Rupiah Melemah ke Rp17.949, Tekanan Dolar AS Meningkat

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 02 Juni 2026 12:44 WIB 2
Rupiah Melemah ke Rp17.949, Tekanan Dolar AS Meningkat

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan sempat menyentuh Rp17.949 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan dolar AS dari pasar global dan kebutuhan valas di dalam negeri.

Berdasarkan data Investing, rupiah bergerak harian di rentang Rp17.772 hingga Rp17.995. Sementara itu, data Google Finance menunjukkan dolar AS sempat berada di level Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC, sebelum bergerak ke Rp17.850 atau menguat 0,37 persen.

Rupiah dan dolar AS

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah muncul secara bersamaan dari dua arah. Situasi itu mempersempit ruang penguatan mata uang domestik dalam jangka pendek.

Di pasar valas, minat terhadap dolar AS meningkat ketika ketidakpastian global menguat. Pergerakan seperti ini lazim terjadi saat pelaku pasar mengurangi risiko pada aset negara berkembang.

Rupiah pun bergerak lebih sensitif terhadap sentimen luar negeri, terutama ketika arus modal asing mulai berubah. Dalam kondisi demikian, stabilitas kurs sangat bergantung pada respons pasar dan kebijakan otoritas.

Tekanan dari Timur Tengah

Dari sisi eksternal, pasar mencermati memanasnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran ikut meningkatkan kekhawatiran investor.

Ketegangan tersebut memunculkan risiko gangguan distribusi energi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting perdagangan minyak, kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Jika pasokan energi terganggu, harga minyak berpotensi naik lebih tinggi. Kenaikan itu dapat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Dalam situasi seperti ini, dolar AS biasanya mendapat aliran dana karena dianggap lebih aman. Akibatnya, mata uang emerging market, termasuk rupiah, cenderung tertekan.

Ekspektasi The Fed

Faktor eksternal lain datang dari ekspektasi pasar bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kebijakan tersebut dinilai menahan minat investor pada aset berisiko di negara berkembang.

Harga energi yang tinggi berpotensi mendorong inflasi global tetap bertahan. Situasi ini dapat mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed dalam waktu dekat.

Selama suku bunga Amerika Serikat bertahan tinggi, imbal hasil aset dolar tetap menarik. Hal itu membuat investor lebih memilih menempatkan dana di pasar keuangan AS.

Ibrahim menyebut kondisi ini memicu arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan tersebut kemudian ikut menambah beban pada nilai tukar rupiah.

Risiko domestik dan BI

Dari dalam negeri, kebutuhan dolar AS masih tinggi untuk impor minyak, pembayaran dividen, dan kewajiban utang jatuh tempo. Permintaan yang besar itu turut memberi tekanan pada rupiah.

Ibrahim juga menyoroti perhatian pelaku pasar terhadap kondisi fiskal domestik. Selain itu, efektivitas sejumlah program pemerintah dinilai ikut memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Bank Indonesia disebut telah melakukan intervensi di pasar valas untuk meredam tekanan. Namun, kekuatan arus pasar global membuat upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat rupiah.

Menurut Ibrahim, kombinasi tekanan eksternal dan internal membuat ruang stabilisasi rupiah semakin terbatas. Meski demikian, BI tetap berada di pasar untuk menjaga volatilitas agar tidak semakin melebar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!