Rupiah Melemah, Target Kembali ke Rp 15.000 Dinilai Sulit

Forex & Saham Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 07:04 WIB 5
Rupiah Melemah, Target Kembali ke Rp 15.000 Dinilai Sulit

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi ini. Mata uang AS tercatat menguat 0,04 persen ke level Rp 17.853 per dolar AS, sementara pemerintah masih menyuarakan target penguatan rupiah ke Rp 15.000.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan target itu dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Jumat, 22 Mei 2026. Namun, dua analis menilai ruang bagi rupiah untuk kembali menguat ke level tersebut masih sangat terbatas di tengah tekanan eksternal dan domestik yang belum mereda.

Rupiah Tertekan Dolar AS

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai pelemahan rupiah saat ini belum menunjukkan tanda pembalikan yang kuat. Ia menyebut sejak 2008, jarang ada mata uang yang sudah terdepresiasi jauh lalu kembali menguat signifikan ke level lama.

Menurut Bhima, rupiah justru masih berada dalam fase tekanan yang berpotensi berlanjut. Ia bahkan membuka kemungkinan mata uang Garuda menembus level di atas Rp 18.000 per dolar AS apabila sentimen negatif terus bertahan.

Bhima menegaskan, kondisi saat ini membuat target Rp 15.000 sulit dicapai dalam waktu dekat. Ia menilai pasar sudah membaca banyak risiko yang membuat permintaan dolar tetap tinggi.

Target Penguatan Rupiah Dipertanyakan

Bhima mengatakan pelemahan rupiah turut dipicu kekhawatiran investor asing terhadap arah kebijakan pemerintah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI.

Ia juga menyoroti kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam, yang mewajibkan dana masuk ke perbankan BUMN. Menurutnya, kebijakan tersebut belum tentu efektif menyelesaikan persoalan devisa dan justru memicu sikap hati-hati di pasar.

Dalam pandangannya, pelaku pasar cenderung mengamankan aset ke instrumen dolar saat ketidakpastian meningkat. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah datang bukan hanya dari kebijakan, tetapi juga dari perubahan perilaku investor dan pelaku usaha.

Permintaan Dolar Meningkat

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memiliki pandangan serupa mengenai arah rupiah. Ia menilai target penguatan ke Rp 15.000 sulit, bahkan nyaris mustahil, bila melihat kondisi geopolitik dan ekonomi domestik saat ini.

Ibrahim menjelaskan bahwa tekanan rupiah juga berkaitan dengan kebutuhan dolar yang terus naik. Ia menyoroti impor energi, terutama minyak mentah, yang masih besar sehingga menambah beban neraca pembayaran dan kebutuhan valuta asing.

Selain itu, kewajiban pembayaran dividen oleh banyak perusahaan asing di Indonesia ikut memperbesar permintaan dolar di dalam negeri. Menurut Ibrahim, kombinasi faktor tersebut membuat rupiah rentan tertekan lebih jauh dalam jangka pendek.

Investor Beralih ke Aset Valas

Di tengah fluktuasi harga emas dunia, Ibrahim menyebut sebagian investor mulai memindahkan dana ke dolar. Langkah itu dianggap sebagai strategi jangka pendek untuk memanfaatkan momentum pelemahan rupiah dan penguatan indeks dolar.

Ia mengatakan dana yang sebelumnya ditempatkan pada emas digital maupun logam mulia mulai dialihkan. Menurutnya, arus perpindahan aset tersebut menunjukkan pasar lebih memilih instrumen yang dinilai memberi peluang cepat di tengah ketidakpastian.

Ibrahim juga menilai rencana ekspor satu pintu melalui BUMN baru, Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI, menambah keraguan investor asing. Ia menyebut kepastian regulasi menjadi faktor penting yang menentukan minat modal masuk ke Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!