Rupiah Melemah, Trafik Mal Jakarta Turun 15-20 Persen

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 21 Mei 2026 15:55 WIB 7
Rupiah Melemah, Trafik Mal Jakarta Turun 15-20 Persen

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai terasa di pusat perbelanjaan Jakarta, dengan kenaikan harga sejumlah komoditas yang dinilai signifikan. Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menilai kondisi itu menekan daya beli masyarakat, terutama pekerja bergaji tetap.

Menurut Ellen, trafik pengunjung pusat perbelanjaan di Jakarta pada hari kerja turun sekitar 15 hingga 20 persen. Namun, kunjungan pada akhir pekan masih relatif stabil, bahkan cenderung meningkat karena ditopang keluarga dan anak-anak.

Daya Beli Tertekan

Ellen menyebut pelemahan rupiah memicu kenaikan harga barang di pasar dan pusat perbelanjaan. Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Ia menyoroti kurs dolar AS yang sempat berada di kisaran Rp17.000 dan mendekati Rp18.000. Menurut dia, pergerakan itu memberi tekanan tambahan terhadap harga-harga kebutuhan.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat dengan penghasilan tetap cenderung menyesuaikan pola konsumsi. Pengeluaran yang sebelumnya rutin dilakukan mulai ditahan agar keuangan keluarga tetap terkendali.

Dampaknya terlihat pada daya beli yang melemah di berbagai lapisan masyarakat. Ellen menilai tekanan ini bukan hanya dirasakan konsumen, tetapi juga pelaku usaha di pusat belanja.

Kebiasaan Belanja Berubah

Di tengah tekanan ekonomi, sejumlah karyawan kantor kini memilih membawa bekal dari rumah. Kebiasaan itu mengurangi frekuensi makan siang mereka di mal pada hari kerja.

Ellen mengatakan sebagian pekerja yang biasanya makan di pusat belanja lima hari dalam sepekan, kini hanya datang dua hari. Selebihnya, mereka memilih menghemat dengan makan dari rumah.

Perubahan perilaku tersebut membuat trafik mal pada jam makan siang ikut menurun. Kondisi ini paling terasa pada hari kerja ketika kunjungan didominasi pekerja kantoran.

Menurut Ellen, penurunan itu menjadi salah satu penjelasan atas lesunya kunjungan ke pusat belanja. Ia menyebut para karyawan kini lebih menahan diri di tengah kenaikan harga barang.

Hari Kerja Melemah

Data yang disampaikan Ellen menunjukkan trafik pusat belanja di Jakarta turun sekitar 15 hingga 20 persen pada weekdays. Penurunan ini terjadi secara umum di sejumlah mal yang bergantung pada kunjungan pekerja.

Meski demikian, ia menegaskan kondisi pada akhir pekan berbeda. Kunjungan justru tetap stabil dan di beberapa tempat bahkan lebih tinggi dari biasanya.

Perbedaan ini menunjukkan pola konsumsi masyarakat yang berubah antara hari kerja dan akhir pekan. Saat weekdays, masyarakat cenderung fokus pada kebutuhan pokok dan penghematan belanja.

Sementara itu, pada akhir pekan pengunjung masih datang untuk berbelanja sekaligus mencari hiburan. Tren tersebut membuat mal tetap memiliki potensi kunjungan di luar jam kerja.

Peran Hiburan Keluarga

Ellen menjelaskan bahwa mal di Jakarta tidak hanya berfungsi sebagai tempat belanja. Pusat perbelanjaan juga menjadi ruang rekreasi bagi keluarga, terutama anak-anak.

Menurut dia, daya tarik bagi anak menjadi faktor penting yang menjaga kunjungan akhir pekan tetap tinggi. Ketika anak merasa nyaman, orang tua cenderung kembali datang ke lokasi yang sama.

Ia menyebut pusat belanja perlu terus memperkuat unsur hiburan keluarga agar tetap relevan. Kehadiran fasilitas ramah anak menjadi nilai tambah yang mendorong pengunjung bertahan lebih lama.

Dengan demikian, fungsi mal tidak berhenti pada transaksi ritel semata. Pusat belanja kini juga berperan sebagai ruang sosial dan hiburan bagi warga kota.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!