Robries dan Lumosh Tembus Pasar Global Lewat Produk Daur Ulang

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 06:04 WIB 7
Robries dan Lumosh Tembus Pasar Global Lewat Produk Daur Ulang

Bagi sebagian besar orang, sampah kerap dipandang sebagai barang yang tidak bernilai dan hanya menjadi sumber masalah. Namun, bagi pelaku usaha kreatif seperti Robries dan Lumosh, limbah justru dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang diminati pasar luar negeri.

Melalui inovasi berbasis daur ulang, CEO dan Founder Robries Syukriyatun Niamah bersama Co Founder Lumosh Raymond Tjiadi berhasil membangun usaha yang menembus pasar global. Keduanya mendapat dorongan dari Indonesia Design Development Center, Kementerian Perdagangan, yang turut membuka jalan menuju pameran internasional TEI 2025.

Inovasi UMKM Daur Ulang

Robries berdiri pada 2018 dengan fokus mengolah sampah tutup botol plastik menjadi furnitur berdesain menarik. Syukriyatun mengatakan langkah itu lahir dari keinginan menjaga lingkungan sekaligus menghadirkan produk yang punya nilai jual.

Menurutnya, proses mengubah limbah menjadi produk jadi bukan sekadar soal produksi, tetapi juga soal persepsi pasar. Banyak konsumen masih memandang bahan daur ulang sebagai sesuatu yang asing, sehingga edukasi menjadi bagian penting dalam penjualan.

Ia menegaskan bahwa produk berbahan dasar sampah botol plastik tetap harus memiliki standar kualitas yang konsisten. Karena itu, Robries terus menjaga desain, fungsi, dan kerapian hasil akhir agar bisa bersaing dengan produk lain di pasar.

Upaya tersebut membuat Robries perlahan dikenal lebih luas, termasuk di pasar yang menghargai produk ramah lingkungan. Dari perjalanan sejak 2018, perusahaan ini telah menghasilkan sekitar 25 ribu produk dan mengolah 145 ton sampah plastik.

Tantangan Pasar Dan Bahan Baku

Syukriyatun menyebut tantangan utama datang dari edukasi pasar yang belum sepenuhnya akrab dengan produk daur ulang. Selain itu, bahan baku dari tutup botol plastik tidak selalu tersedia dalam jumlah yang stabil.

Ia menjelaskan, ketersediaan sampah sebagai bahan dasar menjadi faktor yang sangat menentukan keberlanjutan produksi. Jika pasokan terganggu, maka proses menjaga kualitas produk juga ikut terhambat.

Meski begitu, Robries terus mencari sumber bahan baku agar produksi tetap berjalan tanpa menurunkan standar. Menurut Syukriyatun, konsistensi bahan baku sangat penting untuk menjaga kepercayaan konsumen.

Di sisi lain, produk berbasis limbah masih membutuhkan pendekatan pemasaran yang berbeda dari produk konvensional. Karena itu, Robries aktif membangun narasi bahwa produk daur ulang juga bisa tampil premium, fungsional, dan layak ekspor.

Dukungan IDDC Untuk Ekspor

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui Indonesia Design Development Center terus mendorong UMKM agar mampu masuk ke pasar global. Salah satu caranya adalah dengan memberikan fasilitas bagi pelaku usaha yang telah lolos kurasi untuk mengikuti TEI 2025.

TEI 2025 menjadi ajang internasional yang diikuti setidaknya 8.045 buyer dari 130 negara. Forum ini memberi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari luar negeri.

Syukriyatun mengakui pendampingan IDDC sangat membantu dalam proses pengembangan produk dan pengemasan. Melalui bimbingan itu, Robries mendapat arahan agar produk lebih menarik di mata buyer internasional.

Ia juga menyebut pendampingan tersebut berdampak besar terhadap pencapaian merek mereka. Setelah melalui proses pembinaan selama beberapa tahun, Robries akhirnya meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan.

Lumosh Perkuat Pasar Global

Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, juga merasakan manfaat pendampingan dari IDDC. Perusahaannya mengembangkan produk UMKM berbahan dasar limbah keramik yang diolah menjadi piring, gelas, dan perabot rumah tangga lain dengan desain artistik.

Raymond mengatakan tantangan terbesar terletak pada minimnya referensi dan pengetahuan tentang daur ulang limbah keramik. Ia menyebut proses mencari literatur dan riset cukup sulit karena bidang tersebut masih jarang digarap.

Dalam proses itu, IDDC turut membantu memberikan riset dan arahan desain agar produk tampil representatif. Menurutnya, dukungan tersebut penting supaya calon pembeli langsung memahami bahwa produk Lumosh berasal dari material daur ulang.

Selain aspek desain, IDDC juga menjadi tempat konsultasi untuk memetakan pasar global yang potensial. Raymond menilai masukan tersebut membantu Lumosh menentukan langkah ekspansi yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan pasar internasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!