Real Food Dinilai Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 19:53 WIB 2
Real Food Dinilai Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah sebagian pihak menilai produk itu bukan termasuk Ultra Processed Food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa real food tetap menjadi pilihan yang paling sehat.

Dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026, dr Aru menyebut proses pembuatan makanan olahan kerap tidak sepenuhnya diketahui oleh konsumen. Ia menilai, ketidakjelasan proses tersebut membuat real food tetap unggul dari sisi kesehatan.

Real Food Lebih Aman

Menurut dr Aru, real food adalah pilihan yang paling baik karena minim proses tambahan. Ia menilai, semakin sedikit tahapan pengolahan, semakin kecil pula risiko munculnya bahan yang sulit dikendalikan. Karena itu, makanan segar tetap menjadi rujukan utama dalam pola makan sehat.

Ia menjelaskan bahwa makanan olahan umumnya memakai campuran bahan tambahan yang tidak selalu mudah diawasi. Meski ada aturan yang mengatur peredarannya, risiko penyimpangan tetap mungkin terjadi. Kondisi ini, menurut dia, tidak bisa diabaikan dalam jangka panjang.

Dr Aru menilai masyarakat perlu lebih kritis saat memilih makanan harian. Ia mengingatkan bahwa label kemasan tidak selalu menjelaskan keseluruhan proses produksi. Oleh sebab itu, pemahaman tentang asal-usul makanan menjadi penting.

Dalam pandangannya, makanan yang paling sederhana justru sering memberi manfaat paling besar. Real food dinilai membantu tubuh menerima asupan yang lebih alami. Hal ini juga mendukung upaya menjaga kesehatan secara berkelanjutan.

Risiko Makanan Olahan

Dr Aru menyoroti bahwa makanan olahan dapat membawa risiko kesehatan bila dikonsumsi terlalu sering. Ia menyebut, paparan bahan tambahan dan proses industri yang panjang perlu menjadi perhatian. Dalam jangka panjang, kebiasaan itu bisa memberi dampak pada tubuh.

Ia mengaitkan maraknya penyakit metabolik dengan perubahan pola makan masyarakat modern. Menurut dia, angka kejadian penyakit kini cenderung meningkat dibandingkan masa lalu. Kondisi itu menjadi sinyal bahwa pola konsumsi perlu dibenahi.

Ia mencontohkan, usia 30 tahun saat ini sudah banyak yang mengalami hipertensi dan diabetes. Kasus penyakit metabolik pada kelompok usia muda juga disebut terus bertambah. Menurutnya, tren tersebut tidak bisa dipandang sebagai hal biasa.

Dr Aru menilai, perubahan gaya hidup berperan besar dalam lonjakan masalah kesehatan tersebut. Konsumsi makanan praktis yang tinggi garam, gula, dan lemak dinilai ikut memperburuk situasi. Karena itu, pemilihan makanan perlu dilakukan lebih sadar.

Pola Makan Praktis

Meski demikian, dr Aru mengakui tidak semua orang mampu mengandalkan real food setiap saat. Kesibukan kerja dan aktivitas harian membuat banyak orang sulit berbelanja serta memasak sendiri. Akhirnya, makanan olahan menjadi pilihan yang dianggap paling praktis.

Ia memahami kondisi tersebut sebagai realitas kehidupan masyarakat modern. Banyak orang harus mengejar waktu, sehingga pilihan makan cepat menjadi lebih dominan. Dalam situasi itu, konsumsi makanan olahan kerap sulit dihindari.

Namun, ia menekankan pentingnya keseimbangan dalam memilih makanan. Masyarakat tetap disarankan untuk tidak menjadikan makanan olahan sebagai konsumsi utama setiap hari. Jika memungkinkan, asupan harian sebaiknya tetap didominasi bahan segar.

Menurutnya, kebiasaan kecil dapat membantu memperbaiki pola makan secara bertahap. Memilih buah, sayur, dan bahan segar saat tersedia bisa menjadi langkah sederhana. Cara itu dinilai lebih realistis bagi masyarakat yang punya rutinitas padat.

Pilihan Sehari-hari

Dr Aru menegaskan bahwa upaya menjaga kesehatan tidak harus dilakukan secara ekstrem. Ia menilai, perubahan kecil pada menu harian sudah cukup memberi dampak positif. Yang terpenting adalah konsistensi dalam memilih makanan yang lebih alami.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tertarik pada klaim sehat di produk kemasan. Informasi pada label sebaiknya dibaca dengan teliti sebelum membeli. Dengan begitu, konsumen dapat membuat keputusan yang lebih bijak.

Dalam konteks kesehatan keluarga, pilihan makanan seharusnya menjadi perhatian utama. Anak-anak dan orang dewasa sama-sama membutuhkan asupan yang tidak terlalu banyak diproses. Kebiasaan makan di rumah dapat menjadi fondasi pola hidup sehat.

Pada akhirnya, dr Aru menilai real food tetap menjadi standar terbaik dalam pola makan. Makanan olahan boleh saja hadir sebagai solusi praktis, tetapi tidak seharusnya menjadi kebiasaan utama. Menurut dia, keseimbangan dan kesadaran adalah kunci menjaga kesehatan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!