Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah hingga menyentuh Rp17.881 per dolar AS. Kondisi ini menjadi sinyal tekanan bagi perekonomian domestik karena berdampak pada harga barang impor, inflasi, hingga beban utang. Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menilai, pelemahan rupiah akan merambat ke banyak sektor dan paling terasa pada kelompok kelas menengah ke bawah.
Menurut Tauhid, dampak pelemahan rupiah tidak hanya hadir secara langsung melalui naiknya harga barang impor, tetapi juga lewat jalur suku bunga, pembayaran utang, dan meningkatnya beban fiskal negara. Ia menyebut, efek lanjutan dari kondisi ini dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi karena biaya produksi dan biaya hidup sama-sama naik. Di tengah tekanan tersebut, masyarakat diminta lebih cermat mengatur pengeluaran dan memperkuat sumber pendapatan.
Rupiah dan Harga Impor
Pelemahan rupiah membuat harga barang impor dan bahan baku impor menjadi lebih mahal. Dampak ini paling cepat terasa pada produk elektronik, pangan, dan barang konsumsi lain yang memiliki komponen impor. Tauhid menyebut kondisi tersebut berpotensi memicu import inflation, yakni kenaikan harga yang berasal dari biaya impor yang meningkat.
Ia mencontohkan, produk elektronik cenderung ikut naik karena sebagian komponennya berasal dari luar negeri. Begitu pula dengan sejumlah bahan pangan seperti kedelai yang banyak bergantung pada impor. Ketika kurs melemah, produsen biasanya menyesuaikan harga jual agar biaya produksi tetap tertutup.
Akibatnya, daya beli masyarakat tertekan karena harga kebutuhan sehari-hari bergerak naik. Dalam kondisi seperti ini, inflasi berpotensi meningkat lebih cepat dibandingkan kenaikan pendapatan. Tekanan tersebut membuat rumah tangga perlu meninjau ulang pola belanja, terutama untuk barang yang tidak mendesak.
Suku Bunga Ikut Menanjak
Tekanan pada rupiah juga mendorong Bank Indonesia menjaga stabilitas melalui kebijakan suku bunga. Tauhid menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan berimbas pada naiknya bunga pinjaman di perbankan. Sektor kredit konsumtif, KPR, hingga kredit investasi diperkirakan ikut terdampak.
Menurut dia, masyarakat yang memiliki cicilan berbunga mengambang akan merasakan efek paling cepat. Saat suku bunga naik, beban angsuran ikut membesar dan ruang keuangan rumah tangga menjadi lebih sempit. Kondisi itu dapat menekan konsumsi dan memperlambat aktivitas ekonomi di level bawah.
Karena itu, Tauhid menyarankan agar masyarakat memilih kredit dengan bunga tetap jika memungkinkan. Skema tersebut dinilai lebih aman karena cicilan lebih mudah diprediksi dan tidak mudah melonjak saat suku bunga berubah. Langkah ini menjadi penting bagi keluarga yang masih memiliki kewajiban pembiayaan rumah maupun kendaraan.
Utang dan APBN Tertekan
Pelemahan rupiah juga membuat pembayaran utang dalam valuta asing menjadi lebih mahal. Beban itu berlaku untuk utang pemerintah maupun korporasi yang memiliki kewajiban dalam dolar AS. Semakin lemah rupiah, semakin besar rupiah yang harus disiapkan untuk menutup kewajiban tersebut.
Di sisi lain, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara juga mendapat tekanan dari kenaikan biaya impor energi. Tauhid menilai subsidi energi akan ikut membengkak karena biaya pembelian minyak dari luar negeri menjadi lebih mahal. Situasi ini diperburuk oleh tren harga minyak dunia yang juga terdorong konflik di Timur Tengah.
Ia menilai, beban fiskal yang meningkat dapat membatasi ruang pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika biaya semakin tinggi, likuiditas ekonomi ikut tertekan dan inflasi berisiko bertahan di level yang tidak nyaman. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menahan laju pemulihan ekonomi nasional.
Kelas Menengah Harus Waspada
Menurut Tauhid, dampak pelemahan rupiah dirasakan oleh semua kelompok masyarakat, tetapi kelompok kelas menengah dan bawah menjadi yang paling rentan. Mereka umumnya memiliki ruang tabungan yang terbatas dan lebih mudah terpukul oleh kenaikan harga maupun cicilan. Karena itu, pengelolaan keuangan yang disiplin menjadi semakin penting.
Ia menyarankan agar masyarakat mengurangi belanja produk impor yang harganya terdorong naik oleh pelemahan kurs. Pengeluaran untuk barang konsumtif perlu ditahan agar anggaran keluarga tidak cepat terkuras. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga kestabilan keuangan rumah tangga di tengah tekanan harga.
Selain menekan belanja, masyarakat juga disarankan tidak bergantung pada satu sumber pendapatan. Tauhid menilai kelas menengah perlu mencari penghasilan tambahan dari usaha sampingan atau sektor jasa. Dengan begitu, kemampuan bertahan akan lebih kuat ketika tekanan ekonomi sedang meningkat.
