Rupiah Menguat ke Rp17.651 Usai BI Naikkan BI Rate

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 20:03 WIB 2
Rupiah Menguat ke Rp17.651 Usai BI Naikkan BI Rate

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, setelah sempat tertekan hingga menembus level terlemah di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah bergerak ke level Rp17.651 per dolar AS, sementara dolar AS melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen terhadap mata uang Garuda.

Pada perdagangan sebelumnya, dolar AS sempat berada di level Rp17.721 per dolar AS dan menjadi posisi tertinggi sepanjang sejarah. Penguatan rupiah ini terjadi tak lama setelah Bank Indonesia mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan untuk meredam tekanan eksternal dan menjaga stabilitas ekonomi.

Rupiah Menguat di Pembukaan

Pergerakan rupiah pada awal perdagangan menunjukkan respons positif pasar terhadap kebijakan moneter terbaru. Setelah beberapa hari berada di bawah tekanan, mata uang domestik mulai meninggalkan area psikologis Rp17.700 per dolar AS. Kondisi ini memberi sinyal bahwa pelaku pasar mencermati ruang stabilisasi yang lebih besar.

Data pasar menunjukkan rupiah bergerak ke Rp17.651 per dolar AS pada pagi hari. Penguatan tersebut memang belum terlalu besar, namun cukup untuk menghentikan laju pelemahan yang terjadi sebelumnya. Investor tampaknya mulai menyesuaikan posisi setelah keputusan Bank Indonesia diumumkan.

Meski begitu, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila sentimen global kembali memburuk. Pergerakan mata uang domestik masih sangat dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama arus penguatan dolar AS. Dalam situasi ini, pasar menunggu konsistensi kebijakan dan respons lanjutan dari otoritas moneter.

BI Perketat Kebijakan Moneter

Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19 hingga 20 Mei 2026. Selain itu, suku bunga Deposit Facility dinaikkan menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen. Kebijakan tersebut diumumkan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Rabu, 20 Mei 2026.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. BI melihat tekanan dari gejolak global masih tinggi, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian pasar keuangan. Dengan kenaikan suku bunga, bank sentral berharap arus keluar modal dapat ditekan.

Selain menjaga nilai tukar, BI juga menempatkan inflasi sebagai prioritas utama dalam kebijakan terbarunya. Perry menyebut langkah ini bersifat preemptive agar inflasi 2026 dan 2027 tetap berada di kisaran sasaran. Target inflasi pemerintah ditetapkan sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Gejolak Global Menjadi Tekanan

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor domestik, tetapi juga dari kondisi eksternal yang masih tidak menentu. Konflik di Timur Tengah mendorong peningkatan volatilitas pasar keuangan global dan membuat investor cenderung memilih aset yang lebih aman. Dalam situasi seperti ini, dolar AS biasanya menguat terhadap mata uang negara berkembang.

Penguatan dolar AS membuat beban pada mata uang Garuda semakin besar. Ketika permintaan terhadap dolar meningkat, rupiah cenderung bergerak lebih lemah karena arus modal keluar ikut bertambah. Kondisi tersebut turut menjelaskan mengapa rupiah sempat mencatat level terburuk sepanjang sejarah pada perdagangan sebelumnya.

Selain faktor geopolitik, pasar juga terus mencermati arah kebijakan bank sentral utama dunia. Ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dapat mempertahankan kekuatan dolar AS dalam jangka pendek. Hal ini membuat ruang penguatan rupiah masih bergantung pada kombinasi kebijakan domestik dan sentimen internasional.

Prospek Rupiah Masih Menantang

Ke depan, prospek rupiah akan sangat ditentukan oleh efektivitas kebijakan Bank Indonesia dalam meredam tekanan pasar. Kenaikan BI Rate memberi sinyal bahwa otoritas moneter siap menjaga stabilitas nilai tukar dengan langkah yang lebih tegas. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada seberapa cepat sentimen global mereda.

Pasar juga akan memantau apakah kebijakan suku bunga dapat menjaga kepercayaan investor asing terhadap aset Indonesia. Jika stabilitas makroekonomi terjaga, rupiah berpeluang memperoleh ruang pemulihan yang lebih sehat. Sebaliknya, jika tekanan eksternal meningkat, volatilitas dapat kembali membesar.

Dalam jangka pendek, pelaku pasar diperkirakan masih berhati-hati menyikapi pergerakan rupiah. Kebijakan moneter yang lebih ketat bisa membantu menahan pelemahan, tetapi tidak serta-merta menghapus risiko dari luar negeri. Karena itu, konsistensi koordinasi kebijakan menjadi faktor penting bagi arah rupiah selanjutnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!