Perubahan gaya hidup membuat risiko diabetes dan prediabetes tidak lagi hanya mengancam orang dewasa, tetapi juga anak dan remaja. Praktisi kesehatan, dr Diana Suganda, SpGK, menilai pola makan tinggi gula, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan tidur yang buruk menjadi pemicu utama. Kondisi ini disampaikan dalam talkshow bersama Frisian Flag di Tangerang Selatan, Jumat (29/5/2026).
Di tengah rutinitas yang padat, anak semakin akrab dengan makanan instan, jajanan manis, dan layar smartphone. Kebiasaan tersebut, jika berlangsung terus-menerus, dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik sejak usia dini. Karena itu, orang tua perlu memahami tanda, faktor risiko, dan langkah pencegahan sejak sekarang.
Diabetes anak dan gaya hidup
Dr Diana menyebut perubahan gaya hidup sebagai alasan kasus diabetes mulai banyak ditemukan pada usia muda. Ia menjelaskan bahwa pola makan seadanya, makanan siap saji, dan rendah gizi ikut memperburuk kondisi tubuh. Selain itu, kurang bergerak juga membuat metabolisme anak tidak bekerja optimal.
Menurutnya, anak dan remaja kini lebih sering terpapar makanan ultra-processed food yang tinggi gula, garam, dan lemak. Kebiasaan ini sering dibarengi dengan waktu bermain yang minim aktivitas fisik. Dalam jangka panjang, kombinasi tersebut dapat memicu prediabetes.
Stresor yang tinggi juga disebut berpengaruh terhadap kesehatan anak. Tekanan sekolah, pola tidur yang berantakan, dan penggunaan gawai berlebihan dapat mengganggu keseimbangan tubuh. Situasi ini membuat risiko gangguan metabolik semakin sulit dihindari.
Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dengan membatasi makanan manis. Orang tua perlu melihat pola hidup anak secara menyeluruh, mulai dari makan, bergerak, hingga tidur. Pendekatan yang konsisten akan lebih efektif menjaga kesehatan sejak dini.
Tanda awal yang perlu dicermati
Diabetes pada anak tidak selalu muncul dengan gejala yang jelas pada awalnya. Namun, orang tua perlu waspada jika anak sering haus, sering buang air kecil, atau tampak mudah lelah. Keluhan tersebut dapat menjadi sinyal awal gangguan gula darah.
Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas juga patut diperhatikan. Dalam beberapa kasus, anak tampak tetap lapar meski sudah makan cukup. Kondisi ini sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan biasa.
Prediabetes sering kali tidak menunjukkan gejala berat, sehingga pemeriksaan rutin menjadi penting. Anak dengan riwayat keluarga diabetes perlu mendapat perhatian lebih besar. Deteksi dini dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi diabetes.
Orang tua disarankan tidak menunggu sampai keluhan semakin berat. Jika ada perubahan perilaku makan, energi tubuh, atau pola buang air, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan. Langkah cepat dapat memperkecil risiko komplikasi di kemudian hari.
Pola makan sehat untuk anak
Langkah pertama pencegahan adalah memperbaiki isi piring anak setiap hari. Makanan seimbang perlu mencakup protein, sayur, buah, dan karbohidrat kompleks. Porsi gula tambahan sebaiknya dibatasi agar tidak membebani metabolisme.
Bekal rumah bisa menjadi pilihan yang lebih aman dibanding jajanan tinggi gula. Orang tua juga perlu mengurangi frekuensi minuman manis dan camilan kemasan. Kebiasaan kecil ini akan sangat berpengaruh jika dilakukan secara konsisten.
Pengaturan jam makan juga penting untuk menjaga kestabilan energi anak. Sarapan tidak boleh dilewatkan karena dapat membantu anak lebih fokus dan tidak mudah lapar berlebihan. Pola makan teratur membantu tubuh bekerja lebih seimbang.
Selain memilih makanan yang tepat, cara penyajian juga berpengaruh. Anak cenderung lebih tertarik pada makanan yang tampak menarik dan sederhana. Karena itu, orang tua bisa mengolah makanan sehat agar tetap disukai tanpa menambah gula berlebihan.
Aktivitas fisik dan tidur
Aktivitas fisik membantu tubuh anak menggunakan energi dengan lebih baik. Anak dianjurkan bergerak aktif setiap hari, baik melalui खेल, olahraga ringan, maupun aktivitas di luar ruangan. Gerak tubuh yang cukup dapat menurunkan risiko obesitas dan gangguan gula darah.
Waktu bermain di depan layar sebaiknya dibatasi secara tegas. Terlalu lama menatap smartphone atau televisi membuat anak cenderung pasif dan kurang bergerak. Kebiasaan ini juga sering membuat waktu tidur menjadi mundur.
Tidur yang cukup sama pentingnya dengan pola makan dan olahraga. Anak yang tidur larut malam lebih berisiko mengalami gangguan metabolik dan sulit mengatur nafsu makan. Karena itu, rutinitas tidur perlu dibuat lebih teratur.
Orang tua dapat membangun kebiasaan sederhana, seperti menetapkan jam tidur, mengurangi gawai sebelum tidur, dan mengajak anak bergerak bersama. Pendekatan ini lebih mudah diterima anak karena dilakukan secara konsisten dalam keluarga. Lingkungan rumah yang mendukung akan membantu perubahan perilaku berjalan lebih baik.
