umma.

Modal Kecil Dari Pelatihan

Hikma memulai usahanya dari rumah dengan modal yang ia kelola secara bertahap. Dana yang diterimanya melalui program Prakerja, sekitar Rp600 ribu per bulan selama empat bulan, ia gunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan dasar. Peralatan seperti chopper, blender, kemasan, hingga showcase dibeli sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan.

Langkah itu membuat operasional bisnis lebih efisien, meski awalnya masih sangat sederhana. Ia memanfaatkan dapur rumah sebagai pusat produksi untuk menjaga biaya tetap rendah. Dengan model ini, Salad Umma bisa tetap berjalan tanpa beban sewa tempat yang besar.

Lokasi usaha yang dekat dengan area indekost karyawan ikut membantu penjualan produk. Pasar awalnya terbentuk dari kebutuhan praktis masyarakat yang ingin makanan sehat dan cepat dikonsumsi. Dari situ, Hikma mulai melihat potensi usaha kuliner sehat sebagai peluang jangka panjang.

Inovasi Rasa Dan Pasar

Awalnya, Salad Umma hanya menjual salad sayur untuk konsumen di sekitar tempat tinggalnya. Namun, ketika menerima pesanan untuk acara ulang tahun pada 2022, Hikma mulai mengembangkan varian salad buah. Inovasi itu membuat produknya lebih beragam dan menjangkau segmen pelanggan yang lebih luas.

Meski demikian, perjalanan usaha tidak selalu mulus karena omzet kerap naik turun. Saat promosi melalui media sosial dan pesanan daring dijalankan, pendapatan harian tetap bisa bergerak fluktuatif. Dalam satu hari, omzetnya pernah hanya Rp15 ribu, lalu naik menjadi Rp100 ribu, bahkan ada masa tanpa pesanan sama sekali.

Situasi tersebut membuat Hikma harus disiplin menjaga kualitas produk dan konsistensi layanan. Ia memahami bahwa usaha kecil membutuhkan ketekunan untuk bertahan di tengah persaingan. Perlahan, kepercayaan pelanggan mulai terbentuk melalui pengalaman membeli yang baik.

Dukungan BRI Dongkrak Usaha

Pertumbuhan Salad Umma mulai lebih terasa setelah produknya memperoleh sertifikasi halal. Hikma juga aktif mengikuti bazar yang difasilitasi Jakpreneur untuk memperluas jaringan penjualan. Dari kegiatan itu, ia mendapat akses ke pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah.

Di tahap berikutnya, dukungan pembiayaan KUR dari BRI ikut memperkuat kapasitas usaha. Pembiayaan tersebut membantu Hikma menjaga arus modal agar produksi tetap berjalan dan permintaan dapat dilayani. Dengan kombinasi modal, pendampingan, dan pasar yang terbuka, usahanya perlahan naik kelas.

Kini omzet harian Salad Umma disebut bisa mencapai Rp1 juta pada momen tertentu. Capaian itu menunjukkan perubahan besar dari masa ketika ia hanya menjual produk dalam skala sangat kecil. Perjalanan Hikma menjadi bukti bahwa UMKM dapat tumbuh lebih cepat saat mendapatkan akses pembiayaan yang tepat dan dukungan pengembangan usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!