Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus Rp17.500 memberi tekanan pada industri satelit nasional, terutama karena sebagian besar kebutuhan satelit dan ground segment masih bergantung pada mata uang asing. Di tengah situasi itu, pelaku industri justru melihat peluang untuk memperkuat ekosistem satelit dan manufaktur dalam negeri.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menyampaikan pandangan tersebut dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. Menurut dia, kondisi kurs saat ini semestinya dibaca sebagai momentum untuk mendorong industrialisasi, investasi domestik, dan kemandirian teknologi nasional.
Rupiah dan industri satelit
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada industri satelit karena banyak komponen dan layanan pendukung masih dibeli dengan dolar AS. Kondisi itu membuat biaya produksi membengkak dan menekan margin perusahaan.
Meski demikian, Sigit menilai tekanan kurs tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman. Ia menyebut situasi ini bisa menjadi pemicu untuk mempercepat pengembangan industri lokal.
Menurut dia, Indonesia sebenarnya memiliki posisi yang cukup kuat di Asia Tenggara. Namun, jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia, daya saing industri satelit nasional masih tertinggal.
Karena itu, pelemahan rupiah perlu dijadikan sinyal untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor. Dengan langkah tersebut, industri dalam negeri berpeluang membangun fondasi yang lebih kokoh.
Peluang ekspor saat dolar menguat
Sigit menjelaskan, sektor yang diuntungkan saat dolar menguat adalah industri berorientasi ekspor. Sebab, biaya produksi dibayar dengan rupiah, sementara pendapatan diterima dalam dolar AS.
Dalam kondisi itu, selisih kurs dapat menambah margin keuntungan bagi pelaku usaha lokal. Situasi tersebut dinilai dapat membantu industri tumbuh lebih cepat.
Ia menegaskan, logika ini juga relevan bagi industri teknologi dan satelit nasional. Jika diarahkan dengan tepat, pelemahan rupiah justru bisa memperkuat daya saing produk lokal.
Menurutnya, pasar domestik dapat menjadi pijakan awal sebelum pelaku industri melangkah ke pasar internasional. Strategi itu dianggap lebih realistis di tengah ketidakpastian global.
Investasi lokal perlu diperkuat
Di tengah melambatnya arus modal asing, Sigit mendorong investor domestik untuk lebih aktif menanamkan modal di industri teknologi nasional. Ia menilai ini merupakan kesempatan bagi pelaku usaha dalam negeri untuk mengambil peran lebih besar.
Menurut dia, jika investasi asing belum masuk, maka investasi lokal harus menjadi penggerak utama. Langkah ini penting agar pembangunan industri tidak berhenti hanya karena ketergantungan pada modal luar negeri.
Ia juga menilai sektor satelit dan manufaktur memiliki peluang besar untuk berkembang secara bertahap. Dengan dukungan pendanaan yang konsisten, industri ini bisa memperluas kapasitas produksi di dalam negeri.
Sigit menambahkan, penguatan investasi lokal akan memberi efek berantai pada rantai pasok nasional. Dampaknya bukan hanya pada industri satelit, tetapi juga pada ekosistem teknologi secara lebih luas.
Kemandirian teknologi sejak dini
Sigit menilai penting untuk menanamkan pola pikir industri dan ekspor kepada generasi muda sejak awal. Menurut dia, cara pandang itu akan membantu Indonesia membangun kemandirian teknologi di masa depan.
Ia menyebut pendidikan dan kesadaran industri perlu berjalan beriringan. Generasi muda harus memahami bahwa teknologi tidak hanya soal konsumsi, tetapi juga produksi dan nilai tambah.
Dengan pemahaman itu, pelaku muda diharapkan lebih berani masuk ke sektor teknologi strategis. Satelit menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Sigit menekankan, kemandirian industri tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Namun, langkah awal yang konsisten akan menentukan arah pertumbuhan jangka panjang Indonesia.
Sebelumnya, rupiah tercatat terus tertekan hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dan menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah. Kondisi itu turut memunculkan perhatian pemerintah, termasuk rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk membantu Bank Indonesia mengendalikan tekanan terhadap kurs.
