Real Food Dinilai Tetap Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 11:24 WIB 2
Real Food Dinilai Tetap Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Sarden kalengan kembali menjadi perbincangan setelah sebagian pihak menilai produk itu bukan Ultra Processed Food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan menegaskan bahwa pilihan paling sehat tetap adalah real food yang minim proses dan mudah dikenali bentuk aslinya.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, mengatakan masyarakat sebaiknya tidak hanya terpaku pada label, melainkan memahami cara pengolahan makanan. Dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026, ia menilai makanan olahan menyimpan risiko karena kualitas bahan dan prosesnya tidak selalu mudah diawasi.

Real Food Lebih Sehat

Menurut dr Aru, makanan yang paling aman untuk dikonsumsi adalah real food, yakni bahan pangan yang masih dekat dengan bentuk alaminya. Ia menilai, semakin sedikit proses yang dilakukan, semakin kecil pula peluang munculnya risiko dari tambahan bahan tertentu.

Ia menjelaskan bahwa makanan olahan kerap memakai campuran bahan tambahan yang tidak selalu bisa dikontrol sepenuhnya. Meski ada regulasi, kemungkinan penyimpangan dalam proses produksi tetap bisa terjadi dan berpengaruh pada kesehatan.

Pandangan itu, kata dia, bukan sekadar soal tren hidup sehat, melainkan tentang kehati-hatian dalam memilih makanan harian. Di tengah maraknya produk kemasan, masyarakat dinilai perlu lebih cermat membaca komposisi dan memahami asal-usul makanan yang dikonsumsi.

Karena itu, real food disebut sebagai pilihan utama bagi siapa pun yang ingin menjaga kesehatan jangka panjang. Sayangnya, pilihan ini sering kalah praktis dibanding makanan siap saji yang lebih cepat disajikan.

Risiko Makanan Olahan

Dr Aru menilai makanan olahan tidak bisa dipandang sepenuhnya aman hanya karena tersedia luas di pasaran. Ia menekankan bahwa proses produksi yang panjang dapat membuka ruang bagi penggunaan bahan tambahan dalam jumlah yang sulit dipastikan oleh konsumen.

Ia juga mengingatkan bahwa risiko kesehatan dari konsumsi makanan olahan tidak selalu muncul dalam waktu singkat. Dalam banyak kasus, dampaknya baru terlihat setelah pola makan tersebut berlangsung lama dan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Menurutnya, meningkatnya kasus penyakit metabolik menjadi salah satu sinyal bahwa pola makan masyarakat perlu dievaluasi. Kondisi seperti hipertensi dan diabetes kini juga lebih banyak ditemukan pada usia muda.

Ia menyebut fenomena itu sebagai alarm bahwa makanan praktis bukan selalu pilihan terbaik untuk tubuh. Semakin sering seseorang mengandalkan produk olahan, semakin besar pula kebutuhan untuk menyeimbangkannya dengan makanan segar.

Gaya Hidup Serba Praktis

Di sisi lain, dr Aru mengakui bahwa tidak semua orang memiliki waktu untuk menyiapkan makanan segar setiap hari. Kesibukan kerja, mobilitas tinggi, dan keterbatasan waktu belanja membuat banyak orang akhirnya memilih makanan yang lebih praktis.

Ia memahami bahwa pilihan seperti itu sering kali bukan karena abai terhadap kesehatan, melainkan karena tuntutan aktivitas. Dalam situasi tersebut, masyarakat kerap mengandalkan makanan kemasan atau olahan yang mudah dibeli dan cepat dikonsumsi.

Meski demikian, ia menilai kebiasaan serba praktis perlu diimbangi dengan kesadaran gizi yang lebih baik. Konsumen disarankan tidak hanya melihat kecepatan penyajian, tetapi juga kandungan bahan dan frekuensi konsumsinya.

Menurut dia, keputusan kecil dalam memilih makanan sehari-hari dapat berdampak besar pada kesehatan tubuh di kemudian hari. Karena itu, keseimbangan antara kepraktisan dan kualitas gizi menjadi hal yang penting untuk dijaga.

Langkah Memilih Makanan Sehat

Untuk menjaga pola makan yang lebih sehat, masyarakat disarankan memprioritaskan bahan makanan segar saat berbelanja. Sayuran, buah, protein segar, dan sumber karbohidrat sederhana dapat menjadi dasar menu harian yang lebih aman.

Ia juga menyarankan agar konsumen membiasakan diri membaca label kemasan dengan teliti. Informasi tentang komposisi, kadar gula, garam, dan lemak dapat membantu masyarakat membuat pilihan yang lebih bijak.

Selain itu, porsi makanan olahan sebaiknya dibatasi agar tidak menjadi sumber utama asupan harian. Bila memang harus memilih yang praktis, konsumen dapat menyeimbangkannya dengan menu rumahan yang lebih sederhana.

Dengan langkah tersebut, masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan harian tanpa mengabaikan kesehatan. Real food pada akhirnya tetap menjadi rujukan utama bagi pola makan yang lebih aman, alami, dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!