Rosan Buka Peluang Akuisisi Eramet di WBN

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 13 Mei 2026 00:37 WIB 9
Rosan Buka Peluang Akuisisi Eramet di WBN

Rosan Roeslani, CEO Danantara, menyatakan bahwa peluang akuisisi saham Eramet di Weda Bay Nickel (WBN) terbuka untuk dipertimbangkan. Ia menegaskan bahwa diskusi secara langsung dengan Eramet telah dimulai dan Danantara siap menjadi mitra kuat bagi proyek nikel di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Rosan menekankan bahwa rencana tersebut sejalan dengan upaya Indonesia menjadi pusat rantai pasok baterai EV global. Ia menekankan Danantara dapat menjadi mitra lokal yang kuat untuk kemajuan investasi di sektor hilirisasi nikel. Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperluas hilirisasi nikel dan menarik investasi strategis.

Rencana Akuisisi WBN

Weda Bay Nickel telah beroperasi sejak 2019 melalui izin usaha pertambangan khusus, yaitu IUPK. Perkembangan proyek ini ditujukan untuk memanfaatkan cadangan nikel Indonesia secara berkelanjutan hingga 2069. Perusahaan ini bekerja dengan komposisi pemegang saham Thingshan Group 51,2 persen, Eramet 37,8 persen, dan Antam 10 persen.

Kepemilikan saham utama saat ini berasal dari Thingshan Group, Eramet, dan Antam. Pemegang saham minoritas memiliki peran strategis dalam struktur kepemilikan WBN untuk rencana ekspansi. Keberlanjutan operasional menjadi fokus utama bagi para pemangku kepentingan.

Sebelumnya, pada tahun lalu, BPI Danantara menjalin kerja sama investasi untuk proyek hilirisasi nikel bersama Eramet. Kedua pihak juga sepakat menjajaki pembentukan platform investasi strategis di sektor nikel, dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut menegaskan komitmen kedua perusahaan untuk mempercepat ekosistem EV di Indonesia.

Penandatanganan kerja sama ini disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di sela pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta. Kemitraan ini bertujuan mengembangkan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia. Para pihak menilai inisiatif ini menjadi pijakan untuk menyiapkan peta jalan kolaborasi ke depan.

Dalam implementasinya, Danantara akan mengelola pembiayaan jangka panjang untuk mendukung investasi, sedangkan Eramet menyumbang keahlian teknis dan pengalaman dalam proyek pertambangan skala besar sesuai standar berkelanjutan internasional. Keterlibatan keduanya mencerminkan komitmen untuk mendorong hilirisasi nikel kelas dunia di Indonesia. Kolaborasi ini juga menekankan penggunaan standar internasional yang ketat untuk menjaga efisiensi dan nilai ekonomi.

Pandu Sjahrir, CIO Danantara Indonesia, menilai kemitraan tersebut akan menguatkan posisi Indonesia sebagai pusat global rantai pasok baterai EV. Ia menambahkan kemitraan tersebut memperkuat peran Danantara sebagai pembiayaan jangka panjang untuk proyek strategis. Kapasitas teknis global Eramet diharapkan meningkatkan kualitas dan keberlanjutan operasional proyek.

Para pihak sepakat untuk menilai proyek yang paling tepat guna memaksimalkan potensi ekosistem EV nasional. Penilaian awal akan menjadi dasar peta jalan kolaborasi ke depan. Kebijakan ini menekankan integrasi antara hulu dan hilir serta praktik tambang berwawasan lingkungan.

Proyek ini juga diharapkan memperkuat daya saing industri nikel nasional dan menarik aliran investasi berkelanjutan. Penerapan standar internasional tetap menjadi prioritas untuk memastikan efisiensi dan manfaat ekonomi bagi Indonesia. Keterlibatan pemangku kepentingan nasional, termasuk mitra lokal, dipandang memperkuat kapasitas domestik.

Langkah-langkah ini menunjukkan arah kebijakan pemerintah untuk mengoptimalkan potensi hilirisasi nikel secara luas. Kebijakan tersebut menekankan kelestarian lingkungan dan tata kelola tambang yang baik. Dengan demikian, kemitraan antara Danantara, Eramet, dan mitra nasional menandai bab baru bagi industri nikel Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!